Masjid Nurussaadah Kupang Dibangun Bermodal Kerukunan
MASJID Raya Nurussa'adah Kupang nampak kusam, cat temboknya berwarna putih mulai mengelupas di sekekilingnya. Terlihat lebih jelek lagi jika pandangan mata diarahkan ke pagar temboknya, kotor.
MASJID Raya Nurussa'adah Kupang nampak kusam, cat temboknya berwarna putih mulai mengelupas di sekekilingnya. Terlihat lebih jelek lagi jika pandangan mata diarahkan ke pagar temboknya, kotor.
Masjid sebagai tempat ibadah seharusnya megah. Rumah pribadi saja oleh penghuninya dibuat bagus. Jadi, rumah ibadah harus megah dan bersih yang memberikan gambaran bahwa tempat tesebut suci dan bersih, ungkap Gubernur Nusa Tenggara Timir, Frans Lebu Raya, ketika berbicara pada pencanangan lanjutan pembangunan dan pengembangan masjid Raya Nurussa'adah, Selasa (5/4/2011) petang.
Pernyataan Gubernur NTT ini tentu bagi umat Muslim sangat menyejukkan. Apalagi diucapkan seorang kepala daerah yang kebetulan beragama Katolik. Bahwa rumah ibadah harus lebih baik dari rumah tempat tinggal, sesungguhnya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika membangun Masjid Nabawi di Madinah.
Frans Lebu Raya memahami benar akan kebutuhan umat Islam, yaitu kehadiran sebuah masjid raya di kota Kupang. Karena itu, ia mendukung dan berjanji membantu dengan dana yang besarnya tak disebutkan.
Pada bagian lain Frans Lebu Raya mengajak umat Muslim untuk saling bergandeng tangan memelihara kerukunan yang sudah baik di provinsi itu. Sebab, pembangunan bisa berjalan baik mana kala kerukunan dan saling pengertian hadir di tengah masyarakat NTT yang pluralistik.
Di Propinsi NTT, komposisi penganut agama adalah 55 persen umat Katolik, 35 persen umat Protestan, Islam sekitar delapan persen dan lainnya Buddha dan Hindu. Total penduduk NTT dewasa ini diperkirakan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2009 lalu sekitar 4, 7 juta jiwa.
Sebelumnya, pimpinan Yayasan Masjid Raya dan Pusat Dakwah Nurussa'adah Kupang, H. Moh. Djafar menyebutkan bahwa pembangunan masjid tersebut digagas para tokoh umat Islam, antara lain: Sayyid H. Muhammad Alhabsy, HOS Badjideh, H. Saleh Mandaka, H. Manyur Syah arkiang, H. Birando bin Tahir, H. Abdusyukur Ibrshim Dasi, H. Mahyan Amaraja, H. Salim bin Muhammad Djawas dan masih banyak para tokoh umat Muslim yang membangun masjid tersebut.
Pembangunan masjid itu sendiri dimulai pada 1962 dan mendapat dukungan dari Bupati Kupang W.C.H. Oematan yang menghibahkan tanah untuk lokasi masjid seluas 3.419 meter persegi.
Ia mengatakan, saat awal pelaksanaan pembangunan masjid tersebut didahului pembersihan lahan dan pengurukan yang melibatkan umat Kristen, Katolik dan Protestan di kawasan tersebut. Keterlibatan umat lain dalam mengawali pembangunan masjid itu, kata Djafar yang juga menjadi saksi bersejarah, sangat mengharukan. Pasalnya, dengan keterbatasan dana dan dukungan berupa tenaga akhirnya masjid tersebut berdiri di tengah kota Kupang.
Ia mengakui, umat Muslim di NTT tergolong minoritas. Hanya sekitar delapan persen dari total penduduk NTT. Kendati demikian, semangat kebersamaan dan kerukunan di daerah ini menggembirakan.
Terkait dengan masjid itu sendiri, ia mengakui telah mengalami pasang surut. Artinya, pembangunannya kadang mengalami kelancaran namun ada kalanya berada pada titik terbawah karena ketiadaan dana.
Pada 1965 silam, pembangunan masjid itu terhenti karena peristiwa G 30 S PKI dan kebijakan pemotongan nilai uang rupiah serta kondisi kesulitan ekonomi nasional dan daerah pada saat itu.Pembangunan masjid dilanjitkan kembali pada 1973-1974 oleh para tokoh umat Islam.
Lantas, katanya, setelah peristiwa kerusuhan Kupang, November 1998, dilakukan renovasi dibawah pimpinan yayasan HOS Badjideh dan Saleh abubakar, dengan tim pembangunan antara lain Ir. H. Jamin Habid, H. Moh. Djafar, H. Habib A. Pintar, Idin Baun. Sayang, pada 2001 pembangunan terhenti karena berbagai kendala yang dihadapi yayasan dan tim pembangunan.
Karena itu, pembangunan masjid Nurrrussa'adah dilanjutkan lagi yang ditandai peletakan batu pertama oleh Menteri Agama Suryadharma Ali. Masjid harus bagus, karena menjadi menghadap kepada Allah juga sebagai tempat menimba ilmu.agama, bermusyawarah dan pusat dakwah, kata Suryadharma Ali bersama Menteri Perumahan Rakyat, Suharso Monoharsa yang ikut menyumbang sebesar Rp 200 juta atas nama partai.
Menag menyambut gembira kelanjutan pembangunan masjid tersebut mendapat dukungan dari semua pihak. Termasuk Walikota Kupang Daniel Adoe yang memberikan kemudahan berupa perizinan dan bantuan uang sebesar Rp 50 juta.
Ketua Umum Panitia Pembanguan Masjid Nurussa'adah Kupang, Jamin Habid menjelaskan bahwa kebutuhan dana berdasarkan rancangan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) kebutuhan untuk keseluruhan item pekerjaan lanjutan sebesar Rp 5,5 miliar.
Karena itu, ia berharap semua pihak dapat membantu bagi kelanjutan pembwngunan masjid tersebut. Ke depan, Masjid Raya Nurussa'adah Kupang dapat difungsikan sebagai pusat dakwah dan kegiatan sosial lainnya.
Tetapi, yang lebih penting lagi adalah selain masjid Nurussa'adah berstatus Masjid Tingkat Propinsi NTT, menurut Menag dapat berfungsi sebagai ibadah berupa shalat, zikir, pusat silaturahmi, tabligh akbar, pusat pendidikan, pengajaran, pusat informasi Islam ran keummatan, pusat kajian dan aktivitas ekonomi dan keuangan syariah.
Dengan demikian Islam, dengan masjid Nurussa'adah di tengah kota Kupang dapat memberikan kesejukan dan kedamaian bagi seluruh umat. Islam di kota Kupang diharapkan sebagai pembawa rahmatul alamin. *