Laporan Edy Bau
Penyuluh di Flotim Pantau Lahan Petani
LARANTUKA, Pos Kupang.Com---Menghadapi musim tanam tahun ini di Kabupaten Flores Timur (Flotim) ditambah curah hujan yang tidak menentu di wilayah ini, para penyuluh diminta untuk memantau/monitor lahan petani.
LARANTUKA, Pos Kupang.Com---Menghadapi musim tanam tahun ini di Kabupaten Flores Timur (Flotim) ditambah curah hujan yang tidak menentu di wilayah ini, para penyuluh diminta untuk memantau/monitor lahan petani.
Hal ini dikatakan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan penyuluhan Flores Timur (Flotim), Ir. Donatus Lamabelawa, ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (14/09/2010).
Dikatakannya, kehadiran penyuluh di tengah petani sangat penting mengingat perubahan cuaca dengan curah hujan berbeda dari tahun sebelumnya, maka sangat berpengaruh terhadap persiapan lahan dan benih petani.
"Saya sudah perintahkan para penyuluh untuk memantau/monitor persiapan lahan dan benih petani karena kita segera memasuki musim tanam di bulan Oktober hingga Maret," kata Lamabelawa. Langkah ini, lanjutnya, untuk mengantisipasi terjadinya gagal tanam yang nantinya berdampak pada rawan pangan.
Menyikapi perubahan cuaca yang ditandai curah hujan yang tidak menentu tahun ini, kata Lamabelawa, pemerintah harus peka terhadap kondisi alam sekarang ini. "Akibat curah hujan tidak menentu, sebagian masyarakat di Flotim bahkan sudah panen. Hal ini akibat curah hujan yang berbeda dari tahun sebelumnya. Meski demikian, peluang hujan di musim tanam Okotober-Maret masih ada. BMG diminta untuk selalu menginformasikan kepada masyarakat tentang perubahan cuaca dan curah hujan," katanya.
Mengenai cadangan pangan masyarakat, Lamabelawa menjelaskan, saat ini ketersediaan pangan masih aman hingga memasuki musim tanam bulan Oktober. "Stok beras pemerintah masih 1.800 ton equivalen beras/EB. Sedangkan persediaan pangan masyarakat berdasarkan angka ramalan II (periode) Juni 2010 Flotim mengalami surplus karbohidrat sebanyak 14.853 ton EB dan protein nabati surplus 2.796 ton EB," papar Lamabelawa.
Menurut dia, rawan pangan sering terjadi bukan karena ketersediaan pangan habis, melainkan perubahan pola konsumsi masyarakat. "Persediaan pangan seperti ubi-ubian, jagung, sorgum, pisang dan jewawut selalu cukup. Rawan pangan sering terjadi lantaran perubahan pola konsumsi yang beralih ke nasi. Dan pemerintah sudah berkomitmen untuk mendorong masyarakat mengonsumsi pangan lokal non beras dan terigu yakni pola makan 3B yang beragam, bergisi dan berimbang," tukasnya. (gg)