193 Puskemas Sering Kosong, BOK NTT Tidak Terserap Maksimal - Pos Kupang
Pos Kupang
Puskemas Sering Kosong, BOK NTT Tidak Terserap Maksimal
Selasa, 14 Februari 2012 09:44 WITA
Share |

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Prof. dr. Ascobat Gani, menyatakan masih banyaknya dana bantuan operasional kesehatan (BOK) yang tidak terserap NTT karena persoalan sumber daya manusia. Salah satunya banyak tenaga kesehatan yang kosong di puskesmas-puskemas di NTT.

Askobat mengatakan hal itu saat seminar membahas hasil perhitungan pembiayaan kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun anggaran 2011 di Aula Bappeda NTT, Jumat (10/2/2012). Dia meminta pemerintah memperbanyak tenaga-tenaga kesehatan berada di puskesmas.

Tak hanya itu, Ascobat juga mengharapkan adanya mobilisasi masyarakat agar program BOK dapat tercapai secara maksimal. Salah satunya mengaktifkan unit kesehatan sekolah yang banyak tidak aktif di sekolah-sekolah di NTT.

Selain NTT, Ascobat juga mencontohkan dana BOK yang tidak terserap di Kalimantan Timur. Hanya saja persoalan di Kaltim berbeda dengan NTT. Di propinsi itu dana BOK tidak terserap optimal karena pendapatan asli dareah propinsi tinggi hingga mencapai triliunan rupiah.

Rekrut Anak Desa
Lain halnya dengan Ascobat, mantan Direktur RSU Kupang, dr. Husein Pancratius, menyatakan banyaknya tenaga kesehatan kosong di puskemas lantaran berada di daerah terpencil. Kebanyakan tenaga kesehatan maunya ditempatkan di daerah pusat ibu kota kabupaten ataupun kota madya.

Untuk itulah, jelas Husein, harus dicari solusi agar kekosongan tenaga kesehatan tidak lagi melanda puskesmas-puskesmas di NTT. Ia pun melontarkan ide cemerlangnya kepada audiens.

Menurut Husein agar tenaga kesehatan betah bekerja di puskesmas terpencil, salah satu syaratnya harus berasal dari desa lokasi puskesmas itu dibangun. Dengan demikian pemerintah tinggal merekrut beberapa orang pintar dan berminat di desa itu disekolahkan sebagai bidan atau perawat.

Ia meyakini anak-anak dari desa terpencil itu akan terpanggil untuk mengabdi, mau untuk sekolah dan kembali bekerja di tanah kelahirannya. "Semisal pemerintah memfasilitasi salah satu putra di salah satu desa di Pulau Ende saya yakin mereka mau untuk mengabdi ke tempat kelahirannya bila tamat sekolah," tandas Husein.