POS KUPANG.COM, MAUMERE --- Lurah Wuring, Jainunin, 'diusir' warga dari Ruang Kerjanya di Kantor Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Sikka Kamis (2/2/2012) siang. Warga mengusir Jainudin karena diduga telah membakar tiga rumah warganya di Nangahure bukit Tanggal 31 Agustus 2011 yang lalu.
"Keluarkan dia dari ruangan kerjanya. Tolong jelaskan kepada kami, kenapa bapak Lurah Bakar rumah warganya sendiri. Pemimpin apa bisa bakar rumah warganya sendiri," demikian teriak belasan ibu yang mendatangi kantor itu.
Hari itu, hari pertama Jainudin masuk kerja setelah lima bulan tidak masuk. Sekretaris Lurah Wuring, Mario Keraf, juga mengatakan selama ini dia tidak pernah masuk kantor. Bahkan setelah dirinya sembuh dari luka bakar yang mengenai seluruh tubuhnya.
Disaksikan Pos Kupang, Kamis (2/2/2012), sebelum anggota Kepolisian dari Polres Sikka datang, hanya sejumlah kecil warga datang dan berteriak di halaman kantor lurah. Dengan memegang tongkat dari kayu, mereka berteriak supaya mengeluarkan lurah dari ruangannya dan berbicara kepada masyarakat.
Tetapi lurah tidak berani keluar dari ruangannya. Bahkan berpuluh puluh kali masyarakat meminta baik kepada Sekretaris Lurah, Mario Keraf juga ketika Camat Alok Barat Melania Paskalia Sadipun agar Jainudin keluar dan menjelaskan tentang kasus kebakaran tiga rumah warga tersebut. Namun, oknum lurah tersebut tak berani meladeni permintaan warga.
Situasi semakin ramai ketika aparat Polres Sikka tiba di lokasi, saat bersamaan warga yang melihat kedatangan puluhan aparat polisi itupun datang berbondong-bondong ke kantor lurah.
Warga yang sedang marah coba ditenangkan oleh Kapolsek Alok, Ipda Hendrik Aritonang, namun massa tetap berteriak meminta oknum lurah tersebut keluar.
Camat Alok Barat, Melania Paskalia Sadipun juga tidak digubris saat berusaha menenangkan warga. Warga yang diminta kembali ke rumah juga tidak diharaukan. Warga tetap ngotot agar lurah keluar dan berbicara pada mereka.
Warga yang kehujanan rela berbasah-basahan di halaman kantor lurah Wuring hanya untuk meminta supaya lurah sebagai pemimpin mereka menjelaskan hubungan atau tidak ada hubungannya antara terbakarnya lurah dengan tiga rumah warganya.
Jainudin yang berada dalam ruangannya kemudian diamankan aparat polisi. Dengan kawalan ketat, Jainudin keluar dari kantornya dan langsung menuju mobil polisi. Saat bersamaan ratusan warga pun meringsek masuk di antara aparat polisi untuk mendekati Jainudin namun tetap terhalang barisan aparat polisi.
Aksi warga tersebut merupakan amarah yang terpendam lama kemarahan. Sebab mereka menduga oknum lurahlah yang membakar tiga rumah warganya.
Saksi Tidak Mengarahkan Kepada Lurah
Kapolsek Alok, Ipda Hendrik Aritonang menjelaskan, pihaknya telah memeriksa dan meminta keterangan saksi-saksi dalam kasus tersebut. "Bahwa saksi-saksi yang kami telah ambil keterangannya, dan tidak mengarahkan lurah sebagai pelaku pembakaran rumah itu," kata Ipda Hendrik disambar pertanyaan masyarakat, siapa saksi-saksi itu
Ipda Hendrik melanjutkan, polisi bekerja secara profesional. "Kami mengerti perasaan ibu-ibu tapi kami bekerja sesuai dengan bukti yang ada. Tolong harga proses hukum yang berjalan," kata Ipda Hendrik.
Jika ada masyarakat yang ingin jadi saksi, kata Hendrik lagi, tolong angkat tangan. Tetapi di antara ibu-ibu tidak satu pun yang angkat tangan. Mereka hanya minta polisi panggil lurah bicara dengan mereka. "Kasih keluar itu lurah. Kami mau lihat mukanya. Kami tidak butuh dia di sini," kata ibu-ibu pendemo itu.