POS KUPANG.COM, KUPANG --- Sebanyak 703 orang guru 'menyerbu' NTT untuk menyukseskan program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T). Anehnya, proses rekrutmennya tidak diketahui pemerintah daerah/Dinas PPO NTT.
"Jumlah guru SM3T yang masuk NTT hanya 703 orang. Siapa yang bilang 6.000 orang? Dapat data dari mana? Dinas PPO baru tahu setelah mereka masuk NTT," jelas Yohanis Mau, S.Sos, MM, Sekretaris Dinas PPO NTT, di ruang kerjanya, Senin (30/1/2012).
Guru yang direkrut bukan putra-putri NTT. Umumnya berasal dari propinsi lain. Perekrutan guru untuk SM3T dibuat secara nasional sehingga tidak diketahui Dinas PPO NTT. "Setahu saya, dari 703 guru yang masuk ke NTT, tidak ada satupun anak NTT," kata Mau.
Mau mengatakan, proses rekrutmen guru SM3T dilakukan pihak universitas yang memenuhi syarat, di antaranya universitas yang dulunya memiliki IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Misalnya, Universitas Sam Ratulangi Menado, Universitas Gorontalo, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Negeri Makassar.
Menurut Mau, pihaknya baru tahu setelah ada guru yang datang melapor secara resmi, yaitu dari Universitas Gorontalo yang ditempatkan di Alor dan Manggarai Timur. "Seharusnya ada 200 tenaga guru tetapi yang ada hanya 151 guru dari Universitas Gorontalo," jelas Mau sembari menambahkan, guru yang direkrut universitas lainnya tidak melapor diri.
Menurutnya, dinas PPO mendapat tembusan mengenai program ini tetapi orang sudah di lapangan dan bisa dibilang bahwa sudah terlambat. Untuk penjemputan saja, mereka berkoordinasi dengan kontak person dari dosen Undana.
Mau menjelaskan, guru SM3T akan bertugas selama setahun (Januari - Desember 2012). Mereka tiba di NTT pada bulan Desember 2011. Pada Januari 2013, mereka kembali ke universitas yang merekrut untuk mendapatkan pendidikan profesi guru selama setahun.
Dikatakannya, tidak ada universitas di NTT yang ikut sebagai universitas yang merekrut tenaga SM3T. Pada prinsipnya, lanjut Mau, program ini baik, hanya yang dipersoalkan adalah mekanisme perekrutan saja.
"Kenapa pada saat rekrut pemda tidak dilibatkan? Undana harusnya berjuang agar Undana juga bisa mengambil bagian dalam perekrutan sehingga anak-anak di NTT juga bisa mengikuti perekrutan ini," jelasnya.
Mau mengungkapkan, di NTT hanya ada 10 kabupaten yang mendapatkan tenaga SM3T, yakni Sumba Timur, Kabupaten Kupang, Alor, Flores Timur, Lembata, Ende, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Kabupaten Rote Ndao.
Menurut Mau, pemerintah akan berjuang agar jika di masa yang akan datang program ini masih ada, maka Undana harus dilibatkan sehingga sarjana pendidikan dari NTT juga bisa mengikuti program ini. "Kita merasa pemda dilangkahi dan mengapa anak- anak dari NTT tidak dilibatkan, padahal di sini begitu banyak tamatan sarjana pendidikan dari berbagai universitas. Kami sudah komunikasikan dengan Pak Gubernur agar ke depannya Undana bisa dilibatkan dalam proses rekrutmen," tegas Mau.
Mau mengatakan, terhadap program ini semuanya harus berpikir positif. Selama ini dari daerah selalu melaporkan adanya kekurangan guru sehingga langkah ini diambil. "Tetapi ke depannya prosesnya diharapkan bisa lebih baik sehingga anak dari NTT juga bisa ikut," ujar Mau.