|
NTT Antisipasi Komodo Masuk 7 Keajaiban Dunia
Spirit NTT Nomor 176 Tahun IV, Edisi 14-20 September 2009
Selasa, 15 September 2009 | 15:31 WITA
KUPANG, SPIRIT--Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menentukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan komodo ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. "Langkah antisipasi yang sudah dilakukan adalah menjadikan Labuan Bajo di ujung barat Pulau Flores sebagai pintu gerbang masuknya pariwisata di NTT," kata Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya NTT, Ans Takalapeta, di Kupang, Rabu (9/9/2009). Selain itu, kata Takalapeta, saat ini sedang dibangun pelabuhan laut di Labuan Bajo dan Pulau Komodo serta melakukan pembenahan terhadap bandara udara Labuan Bajo untuk mendukung lalu lintas udara dari dan ke daerah itu. "Sekarang sedang dibangun pelabuan laut di Labuan Bajo juga di Pulau Komodo. Bandara udara juga sedang kita benahi. Semuanya untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan jika komodo ditetapkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia," katanya. Menurut dia, saat ini pula sedang dibangun satu lagi hotel berbintang lima di daerah itu, untuk tempat penginapan para wisatawan yang berkunjung ke NTT melalui Labuan Bajo. "Kalau sarana hotel sudah ada. Ada satu hotel berbintang lima dan saat ini sedang dibangun lagi satu hotel oleh pihak swasta. Akan dibangun pula home stay-home stay di Pulau Komodo," katanya. Pembangunan tambahan sarana penginapan itu dilakukan karena dalam beberapa bulan terakhir ini terjadi lonjakan wisatawan yang berkunjung ke NTT melalui Labuan Bajo. "Sebelumnya hanya satu sampai dua kali penerbangan dari Bali ke Labuan Bajo setiap hari, sekarang meningkat menjadi empat kali sehari," katanya. Dia mengatakan, pembangunan infrastruktur di Labuan Bajo menjadi perhatian pemerintah propinsi dalam mendukung sektor pariwisata di daerah itu. "Kita terus membenahi infrastruktur yang ada di Pulau Flores, khususnya di Labuan Bajo untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke NTT melalui Labuan Bajo," katanya. Trans utara Flores yang dibangun pada tahun 1980-an itu kini mengalami kerusakan serius karena tidak ada dana untuk perawatan selama belasan tahun terakhir ini. "Ada keluhan dari wisatawan yang berkeinginan ke danau Kelimutu di Ende melalui jalur darat tetapi terlalu jauh dan memakan waktu dua sampai tiga hari," katanya. Karena itu, jika trans utara Flores bisa dibangun, maka para wisatawan akan dengan senang hati mengelilingi pulau Flores, mulai dari Labuan Bajo sampai Larantuka di Kabupaten Flores Timur," katanya. (ant)
komentar
|
|