Gedung Walikota Kupang, Cermin Arsitektur Tradisional NTT
KUPANG, POS KUPANG. com -- Peneliti Arsitektur Vernakular NTT, Ir. Philipus Jeraman, MT menilai, arsitektur tradisional NTT pada gedung kantor Walikota Kupang menampilkan ciri lokal arsitektur NTT. Di gedung itu ditemukan perpaduan antara arsitektur modern pada tubuh bangunan, arsitektur tradisional Sumba pada atap utama, arsitektur Ngada pada canopy tangga dan arsitektur Atoni (Dawan) pada entrance.
"Unsur lokalitas pada kantor walikota itu mengisyaratkan kekayaan arsitektur tradisional NTT, kendati belum secara keseluruhan mewakili suku-suku yang ada di NTT," kata Jeraman kepada wartawan di sela-sela acara TKI-MAI XXV di Kampus Teknik Unwira, Kupang, Sabtu (17/10/2009).
Menurut Jeraman, setidaknya ada 10 ragam arsitektur di NTT yang berkaitan dengan seni budaya tradisional dan adat setempat yang hingga kini masih berkembang dalam kehidupan masyarakat NTT.
Kesepuluh ragam arsitektur itu, kata Jeraman, diantaranya arsitektur tradisional Belu, Atoni, Rote, Sabu, Sumba, Manggarai, Ngada, Ende-Lio, Lamaholot, dan Alor. Dikatakannya, arsitektur tradisional tersebut merupakan aset bangsa, bukan saja karena wujudnya beragam, melainkan karena memiliki makna dan peran yang berkaitan dengan sosial budaya masyarakat.
Jeraman juga memberikan kritikan terhadap arsitektur yang ditampilkan pada Gedung Keuangan Negara dan Gedung Perpustakaan Wilayah NTT. Menurutnya, hadirnya unsur lokal pada entrance sangat kuat mengesankan adanya penempelan unsur arsitektur lokal pada arsitektur modern. Hal ini menimbulkan interpretasi yang keliru karena unsur lokal pada Gedung Keuangan Negara itu lebih berlanggam joglo Jawa daripada Sumba.
Bagi Jeraman, kondisi tersebut merupakan kelatahan lantaran ketidaktaatan asas arsitek dalam memadukan kedua arsitektur itu. Ia mengatakan, para arsitek dan calon arsitek perlu didukung oleh pengetahuan teoretis, praksis serta metode dan teknik transformasi arsitektur yang baik, ditambah keterampilan dan sikap profesionalitas arsitek NTT. Hal itu diperlukan dalam rangka melestarikan dan memperkuat arsitektur yang beridentitas lokal.
"Setiap rumah tradisional merupakan manifestasi budaya yang mencerminkan dan mengabadikan sejumlah tata nilai budaya dan pandangan hidup yang asli dan secara turun-temurun diwarisi," kata Jeraman.
"Rumah adat itu kaya akan simbolisme yang bernuansa sosial, mitis-magis, religius, dan pemersatu suku, juga tanggap terhadap iklim dan budaya setempat.
Ditemui terpisah, koordinator paket pameran arsitektur, Renol Edon mengatakan, pameran arsitektur, selain menjadi media penyampaian informasi arsitektur kepada masyarakat, juga memberikan solusi berupa sumbang saran secara visual terhadap masalah arsitektur.
Disaksikan Pos Kupang, TKI-MAI XXV yang digelar di Unwira Kupang sejak tanggal 13 Oktober 2009 lalu memamerkan sejumlah hasil karya para mahasiswa arsitektur di halaman kampus tersebut. Aneka ragam miniatur (maket, Red) rumah adat dari berbagai daerah di NTT menjadi tontonan menarik semua mata yang berkunjung ke arena pameran itu. (aa)