Laporan Obby Lewanmeru

Warga Oebobo Jual Buah Lontar

KUPANG, POS-KUPANG.Com -- Akhir-akhir ini sejumlah warga Oebobo, Kota Kupang, menjual buah lontar segar yang biasa disebut saboak. Warga setempat menggeluti usaha ini karena permintaan saboak cukup tinggi, terutama oleh warga keturunan Tionghoa dan orang Jawa.


Hal itu disampaikan Finus Taus salah seorang penjual buah lontar, saat dtemui Pos Kupang, Minggu (18/10/2009) siang. "Penjualan buah saboak ini hanya empat bulan saja, yakni Agustus hingga November," ujar Faus.

Menurut Faus, penjualan saboak itu sangat tergantung pada produksi pohon lontar. Jika produksinya bagus, maka buah lontar yang dijual pun cukup banyak.

"Di Kota Kupang ini tidak banyak orang yang jual buah lontar. Makanya kami manfaatkan kesempatan ini.  Selama ini penjualan saboak cukup lancar karena permintaannya cukup banyak," ujar Taus.

Menurut dia, selama menjual buah lontar ini setiap hari ia mendapat uang cukup banyak, berkisar Rp 300.000,00 hingga Rp 400.000,00. Saboak itu banyak digemari oleh orang Cina atau warga keturunan Tionghoa dan sebagiannya orang jawa.

Tentang harga buah lontar itu, ia mengatakan, selama ini mereka menjual dengan harga Rp 1.000,00/tiga buah. Dalam sehari, mereka menjual buah lontar muda itu tidak kurang dari 1.000 buah.

"Yang jual buah lontar ini kami ada enam orang. Tapi tiga orang sudah berhenti sehingga tinggal saya dan tiga orang lain, yaitu Amos, Joni dan Vinsen. Kami biasa jual di toko-toko, ruko dan pasar," jelas Taus.

Dikatakannya, bila ingin menjual saboak, maka buah lontar itu harus diambil masih muda. Kalau terlambat dipetik, maka buah itu sudah mengeras dan tidak bisa dikonsumsi lagi. Biasanya, buah lontar yang sudah melewati batas matang itu dijadikan pakan ternak.

"Memang banyak orang ingin makan buah ini, tapi bukan untuk jual. Makanya kami manfaatkan kesempatan ini. Bagi kami, menjual buah lontar ini bisa dapat uang. Saya sendiri dalam satu bisa dapat uang lebih dari Rp 1 juta. Dan kalau saya petik banyak, pasti hasilnya pun lebih banyak lagi," tuturnya.

Menyinggung kepemilikan pohon lontar itu, ia mengatakan, mereka tidak semuanya memiliki pohon lontar. Makanya biasanya mereka meminta pada yang empunya pohon. "Biasanya kami minta dan yang punya pohon juga izinkan kami untuk petik," imbuhnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved