Pemprop NTT Dukung Pengembangan Kapas di Sumba
Spirit NTT Edisi 29 Juni - 5 Juli 2009
Sabtu, 4 Juli 2009 | 18:26 WITA

KUPANG, SPIRIT--DPRD NTT meminta Pemerintah Propinsi NTT agar mendukung pengembangan kapas di daratan Sumba. Bila perlu pengembangannya diperluas hingga ke Timor dan Flores.

Permintaan DPRD NTT ini mengemuka ketika melihat pengembangan industri kapas jenis Kanesia 8 di Ngohung dan Laepori, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim). DPRD NTT pun mendukung Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sumtim yang telah membuka kerja sama dengan pihak luar demi kemajuan industri ini.

Dukungan ini disampaikan Ketua Tim Kunjungan Kerja (Kunker) DPRD Propinsi NTT untuk Kabupaten Sumtim, Jonathan Kana, SE, saat mengunjungi kawasan industri kapas PT Ade Agroindustri di Ngohung, Kecamatan Pandawai, Sumtim, Rabu (17/6/2009). Anggota Tim Kunker DPRD, Ny.Fouke Rebo Bubu, B.Sc beserta timnya diterima Kepala Dinas Perkebunan Sumtim, Jonni Wunu dan Asisten Direktur PT Ade Agro Industri, Johnny Wahyudi.

Jonathan mengatakan, DPRD mendukung pengembangan industri kapas di daratan Sumba, khususnya Sumba Timur yang baru dimulai lima bulan lalu. "Kami sambut baik pengembangan industri kapas di sini, karena selain meningkatkan pendapatan daerah, juga terutama memberi dampak bagi ekonomi masyarakat setempat," kata Jonathan.

Selain itu, Jonathan memberikan apresiasi kepada Pemda Sumtim yang telah membuka kesempatan kepada investor untuk membantu pengembangan potensi sumber daya alam baik di daratan maupun perairan di Sumtim.

"Ini bentuk keberanian Pemda Sumtim untuk memajukan kerja sama dengan pihak luar, antara lain menyiapkan lahan. Kehadiran industri seperti ini sangat dinantikan masyarakat setempat," jelas Jonathan.

Di samping itu, Jonathan meminta supaya Pemerintah Propinsi NTT mendukung penuh pengembangan kapas di daratan Sumba ini. Bila perlu industri ini  tidak hanya dibuka di daratan Sumba, tapi  diperluas ke daratan Flores dan Timor.
"Kami harapkan intervensi dari pemerintah propinsi guna mendukung program ini agar lebih maju, karena melihat potensi daratan NTT yang cocok untuk pengembangan kapas,"kata Jonathan.


Senada dengan Jonathan, Ny.Fouke mengatakan, kehadiran industri seperti ini merupakan sebuah penantian masyarakat Sumtim. Menurutnya, dibukanya industri ini membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitarnya. Fouke meminta supaya PT Ade Agro Industri selaku pengelola industri tersebut dapat melibatkan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja, sehingga masyarakat juga turut menerima manfaatnya.

"Kehadiran industri ini menjawab kebutuhan kerja masyarakat di sini. Kami dukung dan berharap PT ini memberi tempat bagi masyarakat lokal," kata Fouke.

Asisten Direktur PT Ade Agro Industri, Johnny Wahyudi menyambut baik dukungan DPRD tersebut. Johnny mengatakan, pihaknya memprioritaskan masyarakat setempat sebagai petani kapas di industri tersebut.  Dia mengatakan, pihaknya memberikan insentif sesuai dengan UMP secara merata kepada masyarakat yang bekerja pada industri itu.

"Sebagai bukti keterlibatan mereka dalam industri ini, kami juga telah membentuk gabungan kelompok tani kapas yang mayoritas berasal dari desa ini," kata Johnny.
Dalam kesempatan itu, Johnny mengatakan, PT Ade Agro Industri tengah mempersiapkan panen raya perdana yang akan diadakan pada tanggal 26 Juni mendatang. Menurut rencana, panen ini akan dihadiri Menteri Pertanian dan pihak importir kapas dari Jepang.

"Panen kapas kanesia 8 ini merupakan panen pertama di Indonesia dan keempat di Asia," jelas Johnny. (aa)

(Spirit NTT)

Share on Facebook  
1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

ah...perkebunan kapas di sumba hanya menguntungkan segilintir org aja, contohnya sy sbg pengrajin kecil, dimana membutuhkan bahan mentah kapas, kita dapat membeli di kebun kapas yg skrg di kelola oleh pemerintah, jadi sy harus nyari di daerah lain sperti flores dan jepara, syang sekali org asli sumba tapi nyari di daerah lain, mau nanam kapas tapi butuh biaya byk ,jadi serba salah jadi pengrajin kecil.... jadi kebun kapas di sumba seyogyanya tdk byk menguntung massyarakat sumba tapi yg jelas menguntung bagi org2 besar yg menanamkan mdalnya d perkebunan itu, dan apa yg diktatakan menguntungkan bagi masyarakat itu adl wacana lama,

Posted by: Jul | Rabu, 17 Februari 2010 | 10:35 WITA

Kita di NTT tdk pernah fokus, sebentar bilang pengembangan jagung, sebentar bilang ubi kayu, sebentar bilang jarak pagar, sebentar bilang apa lagi...., Itu pun cuma sampai di wacana program, justru petani/masyarakat sbg pelaksana tdk tau apa2. Dan mana hasilnya? Cobalah dikaji benar2 dan dibuat roadmap komoditi mana yg paling cocok kemudian semua sumberdaya diarahkan kesana. Ambil contoh prov Gorontalo, mrk fokus pd komoditi jagung dan berhasil bahkan sampai ekspor, setelah itu baru kembangkan komoditi lain yg jg punya prospek bagus. Jd bertahaplah... Kita di NTT tidak, pokoknya semua dikerjakan, org Kupang bilang "makrarapak tapi son jadi doi".....

Posted by: simon | Rabu, 22 Juli 2009 | 19:31 WITA

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
Copyright © 2009 PERSDA NETWORK – All rights reserved  |  About Us  |  Privacy policy  |  Terms of use  |  Contact Us  |