UKAW Lahir dari Implementasi Gereja
KUPANG, POS KUPANG.com--Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang yang lahir pada 4 September 1985 bukanlah sebua peristiwa tunggal. Kehadiran UKAW 25 tahun lalu itu merupakan perjalanan panjang implementasi misi Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) dan Gereja Kristen Sumba (GKS).
KUPANG, POS KUPANG.com--Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang yang lahir pada 4 September 1985 bukanlah sebua peristiwa tunggal. Kehadiran UKAW 25 tahun lalu itu merupakan perjalanan panjang implementasi misi Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) dan Gereja Kristen Sumba (GKS).
Hal ini disampaikan Pdt. Drs. Mesach Bee, M.Si pada seminar bertema Refleksi 25 Tahun Sejarah Perkembangan dan Proyeksi Masa Depan UKAW di Kampus UKAW, Jumat (17/9/2010). Seminar sehari ini untuk memeriahkan Lustrum ke-5 UKAW.
Hadir dalam seminar tersebut antara lain Ketua Pembina Yayasan UKAW, Drs. Djidon de Haan, mantan Rektor UKAW, Pdt. Dekker Mauboy, S.Th, para dosen dan mahasiswa UKAW.
Mesach Bee yang juga pengajar di UKAW yang membahas mengenai landasan spiritual pendirian UKAW ini menyebutkan titik awal perjalanan panjang misi gereja (khususnya GMIT) di bidang pendidikan kader intelektual tingkat akademik, yakni membuka School Tot Opleiding Voor Inlands Leraars (Stovil) di Ba'a, Rote tahun 1902. Ini dipelopori oleh Ds.Le Grand.
"Lembaga pendidikan ini hendak mencetak tenaga- tenaga pendidik pribumi profesional, baik sebagai guru sekolah maupun guru jemaat," jelasnya.
Selanjutnya pada tahun 1926, katanya, Stovil dipindahkan ke Kupang dan setelah lima tahun berjalan atau pada tahun 1931 sekolah ini ditutup karena para siswanya dicurigai terlibat dalam gerakan kemerdekaan RI. Stovil kemudian dibuka lagi di SoE pada tahun 1936 dan berjalan hingga pecah perang dunia II dan dibuka lagi tahun 1949.
Tahun 1952, Stovil SoE diintegrasikan ke Sekolah Tinggi Teologi Makassar untuk kawasan Indonesia bagian timur. "Pendeknya, Stovil merupakan langkah awal dalam sejarah panjang intervensi misi gereja di bidang pendidikan tinggi. Dari Stovil ke UKAW, perjalanan itu telah menempuh jarak 83 tahun," jelasnya.
Ditegaskannya bahwa masyarakat ilmiah Kristen tidak hidup dalam dua dunia yang terpisah, dunia iman dan dunia sains. Begitu pula warga UKAW tidak dibentuk secara dualistik, antara nilai-nilai Kristen dan nilai-nilai keilmuan. "Kita juga catat bahwa tidak ada ilmu pengetahuan Kristen. Ilmu pengetahuan bersifat universal. Ilmu tidak dapat diklaim sebagai milik atau produk untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu. Ilmu sebagai pengetahuan metodis, logis dan sistematis, bebas dari nilai-nilai primordial," jelasnya.
Nilai Kristen
Dia menjelaskan, penguasahan, pengembangan dan pengalaman ilmu dapat dipacu dan diwarnai nilai-nilai iman Kristen. "Kita beriktiar bahwa nilai-nilai iman Kristen dan nilai-nilai sains merupakan duet dialektis. Artinya, antara iman dan ilmu terjadi proses aksi refleksi secara hermeneutis untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang inovatif. Dalam proses itu, nilai-nilai iman Kristen semakin memberi warna atau karakter kepada ilmu pada satu sisi dan pengupayaan ilmu pun semakin manusiawi pada sisi lain," jelasnya.
Pembicara lainnya, Drs. Yulius Riwu Kaho dalam materinya mengatakan mendirikan dan membangun UKAW merupakan cita-cita sangat luhur tapi kendala yang menghadang hampir sama besar. Kalau para pioner tidak berani mengambil langkah terobosan, mimpi akan tetap tinggal mimpi.
"Periode sekarang, kita tetap bermimpi. Mimpi canggih seiring semangat jaman. Tapi kendala pasti lebih rumit, diperlukan manusia UKAW yang siap inisiasi ulang untuk menjadi penerobos, bukan penerabas," jelasnya. (alf)