Oleh Sipri Seko
Usul: Jadikan NTT Propinsi Olahraga
MANTAN raja tinju amatir Indonesia asal NTT, Hermensen Ballo, dikenal sebagai atlet yang sangat cerewet. Dia tahu banyak hal, meski sedikit. Dia tidak paham berpolitik, namun sering bicara politik. Dia bekerja sebagai PNS di Bidang Keolahragaan Dinas PPO NTT, padahal latar belakangnya adalah sarjana hukum.
MANTAN raja tinju amatir Indonesia asal NTT, Hermensen Ballo, dikenal sebagai atlet yang sangat cerewet. Dia tahu banyak hal, meski sedikit. Dia tidak paham berpolitik, namun sering bicara politik. Dia bekerja sebagai PNS di Bidang Keolahragaan Dinas PPO NTT, padahal latar belakangnya adalah sarjana hukum.
Hermensen Ballo sengaja dikedepankan di sini bukan karena prestasinya di tinju nasional yang hingga saat ini belum disamai petinju manapun. Dia pernah melontarkan pernyataan jenaka tentang hiruk pikuk pemilu kepala daerah di Kota Kupang. "Kalau ada calon yang berjanji akan membangun sarana olahraga lengkap dengan perlatan latihannya dan berjanji akan menomorsatukan olahraga, saya akan menggerakkan massa untuk mendukung dia. Kota Kupang adalah barometer olahraga di NTT, namun lapangan bolakaki pun Kota Kupang tak punya. Jangan janji yang lain, karena rakyat sudah bosan dengar," itu kata Hermensen.
Isi otak Hermensen hanya olahraga. Baginya, tak ada yang bisa dibanggakan di NTT, selain olahraga. Benarkah demikian? Hermensen punya banyak bukti. Dia tahu banyak suka dukanya meraih prestasi. Keegoannya terhadap olahraga, apalagi tinju, membuat dia tak pernah terkalahkan hingga pensiun tahun 2004. Juara dunia tinju profesional, Daud Cino Jordan, pernah merasakan kerasnya kepalan tinju Hermensen. Begitu 'bencinya' Hermensen, hingga permintaan pertemanan Daud Jordan di akun jejaring sosial facebook pun diabaikannya.
Olahraga memang membanggakan NTT. Bendera Merah Putih sudah sering berkibar karena prestasi yang diukir anak-anak NTT. Tak ada kebanggaan semu, karena semua dibuktikan dengan medali dan penghargaan yang dibawa pulang,
Sejak Propinsi NTT terbentuk tahun 1958 lalu, prestasi nasional dan internasional selalu menjadi langganan. Tahun 2011 saja, ada lebih dari 20 kejuaraan yang berhasil dijuarai atlet-atlet kita. Tak hanya juara nasional, tetapi mereka juga juara tingkat Asia bahkan dunia. Sebelum merebut medali perunggu di SEA Games, Deni Hitarihun merebut perunggu di kejuaraan dunia tinju King;s Cup di Thaildan dan medali perak di kejuaraan dunia di Albania.
Sudah banyak anak NTT baik sebagai atlet maupun pelatih yang meraih prestasi. Ada banyak anak NTT yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia. Sebut saja Anis Tefa, Jemi Neno, Piter Hari, Andreas Buitbesi, Dominggus Taopan, Riven Abineno, Robinson Djo (tinju), Fery Subnafeu, Osias Kalmasi, Niko Sila, Ahmad Sakeh (atletik), Boby Foenay, Yules Pulu, Kamilus de Lero (kempo), Alfred Blegur, Selviana Angelia (taekwondo) dan masih banyak lagi yang memperkuat propinsi lain di event-event nasional. Mereka juga adalah atlet-atlet nasional sering memperkuar Indonesia di berbagai event internasional. Dari sisi pelatih, kita punya banyak nama- nama yang menjadi pelatih top di propinsi lain bahkan di nasional. Sebut saja, Paulus Lay, Jhoni Asadoma dan masih banyak lagi.
NTT memang gudangnya atlet dan pelatih juara. Tahun 2011 ini saja, ada lebih dari seratus gelar juara yang mereka persembahkan untuk NTT. Mereka membuat NTT bangga di tengah berbagai tudingan miring seperti daerah koruptor, miskin, kering dan lainnya yang terasa menyakitkan. Mereka membuat sejarah yang pantas dihargai. Mereka membuat orang NTT bangga, bahwa kami juga sudah berdiri sejajar bahkan lebih dari daerah lain.
Kualitas NTT dalam pembinaan olahraga sudah mendapat pengakuan di tingkat nasional. Di tahun 2011, sedikitnya ada lima kejuaraan nasional, yakni pra PON Catur dan futsal, Kejurnas Atletik Antar=PPLP, Komodo 10K dan Kelimutu Cross Country, dimana NTT dipercaya sebagai tuan rumah. Kepercayaan yang diberikan karena kemampuan yang sudah terbukti.
Melihat catatan prestasi yang sudah diraih ini, nampaknya olahraga sudah harus menjadi nomor satu di NTT. Olahraga harus menjadi sektor unggulan pembangunan di NTT. Kalau kita bertekad menjadikan NTT sebagai Propinsi Jagung, Propinsi Cendana dan Propinsi Jagung, mengapa kita masih takut menjadikan NTT sebagai Proponsi Olahraga? Bukankah kita sudah mampu memproduksi atlet dan pelatih bukan hanya untuk NTT tetapi sudah 'dieksport? Namun ini hanya sekadar usul usil sama seperti yang dilintarkan Hermensen Ballo terkait pemilu kada Kota Kupang. (habis)