Selasa, 9 Juni 2026

Laporan Edy Bau

Peserta Olimpiade MIPA Matim Telantar

BORONG, Pos Kupang.Com -- Enam peserta Olimpiade Matematika dan IPA (MIPA) asal Kabupaten Manggarai Timur (Matim) ditelantarkan. Mereka tidak didampingi guru dan staf Dinas PPO Matim, tapi hanya diberi uang transportasi pergi- pulang (PP) Kupang-Borong masing-masing Rp 300 ribu.

Tayang:

BORONG, Pos Kupang.Com -- Enam peserta Olimpiade Matematika dan IPA (MIPA) asal Kabupaten Manggarai Timur (Matim) ditelantarkan. Mereka tidak didampingi guru dan staf  Dinas PPO Matim, tapi hanya diberi uang transportasi pergi- pulang  (PP) Kupang-Borong masing-masing Rp 300 ribu.

Seperti disaksikan Pos Kupang, Sabtu (29/5/2010), enam peserta olimpade MIPA yang terdiri dari satu siswa dan lima siswi ini menumpang Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Balibo dari Aimere tujuan Kupang untuk mengikuti kegiatan Olimpiade MIPA tingkat SMA di ibukota propinsi di Kupang. Enam peserta ini berasal dari SMAK Pancasila Borong. Mereka mabuk perjalanan tanpa ada perhatian.

Kepada Pos Kupang, peserta olimpiade ini mengaku tidak ada guru ataupun pegawai Dinas PPO setempat yang mendampingi mereka. Mereka cuma diberi uang transport Rp 300 ribu/siswa. "Tidak ada guru yang mendampingi kami. Kami dikasih uang Rp 300 ribu per orang. Ada dua teman mabuk, tapi tidak ada yang memperhatikan kami," kata salah satu peserta yang tidak mau namanya dikorankan.

Mereka juga takut berbicara karena takut dimarahi pihak sekolah. Menurut mereka, kepala sekolah hanya mengantar  sampai di dermaga feri Aimere.

Kepala SMAK Pancasila Borong, Romo Aleksius Saridin Hiro, Pr, saat dihubungi Pos Kupang, Minggu (30/5/2010), membenarkan tidak ada guru yang mendampingi enam peserta olimpiade MIPA asal Matim.

Pihak sekolah, katanya, hanya memberikan uang transport pergi pulang. "Sedangkan akomodasi ditanggung propinsi. Tidak ada guru atau pegawai yang mendampingi mereka. Dinas PPO Kabupaten Matim mengaku tidak ada dana untuk kegiatan lomba ini," kata Romo Leksi.

Kadis PPO Matim, Drs. Wihelmus Deo, yang dikonfirmasi terpisah melalui ponselnya, Minggu (30/5/2010), membenarkan Dinas PPO Matim tidak punya dana untuk mengikuti kegiatan itu.

Menurut Deo, biaya untuk kegiatan seperti itu bisa diambil dari dana bantuan operasional sekolah (BOS). "Propinsi banyak kegiatan, tapi tidak semua kegiatan itu harus kita ikut. Yang menjadi prioritas Dinas PPO sekarang adalah menyukseskan lomba pidato di Surabaya bulan Juni 2010 dan olahraga bela diri yang sekarang pesertanya  sudah dikarantina. Saya sudah bilang supaya tidak usah ikut kegiatan itu, tapi kepala sekolah mengatakan bisa swadaya. Jadi kalau sekolah tidak mampu tidak usah paksa diri ikut kegiatan itu," kata Deo. (gg)

Kadis PPO Harus Ditindak

KETUA Lembaga Monitoring Independen (LMI) Cabang Manggarai Timur (Matim), Marsel Pelealu, yang saat itu menumpang satu kapal dengan Pos Kupang dan para peserta Olimpiade MIPA  dari Aimere ke Kupang, menyatakan penyesalannya mengapa sampai anak-anak ini ditelantarkan dan mengikuti kegiatan tanpa guru ataupun pegawai pendamping. 

"Urus enam peserta saja kok tidak bisa? Kalau terjadi sesuatu terhadap anak-anak ini, bagaimana?" tanya Pelealu. 

Kepala sekolah dan kepala Dinas PPO Matim, lanjutnya, harus memperhatikan anak-anak peserta kegiatan itu. "Anak-anak yang mewakili kabupaten harus diperhatikan dan difasilitasi pemerintah. Saya heran pemerintah tidak punya dana untuk fasilitasi anak-anak ini. Bupati Matim harus menindak kepala dinas," kata Pelealu.

Dia minta agar pihak sekolah dan dinas menjamin keselamatan anak-anak itu agar orangtua tidak mengkhawatirkan mereka. (gg)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved