MBAY, POS KUPANG.Com -- Penularan virus septichemia epizooticha (SE) alias penyakit ngorok yang sudah membunuh ratusan ternak di Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo dan di Maukaro, Kecamatan Ende, masih sulit dilokalisir.
Lebih banyak ternak sapi, kerbau, kuda dibiarkan berkeliaran dari yang diikat atau dikandangkan oleh pemiliknya. Kondisi ini membayakan ternak lain yang masih hidup karena penularan SE melalui kontak langsung.
Kepala Resor Peternakan Kecamatan Wolowae, Kabuapten Nagekeo, Yosef Teofilius Kusnandi yang ditemui di kediamannya, Kamis (20/8/2009) siang, mengatakan, ternak yang dilepas dan digembalakan jauh lebih banyak ketimbang yang diikat atau dikandangkan. Kondisi inilah yang menyebabkan meluasnya serangan SE.
"Jadi untuk memutuskan mata rantainya butuh waktu lebih lama," katanya.
Dia mengatakan, pola beternak masyarakat yang demikian menyulitkan kegiatan vaksinasi. Sebab, petugas bersama pemilik harus mencari ternak di padang penggembalaan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Propinsi NTT, drh, Maria Geong pada acara rapat koordinasi antara Pemkab Ende dan Nagekeo di kantor Camat Wolowae, Jumat (21/8/2009), mengatakan, dari gejala-gejala ternak yang terkena serangan penyakit, besar kemungkinan adalah penyakit SE.
Untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit tersebut, katanya, dalam dalam dua minggu ke depan semua ternak yang ada di kedua kecamatan itu akan dilokalisir agar tidak menular ke wilayah lainnya.
Menurut Kusnandi, sejak Rabu (19/8/2009) sampai Kamis (20/8/2009), sebanyak 118 ternak di empat desa di Wolowae sudah diambil sampel darahnya untuk diteliti di laboratorium di Denpasar. Sejak Juni lalu, sebanyak 257 ternak sudah diobati/divaksin.
Proses pengambilan sampel darah mengalami kesulitan karena kebanyakan ternak dilepas berkeliaran di hutan/padang. "Ada yang dikandangkan, tapi lebih banyak yang dibiarkan bebas berkeliaran sehingga ternak menjadi liar," katanya.
Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian, Sevas Lako Nage mengatakan masih mempelajari kasus penyakit yang menyerang ternak di Wolowae. "Kami masih mempelajari kasus itu. Petugas kami masih mengambil sample darah untuk diteliti," katanya.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Yohanes B Meke mengatakan, pihaknya sudah memvaksin 40 ekor sapi di Maukaro. Petugas, katanya, kesulitan karena kebanyakan ternak dilepas berkeliaran oleh pemiliknya.
Camat Maukaro, Johanes Nislaka mengatakan petugas Dinas Pertanian dan Peternakan Tanaman Pangan Kabupaten Ende melakukan vaksinasi ternak di empat desa di Maukaro yakni Desa Kamubehka, Mundigasa, Kebirangga Tengah dan Kebirangga. Vaksinasi itu melibatkan 16 orang petugas Disnak. (ee/rom)
(
Pos Kupang)