|
Meriah, Perayaan Kanonisasi Pater Damian
Spirit NTT Nomor 181 Tahun IV, Edisi 19-25 Oktober 2009
Kamis, 29 Oktober 2009 | 09:13 WITA
LEWOLEBA, SPIRIT---Ribuan umat Katolik dari seluruh penjuru Kabupaten Lembata menghadiri perayaan kanonisasi Pater Damian (49) menjadi Santo Damian. Perayaan yang berlangsung meriah itu dirangkai dengan Pesta Emas Rumah Sakit (RS) Lepra Santo Damian, Minggu (11/10/2009) malam. Perayaan dilakukan di halaman RS setempat. Pada hari yang sama, berbeda tujuh jam dari waktu di Indonesia pada 22.000 WIB atau 23.00 Wita, Paus Benediktus XVI memimpin misa kanonisasi di Roma. Nama Pater Damian diabadikan menjadi nama RS Lepra di Kota Lewoleba karena sangat dekat dengan dengan para penderita kusta. Ia mengabadikan dirinya sampai mati karena digerogoti penyakit lepra di Pulau Molokai, tempat pembuangan para penderita kusta oleh pemerintah Hawai saat itu. Perayaan misa dipimpin konselebran utama, Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, didampingi puluhan imam dari seluruh Lembata. Bupati-Wabup Lembata, Drs. Andreas Duli Manuk, Drs. Andreas Nula Liliweri,anggota muspida dan seluruh tokoh masyarakat berbaur dalam perayaan meriah ini. Bagaikan pesta umat, seluruh umat ikut serta dalam resepsi yang disiapkan oleh setiap lingkungan dari empat paroki di Kota Lewoleba. "Tangan yang penuh kasih memberikan sentuhan kasih yang menyembuhkan mereka yang mengalami sakit. Kita semua harus bersyukur karena kasih itulah kita bisa hadir dalam perayaan ini. Siapa pun tak bisa hidup tanpa kasih. Yesus menunjukkan kasihNya menyembuhkan orang kusta. Mereka bertemu Yesus dan disembuhkan, " kata Mgr. Frans. Pater Damian meninggalkan segala miliknya, orangtua, sanak famili, tanah airnya dan pergi ke Molokai. Hal ini dilakukannya karena kasih kepada penderita kusta. Selama 16 tahun, Pater Damian hidup bersama mereka. Karena kasihnya sangat besar, dia bertahan tinggal bersama orang kusta. Dia tak pernah menyesal penyakit kusta menggerogoti tubuhnya bahkan sampai mati. Teladan dan dari keagungan hidupnya bisa menjadi sumber kekuatan dan semangat. Dr. Mouritz, merawatnya menulis demikian," kulit bagian perut, dada dan punggung sudah mulai melepuh di sana-sini. Selaput-selaput hidung, gusi bagian bawah, tenggorokan, pangkal tenggorokan sudah terinfeksi; kulit pipi, hidung, dahi, dan dagu sangat sangat membengkak. Tubuhnya telah menjadi kerempeng. Tekanan mental menyertai kondisi tubuhnya yang semakin memburuk. Depresi dan beban rohani menimpanya. Penolakan para superiornya membuatnya kecewa. Dia pernah berkomentar, "Dari seluruh dunia, saya menerima emas dan kemenyan, sedangkan dari para superiorku sendiri saya menerima mur pahit." Pengalaman di zaman Tuhan Yesus itu terulang 50 tahun silam di Lembata. Pada saat itu, masyarakat menderita penyakit kusta diasing dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat umum. Didirikannya RS Lepra didirikan para pendahulu saat itu telah menyelamatkan ribuan nyawa asal Papua, Flores, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia dari keterasingan dan pengucilan. "Dulu mereka dikucilkan, tapi kami yang melayani mereka sudah merasa satu hati dengan mereka. Kami bergaul, hidup dan makan bersama mereka. Kami menyatukan hati dengan hati mereka," kata Suster Ludgardis. Ketua Panitia Perayaan, Romo Yohanes Jon Lein, Pr, menyampaikan terima kasih kepada semua komponen masyarakat dan pemerintah daerah NTT dan Lembata yang berperan menyukseskan perayaan ini. Partisipasi dan kepedulian itu tidak hanya pada perayaan ini tapi kelangsungan hidup RS pada masa mendatang. (ius)
komentar
|
|