|
Grafik Demo ke DPRD NTT
Spirit NTT Nomor 182 Tahun IV, Edisi 26 Oktober-1 November 2009
Kamis, 29 Oktober 2009 | 10:22 WITA
KUPANG, SPIRIT--Gerakan Rakyat Flobamora untuk Kesehatan (Grafik) menggelar aksi demonstrasi ke Gedung DPRD NTT, Rabu (14/10/2009). Mereka menyampaikan aspirasinya tentang pelayanan manajemen RSU Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang yang dinilai masih buruk. Grafik kemudian berdialog dengan Ketua Sementara DPRD NTT, Drs. Ibrahim A Medah, didampingi anggota Dewan lain, di antaranya Stanis Tefa, S.H, John Umbu Deta, Nyonya Angela Merci Piwung, S.H, Drs. Hendrik Rawambaku, M.Pd, dan Hironimus Banafanu, S.Ip, di Ruang Rapat Komisi B DPRD NTT. Saat berdialog, Grafik meminta agar manajemen RSU Prof. Dr. WZ Johannes, Kupang, menata pola pelayanan yang selama ini dinilai sangat buruk. Pasalnya, model pelayanan ini tak sesuai dengan visi dan misi dari rumah sakit itu. Hasyim Abdul Latif, salah satu pendemo, mengatakan, bagaimana mungkin pasien dalam kondisi gawat darurat bisa mendapat pertolongan dan jiwanya dapat diselamatkan kalau paramedis tak mengambil tindakan segera. Pada kesempatan itu, Grafik menyampaikan beberapa pernyataan sikap. Pertama, pemerintah agar segera mengatasi limbah mayat dan sampah medis. Kedua, manajemen segera meningkatkan pelayanan kepada publik sehingga tidak terjadi Tragedi Koloh babak dua. Ketiga, manajemen RSU Kupang agar memperlakukan semua pasien secara manusiawi. Keempat, meminta kepada Pemerintah Propinsi NTT agar segera mengganti person-person yang tak mampu mengelola rumah sakit itu. Kelima, meningkatkan fungsi kontrol pemerintah terhadap kinerja manajemen RSU Ketua Sementara DPRD NTT, Drs. IA Medah, pada kesempatan itu mengatakan bahwa pada saat anggota DPRD NTT diambil sumpah dan janjinya 3 September 2009 lalu telah melakukan kunjungan pada 10 September 2009 ke rumah sakit itu. Sering Cium Bau May "Terkesan manajemen rumah sakit masa bodoh dengan pengeluhan masyarakat," kata Fahik ketika ditemui SPIRIT NTT NTT sebelum menemui Ketua DPRD NTT Sementara, Drs. Ibrahim Medah, di Gedung DPRD NTT, Rabu (21/10/2009). Fahik mengatakan, limbah-limbah dari kamar mayat itu dibiarkan saja dan menjadi tempat para pemulung mengais rezeki. Kondisi ini dinilainya sangat membahayakan kesehatan pemulung sendiri dan warga di sekitarnya. Ia juga mengatakan, rumahnya seringkali menjadi tempat parkir mobil dan tempat berteduh warga yang mengurus mayat keluarganya. Ini, kata dia, karena di kamar mayat itu manajemen tak menyiapkan kursi. "Beli kursi saja tak bisa. Sudah keterlaluan," katanya. Fahik mengatakan akan mengambil tindakan yang lebih serius karena apa yang ia sampaikan tak ditanggapi manajemen rumah sakit. Seperti apa tindakan itu, Fahik mengatakan akan segera melakukannya. Setelah menemui Ketua DPRD NTT Sementara, Fahik akan menemui langsung Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Kepada Dewan ia juga sudah menyampaikan persoalan ini. Kondisi rumah sakit milik Pemprop NTT kini amburadul setelah Direktur RSU Kupang, dr. Alfons Anaphaku, sakit sejak tiga bulan terakhir dan tengah menjalani perawatan di Surabaya. Berbagai keputusan penting pun tak bisa dilakukan. (pol) (Spirit NTT)
komentar
|
|