DALAM dua tiga hari belakangan, media lokal di Kota Kupang ramai memberitakan penarikan dukungan dari sebuah organisasi massa Persehatian Orang Timor (POT) terhadap duet pemimpin NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si, atau yang dikenal dengan nama Paket FREN. Penarikan dukungan itu ternyata tak hanya sekadar di atas kertas saja, namun juga dilakukan lewat seremoni adat. Sudah begitu gawatkah kepemimpinan FREN yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Timor?
Pernyataan dan aksi POT yang dimotori Jonathan Nubatonis (ketua) dan Gustaf Oematan (sekretaris) ini mendapat dukungan dari Forum Komunikasi Pembangunan Atoin Meto (FKPAM) dan Ikatan Keluarga Helong (IKH) Kupang. Alasan mendasar yang membuat POT dan FKPAM menarik dukungan adalah bahwa selama masa kepemimpinannya, FREN tidak pernah memperhatikan pembangunan politik orang Timor (Atoin Meto). Yang menarik lagi adalah bahwa POT dan FKPAM, 'menuding' FREN sebagai 'biang' yang menyebabkan tidak adanya orang Timor yang menjadi anggota DPR RI.
Ada banyak tanggapan yang bermunculan. Sebuah organisasi yang diberi nama Forum Persehatian Orang Timor (FPOT) tiba-tiba muncul dan memberikan keterangan pers. Mereka menilai pernyataan POT itu hanya keinginan individu tertentu. Itu bukan representasi pendapat orang Timor. Tanggapan lainnya yang bermunculan di berbagai media jejaring sosial maupun di website www.pos- kupang.com, pun beraneka ragam. Saling adu argumen, pendapat dan analisa bermunculan.
Lantas, apa yang harus kita petik dari fenomena ini? Sejatinya, yang menarik dukungan terhadap seorang pemimpin adalah partai politik pengusungnya. FREN menjadi pemimpin NTT karena diusulkan oleh partai politik. Kalau kemudian ada organisasi massa yang mendukungnya, hal itu tidak akan berpengaru bila ingin 'menjatuhkan' pemimpin tersebut. Apakah ada biang masalah lain yang memunculkan aksi ini? Apakah ada persoalan politik individu yang tidak terakomodir lalu menunggangi organisasi massa ini untuk menggolkan kepentingannya? Tidakkah POT melihat Esthon Foenay sebagai sebuah keberhasilan orang Timor untuk menjadi pemimpin NTT ini? Padahal, sangat susah mencari figur orang Timor sekaliber Esthon Foenay.
Sangat primordial! Itu komentar beberapa orang. Sebagai organisasi yang berbasiskan suku, sah-sah saja POT mengeluarkan pernyataan dan aksi seperti ini. Mereka menyuarakan kepentingan mereka yang diabaikan. Tetapi kalau melihat FREN dalam konteks pemimpin NTT, kata primordial itu mungkin bisa dibenarkan. Artinya, kalau hal ini dimunculkan dalam sebuah diskusi, pasti terjadi perdebatan panjang yang tidak berujung.
Sebagai sebuah organisasi massa, POT dan FKPAM berhak menilai kinerja pemimpinnya. Masukkan dari berbagai pihak untuk perbaikan kehidupan sosial kemasyarakatan sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Memiliki basis massa yang cukup besar, pernyataan dan aksi POT dan FKPAM ini jelas sangat berpengaruh terhadap kehidupan politik dan sosial kemasyarakatan di NTT, khususnya bagi orang Timor. Orang Timor (Atoin Meto) bisa saja terguncang dengan hal ini. Pasalnya, pendidikan politik yang dilakukan petinggi-petinggi POT dan FKPAM ini terlalu keras menjurus kasar. Padahal, kalau alasan yang dikemukakan bisa dirumuskan dengan baik tanpa rasa emosional, akan menjadi fenomena dan kajian menarik di tahun terakhir kepemimpinan FREN. Ataukah tidak ada alasan lain bagi POT dan FKPAM untuk menilai FREN sehingga hanya bisa mengemukakan itu?
Dalam surat penarikan dukungan, tidak dijelaskan secara rinci penilaian POT dan FKPAM terhadap kinerja kepemimpinan FREN. Kepentingan politik yang tidak terakomodir, itu yang dinilai. Apakah itu termasuk kepentingan politik dalam pemilu kada Kota Kupang? Mungkin saja POT dan FKPAM merasa resah karena tidak ada satupun Atoin Meto yang diakomodir parpol dalam pesta politik ini.
Tapi, kita kesampingkan dulu penilaian-penilaian negatif untuk menyikapi aksi para Atoin Meto ini. Mari kita lihat ini secara positif. Salah atau pun tidak, ini sudah menjadi pendidikan politik yang sangat penting bagi kita. Dari sini kita bisa melihat mana yang punya kepentingan untuk membangun masyarakat dan mana yang hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri dan atau golongannya. Dari sini kita sudah bisa melihat seberapa besar tingkat kualitas kepemimpinan para pemimpin kita.
Hari ini, besok dan seterusnya, gonjang-ganjing dan pembicaraan serta diskusi di pojok jalan dan gedung masih akan terus terdengar. Harusnya kita bijak menyikapi ini. FREN sebagai pihak yang disoroti tentu sudah punya sikap. Asal jangan ditunggangi atau menunggangi, fenomena politik seperti ini terasa sangat penting terutama di era keterbukaan ini. Kalaupun kita mau berkomentar, marilah kita membahasakannya dengan bijak dan santun sehingga jangan ada yang disakiti dan tersakiti. *