167 Kasus Seksual di Lokoboko, Orangtua Melati Minta Pelaku Dihukum Berat - Pos Kupang
Pos Kupang
Kasus Seksual di Lokoboko, Orangtua Melati Minta Pelaku Dihukum Berat
Rabu, 25 Januari 2012 20:09 WITA
Share |

POS KUPANG.COM, ENDE-  Stanislaus dan Bibiana, orangtua Melati (bukan nama sebenarnya, Red) meminta agar Abdul Mejid Musa (47), tersangka pelaku pemerkosaan terhadap putri mereka di Lokoboko, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende tanggal 16 Januari 2012 dihukum berat.

Mereka juga berharap kepolisian mengusut kasus tersebut hingga tuntas agar pelaku menerima hukuman setimpal atas perbuatannya.  “Saya sebagai orangtua sangat terpukul. Kami tidak sangka pelaku yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri nekad melakukan hal ini pada anak kami,” tutur Stanislaus dengan nada sedih saat ditemui FloresStar di Lokoboko, Selasa (24/1/2012).

 Menurut Stanislaus, kekekerasan seksual yang menimpa putrinya di luar dugaan mereka. Sebab pelaku merupakan kerabat dekat mereka. Sehari-hari putrinya banyak menghabiskan waktu untuk bermain, belajar bahkan membantu di rumah keluarga pelaku. Bahkan Melati pun menetap di sana. Tak dinyana pelaku nekad menodai anak keempat pasangan Stanislaus dan Bibiana tersebut.

“Saya sangat sedih. Sudah banyak anggota keluarga yang suruh saya jangan biarkan anak ini menetap di sana. Tapi saya tidak pernah  menghiraukan sampai terjadi kejadian ini,” kata Stanislaus sambil meneteskan air mata.

Meskipun tersangka pelaku sudah dianggap sebagai keluarga, Stanislaus dan Bibiana meminta aparat penegak hukum memroses kasus ini sampai tuntas dan pelaku dihukum seberat mungkin karena telah menghancurkan masa depan Melati. Stanislaus mendesak kepolisian tidak menutup-nutupi kasus tersebut.

Belum Ditahan

Menurut Stanislaus, dia mendengar informasi bahwa polisi belum menahan tersangka pelaku, Abdul Mejid Musa. Dia khawatir jika pelaku masih dibiarkan berkeliaran akan menimbulkan trauma yang mendalam pada anaknnya.  “ Kami dengar polisi belum tahan pelaku,” katanya.

Hal senada dikemukakan Bibiana, ibu Melati. Dia mempertanyakan  proses hukum oleh kepolisian. Pasalnnya sejak kasus tersebut mereka laporkan Jumat (20/1/2012), pelaku belum ditahan. Pihak keluarga sudah menanyakan hal ini, namun pihak kepolisian mengatakan masih menunggu hasil visum.  
Bibiana pun menyayangkan perbuatan pelaku terhadap anaknya.

Menurutnya, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. Sebagai pimpinan sekolah dan guru, Abdul mestinya menjaga putrinya bukan malah merusak masa depannya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang pimpinan sekolah dasar di Lokoboko, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende Abdul Mejid Musa (47) diduga telah menodai muridnya sendiri bernama Melati (bukan nama sebenarnya, Red) di sekolah itu, Senin (16/1/2012).

Dikonfirmasi FloresStar di Ende, Senin (23/1/2012),  Kasat Reskrim Polres Ende, Iptu  Anjas Asmara  membenarkan adanya laporan kasus dugaan pemerkosaan terhadap Melati oleh gurunya sendiri. Menurut Anjas, orangtua Melati melaporkan kepada polisi secara tertulis.   

“Pelaku sudah diamankan dan sementara dalam pemeriksaan. Kami masih tunggu hasil visum dari rumah sakit, “ demikian Anjas. Menurut Anjas, pemeriksan secara intensif masih dilakukan kepada sejumlah saksi, baik pelaku, korban serta orangtua. Selain itu polisi masih menunggu hasil visum untuk melengkapi berkas. Hasil visum tersebut akan dipakai sebagai barang bukti.  (cc)

Melati Lapor Wali Kelas

ORANG pertama yang mengetahui peristiwa tragis terhadap Melati bukan orangtuanya Stanislaus dan Bibiana. Melati justru takut menceritakan kejadian itu kepada ayah dan ibunya.  Murid SD tersebut beranikan diri menceritakan hal itu kepada Wali Kelasnya, Ibu Magadela Piri.

Magdalena yang ditemui FloresStar , Selasa (24/1/2012) menuturkan, dia  mengetahui Melati telah dinodai Abdul ketika Melati hendak meminta izin pulang karena sakit medio pekan lalu. Saat ditanya Magdalena, saat itu Melati mengaku sakit karena sedang datang bulan (haid).
Mendengar pengakuan Melati, Magdalena memeriksa celana korban. Saat itu
memang ada bintik darah di celana Melati. Ibu Magdalena pun langsung menasehati Melati.“ Kamu ingat kalau kita perempuan sudah dapat mens, harus hati- hati. Kalau tidak jaga diri nanti bisa hamil. Saat saya bilang begitu, saya lihat anak ini gemetar, saya mulai curiga, “ kata Magdalena.

Melati langsung menangis dan mengungkapkan semua yang sudah dilakukan Abdul terhadap dirinya. Magdalena sangat terkejut mendengar pengakuan Melati. Dia kemudian memanggil orangtua Melati dan menyampaikan peristiwa yang menimpa putri mereka. Atas pengakuan Melati, orangtua korban langsung melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Ndona.

Menurut Magdalena, Melati adalah anak penurut. Dia juga selalu riang. Namun sejak kejadian pekan lalu perilakunya berubah drastis. Dia merasa takut dan ingin menyendiri dengan alasan sakit. (cc)

“Ingat Ini Rahasia Kita Berdua”


WAJAH Melati terlihat lesu. Mengenakan kaos berwarna biru, Melati terlihat tenang walaupun menyimpan sejuta rasa pilu dalam hatinnya.   Didampingi beberapa orang guru di dalam ruangan sekolah, kemarin,  Melati  menceritakan kejadian naas atas dirinya, Senin (16/1/2012) lalu.

Menurut Melati, saat dia sedang makan siang di rumah orangtuannya hari Senin itu, Abdul datang menghampirinnya. Melihat rumah dalam keadaan kosong pelaku keberadaan orangtuanya. Melati menjawab bahwa ayah dan ibunya sedang ke luar rumah untuk membeli  pakaian untuknnya.

Mendengar jawaban Melati, Abdul mengajak Melati untuk membantu mengerjakan soal di sekolah. Melati menurut saja. Ketika sampai di sekolah, dia disuruh masuk ke dalam ruangan. “Waktu itu pak guru suruh saya masuk ruangan. Setelah itu dia mengunci pintu. Saya lihat pak guru bawa tali rafia  dan lakban (perekat). Saya tanya pak  kenapa kunci pintu? Dia bilang supaya kita lakukan apa- apa jangan ada yang lihat. Saya sempat tipu dia kalau kerja soal gelap  tidak lihat. Tapi pak guru langsung datang dan membuka pakaian saya. Kemudian dia ikat tangan dan mulut saya. Saya tidak mau tapi dia langsung dorong saya ke lantai kemudian perkosa saya, “ kata Melati sambil meneteskan air mata. Tak kuasa menahan sedih, kedua orangtua Melati serta guru yang hadir saat itu ikut menangis.

Melati melanjutkan ceritanya. “Setelah habis buat dia kasi saya uang lima puluh ribu. Saya tidak mau terima, lalu dia bilang jangan lapor siapa- siapa. Ingat ini rahasia kita berdua, “ kata Melati menirukan ucapan Abdul. (cc)