Rabu, 10 Juni 2026

Oleh Sipri Seko

Futsal Matikan Sepakbola Kota Kupang

ZEYTO Ratuarat, mantan pemain sepakbola PSK yang kini menjadi anggota DPRD Kota Kupang, punya keinginan untuk menggelar turnamen futsal. Dia ingin menggunakan GOR Flobamora, Kupang, sebagai lokasi pertandingan. Namun, niat tersebut harus ditunda dulu.

Tayang:

ZEYTO Ratuarat, mantan pemain sepakbola PSK yang kini menjadi anggota DPRD Kota Kupang, punya keinginan untuk menggelar turnamen futsal. Dia ingin menggunakan GOR Flobamora, Kupang, sebagai lokasi pertandingan. Namun, niat tersebut harus ditunda dulu.

"GOR sudah penuh. Sudah diboking untuk turnamen futsal hingga akhir bulan Mei. Selanjutnya GOR akan dipakai untuk persiapan pra PON dan sebagainya." Begitu kata Zeyto tentang alasan yang dikemukakan pengelola GOR Flobamora kepadanya.

Dibandingkan dengan cabang olahraga lain, futsal baru masuk di Kota Kupang enam atau tujuh tahun belakangan. Namun, perkembangan futsal di Kota Kupang sangat luar biasa. Dimana-mana orang bermain futsal. Bahkan, ada pengusaha yang sudah membangun gedung khusus untuk bermain futsal di wilayah Kelurahan Oesapa. Dan, yang lebih spektakuler, futsal merupakan salah satu cabang yang menjadi pertimbangan KONI Propinsi NTT untuk diikutkan ke pra PON XVIII 2012.

"Coba kalian pantau kualitas pemain-pemain kita. Kalau memang layak, kita kirim ke pra PON," begitu kata Ketua Harian KONI Propinsi NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si, kepada Dr. Jhoni Lumba, saat membuka turnamen futsal Tidar Cup di GOR Flobamora, beberapa waktu lalu.

Mengapa futsal sudah begitu "merakyat" di Kota Kupang? Mengapa futsal juga begitu cepat mendapat rekomendasi untuk diikutkan ke pra PON? Jawabannya adalah karena ada turnamen. Banyaknya turnamen yang digelar membuat skil pemain menjadi makin berkembang. Asal tahu saja, anak-anak muda kita sebenarnya tidak suka saling sikut, adu jotos, baku lempar, baku hujat dan lainnya yang sudah sering kita lihat di pertandingan sepakbola.

Mereka ingin mengembangkan hobinya dengan bebas. Mereka melihat potensi itu ada di futsal, yang permainannya masih "berkeluarga" dengan sepakbola. Di futsal, mereka bebas mengekspresikan kemampuannya mengolah bola. Lihat saja, Castelo Branco. Pemain klub Dinamit ini nampak masih kaku saat pertama bermain bersama Marian Soares dkk. Namun dia kemudian menjadi bintang dan mengantar timnya hingga final, karena memiliki kemampuan mengolah bola.

Dan, inilah yang menarik dari futsal. Tidak seperti sepakbola yang lebih mengandalkan skil dan fisik, di futsal harus ada yang disebut softskill. Pemain futsal harus memiliki kesetiaan, komitmen, daya juang tinggi, kerjasama (team work), setia kawan dan tidak jangan lupa tentang kedewasaan atau kematangan. Akan menjadi kontraproduktif jika punya skill bagus tapi mainnya manja, suka trik (curang), diving, gampang emosi, dan lain-lain. Di futsal, seorang pemain dituntut untuk memiliki keagresifan, inisiatif untuk melakukan sesuatu, skill dalam mengantisipasi berbagai kondisi, keberanian bertindak, ketenangan dalam melakukan sesuatu, konsentrasi, kreativitas, jiwa kepemimpinan, kemampuan menempatkan diri tanpa harus memegang object, feeling, daya kerja, kemampuan untuk mengorbankan tenaga, stamina, waktu, dan lainnya.

Ternyata sudah banyak anak-anak Kupang yang memiliki semua syarat di atas. Entah bosan karena kepengurusan (PSSI) yang ada hanya beraktivitas kalau ada yang menggelar turnamen  atau saat El Tari Memorial Cup dan Piala Gubernur, di futsal mereka tak pernah bosan bermain. Harga mahal untuk pendaftaran menjadi peserta bukan menjadi ukuran. Kekalahan bukan penghalang, karena yang terpenting adalah mereka sudah memiliki wadah untuk mengekspresikan kemampuan dan potensi dirinya.

Ke depan, futsal akan semakin marak. Di jalan-jalan, di halaman rumah, di lapangan bolavoli, lapangan bolabasket bahkan di lapangan sepakbola pun mereka akan bermain futsal. Apakah ini pertanda sepakbola di Kota Kupang sudah mati suri sehingga futsal begitu cepat berkembang?

Sepakbola tetap olahraga rakyat. Sepakbola tidak bisa digeser. Sepakbola tetap menembus batas dan kepentingan. Benarkah demikian? Mungkin manajemen pengelolaan sepakbola yang masih penuh kepentingan harus dihilangkan. Kepengurusan jangan lagi dibentuk untuk menggolkan kepentingan. Semoga bukan itu penyebabnya. Satu tekat kita, sepakbola jalan, futsal tetap digelar, prestasi akan datang untuk Kota Kupang. **

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved