Rabu, 10 Juni 2026

Kerugian Bencana Ende dan Lembata Rp 46 Miliar

Kabupaten Ende dan Lembata mengalami kerugian material akibat bencana alam selama dua pekan terakhir sebesar Rp 46.008.890.000.

Tayang:
Editor: Sipri Seko
zoom-inlihat foto Kerugian Bencana Ende dan Lembata  Rp 46 Miliar
POS KUPANG/PETRUS PITER
Dermaga pelabuhan feri Waikelo, Sumba Barat Daya, ambruk diterjang gelombang. Gambar diambil, Kamis (22/3/2012).
Laporan Wartawan Pos-Kupang.Com, Romualdus Pius dan Felix Janggu

POS-KUPANG.COM, ENDE -- Kabupaten Ende dan Lembata mengalami kerugian material akibat bencana alam selama dua pekan terakhir sebesar Rp 46.008.890.000. Dari jumlah ini, Ende merugi Rp 37.230.800,000, Lembata Rp 8.778.090.000.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ende, Maria Margaretha PE, S.Pd, mengatakan hal itu di Ende, Kamis (22/3/2012). Menurut Maria, taksasi kerugian senilai Rp 37 miliar lebih itu baru perhitungan sementara karena rekapitulasi kasus bencana alam masih terus dilakukan.

"Taksasi kerugian yang kami rekap adalah laporan tahap pertama yang kami kirim  ke pemerintah pusat maupun pemerintah propinsi. Sedangkan, laporan tahap kedua sedang kami rekap data-datanya," kata Maria.

Taksasi kerugian itu, diakui Maria, merupakan kerugian sebagai akibat bencana alam berupa kerusakan bangunan rumah, baik yang rusak berat atau ringan. Selain itu kerusakan  berupa jebolnya tanggul penahan abrasi, badan jalan, deker, bronjong serta saluran air.

Kerusakan lain menyusul bencana alam yang terjadi juga menimpa arel persawahan maupun areal pertanian dan tembok penyokong. Kerusakan pada tanaman pertanian berupa pisang, kakao, kemiri, cengkeh serta kopi. Kerusakan yang paling banyak menimpa tanaman pisang sebanyak 2. 880 rumpun serta tanaman kakao sebanyak 20.553 pohon.

Maria mengatakan, bencana alam yang terjadi saat ini merata di 21 wilayah kecamatan di Kabupaten Ende. Oleh karena itu, dia berharap agar warga segera memberikan laporan kepada pemerintah.

Tentang bantuan yang diberikan kepada korban bencana alam, Maria mengatakan, Pemkab  Ende menyiapkan dana tanggap darurat sebesar Rp 700 juta. "Kalau dari bidang saya memang tidak ada anggaran. Namun, ketika kami memberikan laporan, bupati menyatakan ada alokasi dana sebesar  Rp 700 juta. Dana itu  disalurkan lewat BPBD Kabupaten Ende," kata Maria.

Menurut Maria, dana sebesar Rp 700 juta memang tidak setara dengan penderitaan yang dialami oleh warga, namun diharapkan  dapat meringankan penderitaan.

Maria berharap sesuai dengan laporan yang mereka kirim baik ke pemerintah pusat maupun pemerintah propinsi, mendapatkan tanggapan positif. Buktinya, pusat dan propinsi memberikan bantuan  bencana alam.

Satu Meninggal

Puting beliung di Lembata mengakibatkan satu orang meninggal dunia, 40 rumah rusak berat, dua sekolah rusak, selain bangunan kantor desa dan gereja.  

Korban yang meninggal adalah Abi Mangu, warga Kelikur, Kecamatan Bayusari. Dia tewas tertimpa bangunan rumah, Jumat (16/3/2012). Ia tewas karena pohon kapuk rubuh menimpanya.

"Ketika itu ia hendak menolong ibunya. Sang ibu selamat tetapi dia meninggal dunia di tempat kejadian," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lembata, Markus Labi Waleng,  di ruang kerjanya, Kamis (22/3/2012).

"Laporan masyarakat ini masih kami verifikasi dengan cek langsung ke lapangan," katanya.

Yang paling parah, jelas Markus, ada di Lodotodokowa, Lebatukan. Halaman sekolah SDI Lodotodokowa tertimbun material tanah longsor, sehingga aktivitas belajar anak terganggu. Empat hari mereka diliburkan.  Selain bangunan SDI Lodotodokowa, bangunan SMK 1 Lamalera juga mengalami kerusakan pada atap bangunan.

Taksiran total kerugian akibat bencana itu, kata Markus, sebesar Rp. 8.778.090.000.

Terkait itu, Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur telah menetapkan kondisi darurat hingga tanggal 26 Maret 2012. Selanjutnya akan ditinjau lagi, disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Markus menambahkan, saat ini alat berat dari Dinas PU sementara di lokasi longsoran di wilayah Lodotodokowa, Lebatukan untuk membersihkan material tanah yang menutupi jalan.

Kesulitan di tempat-tempat lain di Lembata, kata Markus, adalah masalah komunikasi dan transportasi. Informasi yang diterima BPBD dari wilayah terpencil terlambat.  "Kita maklumi di beberapa kecamatan itu tidak ada sinyal, sehingga sulit berkomunikasi. Laporan dari masyarakat itu penting segera diketahui BPBD," kata Markus.

Sebelumnya  Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur memerintahkan Kepala BPBD  Lembata, Markus Labi Waleng segera merampungkan rekap data bencana akibat angin dan tanah longor di wilayah itu. "Saya akan perintahkan kepala BPBD untuk segera merekap data bencana di  Kabupaten Lembata. Sebentar saya akan tegaskan lagi kepada kepala BPDB," kata bupati di sela-sela pelantikan kepala sekolah, pengawas mata guru TK, SD dan SMP serta pengawas mata pelajaran di Aula Ankara, Lewoleba, Rabu (21/3/2012). 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved