Laporan Obby Lewanmeru
Cuaca Buruk, Hasil Tangkapan Ikan Turun
KUPANG, POS-KUPANG.Com -- Hasil tangkapan ikan para nelayan di Kota Kupang sepekan terakhir menurun drastis. Hal ini akibat cuaca di perairan Kupang dan NTT umumnya memburuk.
Hal itu disampaikan Bernadus Adoe, dan Melkias, dua pedagang ikan di Pasir Panjang saat ditemui Pos Kupang, Sabtu (16/1/2010).
Keduanya mengungkapkan, selama sepekan terakhir hasil tangkapan nelayan amat kurang karena kebanyakan nelayan tidak melaut lantaran gelombang laut sangat tinggi.
Menurut Adoe, jika dipersentasekan, maka hasil tangkapan ikan saat ini turun sekitar 70 persen. Itu terlihat dari banyaknya ikan yang dijual.
"Ikan yang dijual saat ini kurang sekali. Sebabnya, kebanyakan nelayan tidak melaut karena cuaca buruk. Tapi ada beberapa nelayan yang berani melaut, sehingga masih ada ikan segar yang dijual di pasar-pasar," ujar Adoe.
Dia menjelaskan, seperti lazimnya, setiap kali memasuki musim hujan para nelayan umumnya tidak berani melaut. Dampaknya, persediaan ikan sangat kurang. Keadaan ini yang menyebabkan harga ikan sangat mahal.
Melkias, pedagang lainnya, mengatakan, kondisi cuaca seperti sekarang, menyebabkan hasil tangkapan praktis berkurang. Konsekuensinya, pendapatan nelayan dan pedagang juga menurun.
"Memang masih ada beberapa nelayan yang melaut. Tapi hasil tangkapan tidak banyak. Ikan yang diperoleh itu umumnya kakap merah dan kakap putih serta beberapa jenis ikan lainnya. Harganya juga naik. Dan, itu sangat kami rasakan," kata Melkias. (*)
Harga Ikan Melonjak
STENLY, pedagang ikan yang ditemui terpisah mengatakan, harga ikan basah selama sepekan terakhir ini, cukup mahal. Kondisi ini dipengaruhi oleh ketersediaan ikan di pasaran tidak sebanding dengan permintaan konsumen.
Dia mencontohkan, harga ikan kakap putih yang dijual saat ini Rp 35.000,00/ekor, padahal sebelumnya Rp 25.000,00/ekor. Begitu juga kakap merah, saat ini dijual dengan harga Rp 100.000,00/ekor hingga Rp 125.000,00/ekor.
"Rata-rata ada kenaikan harga ikan basah hampir pada semua pedagang dan nelayan. Umumnya harga itu disesuaikan dengan ukuran besar kecilnya ikan," ujar Stenly.
Pantauan Pos Kupang di Pasar Kasih Naikoten I Kupang, harga ikan relatif mahal. Harganya naik hampir dua kali dari harga sebelumnya. Rata-rata harga ikan naik mencapai 50 persen.
"Kami yang jual ikan di pasar ini selalu sesuaikan dengan harga beli dari nelayan. Kalau harga ditingkat nelayan naik, berarti kami juga menaikan harga jual," kata seorang penjual ikan di Pasar Kasih Naikoten I Kupang, Minggu (17/1/2010) siang. (*)
Nelayan Enggan Melaut
GELOMBANG tinggi yang melanda sejumlah perairan di laut Timor sepekan terakhir, membuat nelayan di Kupang takut melaut. Sejak Sabtu hingga Minggu ( 16 -17/1/2010), nelayan di Oesapa, Pasir Panjang dan Namosain umumnya beristirahat.
Di antara mereka, ada yang mengisi waktu luangnya dengan memperbaiki alat penangkapan ikan yang rusak.
Nelayan lainnya memilih beristirahat sambil menunggu cuaca membaik. Dan ada pula yang sedang mengamati perahunya, jangan sampai tali jangkar putus akibat hantaman gelombang besar. Sementara puluhan perahu motor yang biasa digunakan mencari ikan, umumnya ditepikan di pinggir pantai.
Gasper Afen Pah, Jon Liu, dua nelayan yang ditemui di Pantai Oesapa, mengatakan, perubahan cuaca itu sudah dirasakan sejak sepekan terakhir.
"Kami sudah berhenti melaut selama satu minggu lebih. Gelombang laut terlalu tinggi karena hujan disertai angin kencang. Keadaan seperti ini memang sangat berbahaya kalau kami melaut," kata Gasper dibenarkan Jon Liu.
Sementara itu, Flori Parera, nelayan lainnya, mengatakan, saat ini semua nelayan tidak berani melaut. Sebab mereka sudah mengetahui kondisi cuaca di laut. Selain itu, mereka juga belajar dari pengalaman sebelumnya.
"Dari pengalaman yang kami alami, kalau ada tebal dari arah Rote, maka gelombang laut sangat berbahaya. Keadaan itu tidak mungkin kami berlayar untuk mencari ikan. Tapi kalau awan dan angin dari Sulamu, itu kami masih bisa melaut tapi tetap waspada," ujar Parera.
Dia menyebutkan, nelayan yang biasanya membuang pukat di sekitar air pasang surut, sampai saat ini tidak bisa berbuat apa-apa karena gelombang terlalu besar.
Parera juga mengakui, hampir sebulan terakhir, bagan-bagan milik pengusaha ikan di Oesapa juga sudah dipindahkan ke perairan yang aman di Sulamu. "Bagan -bagan itu berjumlah sekitar 30-an unit dan sampai sekarang tidak beroperasi. Kecuali memasuki akhir bulan Maret baru keadaan ini mulai normal," ujarnya. (*)