Pertapa
Pernah pada suatu waktu dalam sendiri yang gagu
aku lahir dari sunyi
sunyi yang berusaha menggenggam rindu
dengan napas yang tersengal
aku lahir dari kata
kata yang berusaha mencengkeram tanya
ada kisah tersembunyi yang terukir pada reruntuhan tua
dalam sunyi ada kata
menyelinap masuk mencari makna
yang terselubung pekat tanya dan ragu
dalam sunyi ada rindu
menggetarkan hati
hanya kata sederhana yang ia temukan dalam ziarahnya
akan kutulis kisah
tentang kesunyian
yang melahirkan rindu
dan kata
terbatas untuk menjumpai-Mu
dalam makna yang tak lagi utuh
2009
Panggung Kosong
tengah malam di taman kota
setelah riuh rendah malam berakhir
hanya aku dan engkau di hadapan panggung kosong
cuma kita bertiga dengan rindu yang terkepal
menantang langit
orang-orang malam yang menyemarakkan panggung
dan taman kota telah pergi mencari jalan dan
mengejar malamnya masing-masing
hidup dari panggung yang kadang kosong
tak selalu ramai dan tak pernah cukup
untuk sebuah kerinduan dan kebahagiaan
yang terpuaskan hingga kekal
kita; penyanyi dan seniman malam
mengukir langit dengan kata
hidup dari panggung dan taman kota
mencari yang kekal dan tersembunyi
namun tak kunjung ditemukan
pernah ada penyair malam yang berkata
Ia hadir dalam gelap dan malam
tanpa selubung
namun hingga kini Ia tak pernah merelakan diri
untuk dijumpai
2010
Rinai Hujan
membaca namamu lagi dalam rinai hujan bulan ini
dengan gigil kusebut namamu sambil merenung wajahmu
di tepi pelabuhan sore yang mulai menepi
ada darah dan air mata yang tergores dalam rintiknya
kausembunyikan tangis yang nyaris tak terdengar
tentang kehilangan dan kedukaan anak-anak pulau seberang
ketika kemarin piala itu diangkat
dan hari ini kauubah anggur jadi masam
aku ingin membunuh setiap hujan yang lewat
biar jadi puas dan tenang hati ini
namun dengan apa kusingkirkan rintikmu
yang menyimpan darah dan air mata segar
orang-orang kampung pesisir ini
rinai hujan bulan ini masih juga turun dengan diamnya
menyimpan dan mewartakan kisah mereka
kepada langit tua yang menikmati diamnya
kisah yang asing di tanah ini
terukir dengan sebuah sayatan pilu pada relung hati
kisah tentang kedukaan dan kehilangan
orang-orang terkasih
tentang mereka yang pergi ke tanah seberang
dan tak pernah kembali dengan kisah tentang piala keselamatan
2010
Semenjak Engkau Pergi
Buat ta
semenjak engkau pergi mengejar kenangan
dan rindu yang hilang
aku hanya bisa menatap senja dan kalender tua
dalam kesendirian yang gagu
ada sebuah pencarian dan penantian yang panjang
waktu hanya bisa mencatat kisah yang enggan
kita bagikan dengan goresan-goresan
nakal dan merah pada tanggal-tanggal kalender
kini engkau sering mengirim kabar
tentang pencarianmu lewat kata yang rumit
dalam kesendirian dan penantianku
aku hanya bisa merenung dan meratap
betapa indah kisah pencarianmu itu
setiap tanggal yang mengingat kepergianmu
aku sering menatap kalender dinding
dengan mata yang tak bersahabat
engkau masih setia mengirim kabar
pada saat tanggal perjumpaan kita
di hadapan senja yang turun menemani kalender tua
aku coba mengeja namamu lagi dalam
kesendirian yang menyengat
ada harap tanpa kata yang kutitip pada senja
2010