Obyek wisata Malanange dibiarkan perawan
Laporan Aris Ninu, SPIRIT NTT, 14-20 Januari 2008
www.wisatangada.com

Sumber air panas di Soa Ngada
Senin, 29 Juni 2009 | 03:53 WITA

BAJAWA, SPIRIT--Lokasi air panas Malanage, Desa Dariwali, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada, belum dikelola menjadi obyek wisata yang bisa memberi kontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD). Obyek wisata air panas yang masih 'perawan' ini belum diperhatikan dan ditata pemerintah agar bisa dikunjungi wisatawan.

Selain air panas, di Kecamatan Jerubuu, ada obyek wisata budaya berupa Kampung Adat Bena di Desa Tiworiwu dan Gunung Inerie yang cocok untuk wisata pendakian.

Pantauan SPIRIT NTT pekan lalu di lokasi air panas Malanage yang berada ditepi ruas jalan ke Desa Naruwolo, air panas yang dihasilkan suhunya jauh lebih panas dibanding dengan air panas  Mangeruda, Soa.

Air panas Malanage mengalir dari lereng bukit yang berdekatan dengan Gunung Inerie. Lokasi air panas ini belum dikelola Pemkab Ngada untuk menjadi sebuah obyek wisata.

Di sekitar kawasan ini tumbuh subur tanaman-tanaman keras dan tanaman perkebunan seperti kakao, cengkeh dan tanaman perkebunan lainnya.

Fransiskus, warga Dariwali, menuturkan, air panas Malanage lebih panas dari air di Mangeruda. "Jika ada orang yang ingin mandi harus ke tempat pertemuan air panas dan air dingin yang berada di bawah. Air di bagian atas selama ini tidak bisa dipakai rendam badan karena terlalu panas," ujarnya.

Menurut Frans, suhu air panas di lokasi itu bisa dipakai untuk merebus telur.

Veronica, warga Jerubuu, kepada SPIRIT NTT, mengatakan, air panas Jerubuu bisa dijadikan obyek wisata karena banyak pengunjung lokal dari Kecamatan Bajawa setiap minggu dan hari libur datang ke lokasi ini untuk rekreasi.

"Saya tinggal di Bajawa namun baru kali ini datang ke Jerubuu. Ternyata ada air panas yang jauh lebih panas dibanding air di Mangeruda. Obyek ini perlu diperhatikan dan dijadikan obyek wisata yang bisa dikunjungi wisatawan," tambah Hendrik, warga Bajawa.

Untuk diketahui, Kecamatan Jerubuu mekar dari Kecamatan Aimere pada tahun 2000. Jerubuu terkenal dengan kawasan perbukitan dan lereng gunung yang memiliki potensi alam yang indah guna dijadikan obyek wisata.

Kawasan Jerubuu berada di sekitar kawasan gunung berapi Inerie. Obyek lain yang membuat Jerubuu dikenal yakni masyarakat di kecamatan ini masih menghormati leluhur. Budaya dan adat istiadat masih dipegang. Dan di wilayah ini terdapat obyek wisata Kampung Adat Bena di Desa Tiworiwu (18 km dari Bajawa) dengan sejumlah peninggalan leluhur yang bernilai budaya tinggi. Sampai sekarang peninggalan itu masih ada dan dihormati. *

 

(Spirit NTT)

Share on Facebook  
1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

oo gitu ya, saya pernah ke soa mangeruda. yang bagus bung bangunnya. kita pun senang kl soa maju. ok.

Posted by: sarimin | Sabtu, 7 Agustus 2010 | 13:58 WITA

Pesan buat bupati baru, agar berani mendatangkan infestor nasional/asing untuk mengelola obyek wisata yg ada di Kabupaten Ngada, dengan didahului pelebaran bandara Turelelo Soa, agar pesawat yang lebih besar dapat lending di Soa, sebab percuma obyek wisata ditata bagaimanapun transportasi tidak lancar sama saja..........salom......

Posted by: Arnold | Selasa, 6 Juli 2010 | 20:00 WITA

Hot-spring ini lestarikan pada keunikannya. Industri pariwisata di manapun di dunia ini adalah mass primary-mover yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku. Pada awal mekanisme pasar, pemda tidak perlu genit main atur semua hal dengan mengatasnamakan PAD. Kunjungan pelancong akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pelaku. Kalau sudah running barulah bapak2 dan ibu2 pemda jadi fasilitator. Lebih baik masyarakat kaya daripada PAD tinggi selangit tapi masyarakat tetap tertinggal bahkan tergilas di landasan. Ini cuma usul usil saja. Selalu terbuka saran dan kritik, tau modhe sama2. Molo.

Posted by: rony gara | Kamis, 11 Maret 2010 | 16:54 WITA

Ada juga obyek wisata air panas di Boba yang masih sangat alami.

Posted by: Luigi | Sabtu, 21 November 2009 | 10:04 WITA

Saya sepakat, lokasi air panas Malanage, Desa Dariwali, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada, untuk tidak di buat yang aneh-aneh sebagaimana yg di buat di Mengeruda-Soa. awal tahun 2008 saya mengunjungi Mengeruda, sungguh di luar dugaan ketika saya masuk areal sumber air panas ada kolam-kolam yang kualitasnya jauh dari standar konstruksi dan tidak ada nilai artistiknya sama sekali. Menurut saya yang merencanakan dan yang membangunnya adalah orang-orang yang tidak pernah mengunjungi/melakukan survey atau study banding ke daerah2 wisata lain terlebih dahulu. Tepatnya itu di buat oleh orang-orang yang paling bodoh, pokoknya sangat kampunngan dan memalukan. Mereka tidak memahami unsur pariwisata yang paling utama yaitu keasriannya (natural) dan pelestariannya. Artinya kita tidak mungkin memindahkan yang ada di Bali misalnya ke Bajawa-Ngada supaya menarik wisatawan. jika kita paksakan maka yang terjadi malah pengrusakan. Usul untuk Pemda Ngada saat ini, mendingan tidak usah sok mau buat sesuatu untuk menarik pariwisata di Malanage-Jerebuu, belajar dulu, Bentuk tim untuk study banding, buat perencanaan yang matang kemudian buat seminar undang pembicara dari luar. Sosialisasi mengenai dampak lingkungan dan dampak sosial kepada masyarakat dan ada partisipasi masyarakat. Orang-orang yang punya kemampuan yang mengelolanya jangan oleh orang bodoh dan kampungan lagi yang di pakai sekalipun itu dari Pemda Ngada sendiri. Dhenge si miu.. hidup Ngada Molo.. Nano Djogo

Posted by: Arnold Thomas Djogo | Selasa, 8 September 2009 | 22:36 WITA

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
Copyright © 2009 PERSDA NETWORK – All rights reserved  |  About Us  |  Privacy policy  |  Terms of use  |  Contact Us  |