Breaking News:

Oleh Dr. Paul Budi Kleden, SVD

Sekolah, Candu Masyarakat?

GERBANG sekolah kembali dibuka. Halaman sekolah kembali dibanjiri murid dan guru. Lonceng tanda dimulainya tahun sekolah yang baru dibunyikan, seolah melepas kapal yang akan berlayar selama setahun. Wejangan kepala sekolah memberi motivasi dan peneguhan.

Bersamaan dengan itu, sejuta harapan dirangkai, tekad dibulatkan dan komitmen dibarui, secara pribadi maupun bersama. Harapan, tekad dan komitmen itu pasti lebih teguh pada murid yang akan menghadapi ujian akhir di penghujung tahun sekolah, dan para guru yang mendampingi mereka. Para murid hendak mencapai sukses, sementara para guru tidak mau mengulangi kegagalan tahun silam. Tahun sekolah ini menjadi tahun kerja keras dan usaha istimewa.

Namun, ada orang yang memandang dengan tatapan penuh keraguan. Beberapa waktu lalu diterbitkan sebuah buku tentang pendidikan yang berjudul 'Sekolah itu Candu', karya Roem Topatimasang (Jogyakarta: Insist Press 2007). Buku ini memuat refleksi kritis mengenai pendidikan sekolah yang dinilai mengasingkan anak dari lingkungannya. Ke sekolah berarti ke rumah asing, mengenal istilah asing, berhadapan dengan masalah asing, berbicara bahasa asing, dan akhirnya membawa orang ke tempat asing. Anak-anak harus berhadapan dengan bahan ajar asing, sistem asing, pertanyaan ujian asing, yang akhirnya membuatnya tidak percaya diri lalu mengalami kegagalan. Sekolah seperti ini tidak memperkaya, sebaliknya mempermiskin masyarakat, sebab dia lebih banyak menjadi beban daripada mendatangkan keuntungan bagi masyarakat.

Tentu konsep di atas sangat negatif. Kendati demikian, dia mengingatkan kita akan relasi penting antara sekolah dan masyarakat yang mesti dipikirkan secara serius. Sekolah bukan sekadar tempat untuk melewatkan serentang waktu. Lebih dari itu, sekolah merupakan sebuah tempat untuk pembentukan, yang dapat sungguh membentuk atau juga dapat membentuk salah seseorang. Sekolah dapat menjadi tempat seorang manusia muda sungguh belajar menghargai diri, kehidupannya dan kehidupan orang lain, atau justru membuatnya putus asa, merasa rendah diri, membenci diri dan orang lain dan hidup dalam kemurungan seumur hidup. Yang terbentuk di sekolah adalah warga masyarakat, dan masyarakat dibentuk oleh para lulusan sekolah. Sebab itu, patutlah bahwa masyarakat mempunyai keprihatinan besar terhadap sekolah.

Namun, perlu disadari bahwa sebelum sekolah mempengaruhi masyarakat, sekolah sering sudah terlebih dahulu ditentukan oleh masyarakat. Brutalitas dan kesediaan menggunakan kekerasan di dalam sebuah masyarakat ditunjukkan juga di halaman sekolah dalam berbagai kelakuan dan tingkah anak. Struktur otoritas yang ada di dalam masyarakat dipamerkan di tempat bermain di sekolah: entahkah yang disegani adalah yang pintar dan mempunyai otak, ataukah yang mempunyai otot dan tinju yang mudah dikepalkan, atau uang dan kekayaan yang dipamerkan? Nilai mana yang tengah dikejar di dalam masyarakat dapat dilihat di sekolah: apakah nilai persahabatan atau kekuatan, nilai keindahan atau kekerasan? Kalau demikian, sebelum sekolah menghasilkan manusia untuk hidup dan berkarya di dalam masyarakat, sekolah sudah terlebih dahulu dihasilkan oleh masyarakat.

Untuk memperkuat harapan, tekad dan komitmen yang dibarui murid dan guru pada tahun sekolah, masyarakat pun perlu membarui tanggung jawabnya dalam keseluruhan proses pendidikan. Karena pendidikan di sekolah adalah sebuah proses yang dapat dilihat dalam rangkaian input, proses dan output, maka peran masyarakat perlu dilihat dalam ketiga tahapan pendidikan ini. Pertama, pada level input. Input bisa datang dari berbagai pihak yang berkepentingan dalam sebuah mekanisme. Berkaitan dengan pendidikan, beberapa elemen yang bisa disebut sebagai input adalah kaum muda yang dididik, materi yang diberikan dan keuangan yang mendukung kegiatan pendidikan.

Input paling utama manusia yang dididik di sekolah. Yang masuk ke sekolah pertama-tama adalah manusia yang harus dan hendak dididik. Di sini kita berhadapan dengan dua hal penting. Di satu pihak mereka adalah manusia yang harus dididik, karena misalnya tuntutan negara yang mewajibkan pendidikan sampai batas usia tertentu atau karena kewajiban moral yang diemban sebuah lembaga pendidikan atau pun karena tanggung jawab moral orangtua terhadap anak-anaknya. Namun, pendidikan sebagai sebuah proses pembentukan watak manusia tidak hanya dapat mengandalkan keharusan. Faktor lain yang sangat penting adalah kemauan atau kehendak. Persoalan kehendak adalah motivasi untuk belajar. Hanya apabila orang sungguh memiliki motivasi untuk belajar, dia akan senang ke sekolah.

Di sini peran masyarakat sungguh penting. Keharusan belajar yang digariskan orangtua, negara maupun lembaga pendidikan, mesti didukung oleh pembentukan motivasi yang menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat. Apabila di dalam satu masyarakat orang yang tidak bersekolah justru mendapat peluang hidup lebih bermutu hanya karena ada koneksi dengan pejabat, maka dapat dipastikan bahwa di dalam masyarakat seperti itu motivasi untuk belajar sangat rendah. Kalau orang tidak mendapat pekerjaan berdasarkan kualifikasi pendidikan dan keterampilan yang telah diperolehnya, tetapi semata-mata karena relasinya dengan pihak tertentu, maka tidak banyak orang dari kaum miskin yang bermotivasi untuk sekolah.

Input kedua adalah bahan atau materi pendidikan. Bahan pendidikan atau sekolah mestinya berangkat dari konteks masyarakat. Termasuk dalam bahan adalah nilai. Di sekolah ditransfer pengetahuan dan ditanamkan nilai-nilai yang dipandang penting. Nilai ditanamkan melalui kehadiran orang tertentu. Sekali lagi di sini menjadi sangat penting peran masyarakat. Nilai yang diajarkan di sekolah harus sejalan dan didukung oleh nilai yang berlaku di dalam masyarakat.

Input ketiga adalah keuangan. Tidak ada sekolah gratis. Ide sekolah gratis adalah konsep yang menyesatkan. Sekolah merupakan suatu investasi yang mahal. Tuntutan finansial ini mesti dicukupkan oleh negara yang mengelola keuangan masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat dibebaskan dari keharusan membiayai sendiri pendidikan warganya. Persoalan yang terkait dengan pendanaan adalah konsekuensi pemerintah untuk mengalokasikan dana untuk pendidikan dalam besaran sebagaimana ditentukan undang-undang, dan masalah penanggung jawab keuangan. Apabila kepala sekolah harus dibebani dengan urusan pengelolaan proyek bangunan sekolah, misalnya, maka konsentrasi pada tugas pengelolaan pendidikan dapat diabaikan.

Kedua, proses pendidikan sebagai mekanisme yang ditempuh agar input yang diperoleh sampai pada hasil yang dikehendaki. Hal utama dalam proses pendidikan adalah kurikulum, sistem pendidikan dan tenaga pendidikan. Sistem pendidikan mengatur penjenjangan dan jenis pendidikan yang diakui atau yang dimungkinkan. Kurikulum mengurus cakupan dan metode transfer pengetahuan dan penanaman nilai. Kurikulum selalu mengandung filosofi pendidikan tertentu. Tenaga pendidikan dibutuhkan untuk menjalankan kurikulum dalam bingkai sistem yang ada.

Persoalan yang kita hadapi dalam dunia pendidikan kita adalah sentralisasi dan mental sentralisme. Pendidikan kita masih sangat bersifat sentralistis, sehingga kemungkinan yang diberikan kepada masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan ternyata tidak membuka banyak peluang bagi sesuatu yang sungguh menunjukkan kekhasan lembaga pendidikan bersangkutan. Negara hendak mengatur segala sesuatu. Kesulitan ini didukung oleh mental sentralisme yang masih bercokol kuat dalam diri insan pendidikan kita. Kita masih sangat merasa aman berkiblat ke pusat. Inisiatif lokal tidak ditumbuhkan karena dibayang-bayangi rasa takut akan mendapat kesulitan.

Ketiga, output, yakni hasil pendidikan, berupa manusia yang memiliki kualitas dan kualifikasi tertentu. Kualitas berkenaan dengan mutu pengetahuan, sementara kualifikasi berkaitan dengan kompetensi teoretis dan praktis tertentu.

Persoalan yang dihadapi bertalian dengan kedua hal di atas. Cakupan pengetahuan sering tidak cukup luas dan mendalam, karena keterbatasan bahan dan penguasaan metodis dalam mengajar. Selain itu, sistem ujian pilihan ganda dapat menghasilkan orang-orang yang kurang memiliki daya juang yang tinggi dan memiliki kepastian dalam pengetahuan. Orang cukup berspekulasi dan menerka, siapa tahu bisa lulus. Maka kita menjadi bangsa yang mengandalkan spekulasi dan menerka, dari terka arah angin sampai terka kupon putih. Masyarakat yang menerima output sekolah seperti ini akan menjadi masyarakat korup yang suka mencari jalan pintas, yang memiliki semangat juang yang rendah. 

Ketika UAN menjadi sebuah momok, ada bahaya bahwa seluruh proses belajar terarah kepada UAN. Ujian menjadi sebuah tekanan yang memaksa. Akibatnya, para lulusan dari sekolah-sekolah tidak bekerja tanpa tekanan dari luar. Hanya apabila ada tekanan dari luar, cuma apabila ada ancaman, maka dia akan belajar. Dengan ini inisiatif untuk belajar mundur. Masyarakat yang terbentuk oleh para lulusan seperti ini hanya jadi orang yang diperintah, tidak dapat berinisiatif. Masyarakat seperti ini tetap gampang diperbudak.

Sekolah tidak harus dan tidak boleh dibiarkan menjadi candu. Sekolah tidak perlu menjadi hantu yang menakutkan warga dan murid. Untuk itu, ketika memulai tahun sekolah, masyarakat perlu menyadari relasinya dengan sekolah. Pengaruh negatif mesti dikurangi, sementara kontribusi positif untuk menunjang kegairahan proses pendidikan harus ditingkatkan. Saat gerbang sekolah kembali dibuka, tidak hanya guru dan murid, masyarakat pun mesti membarui harapan, tekad dan komitmennya untuk pendidikan. *



Staf Pengajar STFK Ledalero, Maumere-Flores

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved