513 Peningkatkan Anaerob dan Aerob Melalui Pelatihan Harness - Pos Kupang
Pos Kupang
Peningkatkan Anaerob dan Aerob Melalui Pelatihan Harness
Rabu, 18 Januari 2012 08:57 WITA
Share |
Berita Terkait
"Beberapa kelemahan yang masih dialami oleh pelatih (di nasional sekalipun) adalah variasi metode dan bentuk latihan untuk setiap komponen fisik."

KEMAMPUAN fisik merupakan komponen yang sangat penting dalam mewujudkan prestasi olahraga terutama ketika level atlet elit. Karena itu, setiap pelatih wajib memahami pelatihan fisik secera komprehensif. Kompetensi yang dibutuhkan oleh setiap pelatih dalam pelatihan fisik adalah penerapan metode dan bentuk latihan yang adekuat.

Beberapa kelemahan yang masih dialami oleh pelatih (di nasional sekalipun) adalah variasi metode dan bentuk latihan untuk setiap komponen fisik. Artikel ini mendeskripsikan secara sederhana pemahaman tentang dasar fisiologis dalam pelatihan fisik sesuai dengan tujuan latihannya, potensi kemampuan dalam penerapannya dan tentang pelatihan harness yang dapat dimanfaatkan untuk upaya meningkatkan kemampuan an-aerobic maupun yang aerobik.

Kemampuan fisik adalah salah satu faktor yang sangat penting apabila ingin mendapatkan prestasi yang maksimal dalam setiap cabang olahraga. Kunci keberhasilan prestasi adalah karena hadirnya faktor-faktor penentu prestasi, baik secara internal maupun eksternal. Kemampuan fisik atlet secara fisiologis merupakan kemampuan dinamis anaerobik dan aerobik.

Setiap pelatihan fisik maka sedang terjadi keberlangsungan aktivitas fisiologis yang secara garis besar terangkum dalam tiga sistem kerja yang terdiri dari : (a) sistem kerja I sebagai pelaksana gerak yang meliputi sistema skelet, sistema muscular, dan sistema nervorum; (b) sistem kerja II sebagai pendukung gerak yang meliputi sistema hemo-hidro-limfatik, sistema respirasi, dan sistema kardiovaskular; dan (c) sistem kerja III sebagai perangkat pemulih/pemelihara yang meliputi sistema digestivus, sistema ekskresi, sistema reproduksi. 

Karena itu, para ahli menyarankan agar setiap pelatih mempunyai kompetensi pemahaman fisiologi (ilmu faal/ilmu fungsi) ketika mempersiapkan untuk menjalankan pelatihan fisik pada setiap atlet. Hal ini sering menjadi kendala yang cukup pelik dialami oleh para pelatih, terutama dasar pemahaman keilmuan ini yang masih belum mencukupi.  Problematika ini sering mengakibatkan terjadinya "malpraktik" dalam pelatihan olehraga prestasi yang berindikasi pada sulitnya atau tidak munculnya prestasi yang diharapkan.

Pelatihan teknik yang dilakukan dengan baik dan benar akan memberikan dampak positif dan signifikan terhadap pencapaian prestasi. Karena pelatihan teknik akan senantiasa direkam dan disimpan dalam otak memori manusia. Karena itu, pelatihan teknik harus dilakukan secara intensif dengan baik dan benar mulai sejak usia pemula.  Kesalahan yang terjadi saat ini adalah banyak `atlet nasional' yang masih berlatih teknik dasar dengan alasan karena tekniknya salah. Apakah kesalahan teknik yang sudah sangat melekat ini akan dengan mudah diperbaiki, sementara otomatisasi geraknya sudah terbentuk dengan kuat.

Potensi keterampilan harus menjadi pertimbangan ketika melatih kemampuan atlet. Keterampilan apa yang dilatih, kapan (periode) latihannya, mengapa harus dilatih keterampilannya, siapa dan level apa yang sedang dilatih, serta bagaimana melatih keterampilannya adalah pertimbangan penting bagi setiap pelatih dalam merencanakan program latihan.

Berbicara prestasi maka kemampuan fisik menjadi bagian penting dari sebuah proses ini.  Kemampuan fisik sudah dianugerahkan Tuhan kepada setiap insan semenjak lahir.  Kemampuan fisik dasar yang ada adalah kemampuan kelenturan, kemampuan kecepatan gerak, kemampuan kekuatan dan kemampuan daya tahan. Dalam pembagian dan pengembangannya, kemampuan fisik dibagi dalam, (1) kemampuan kelenturan yang terdiri dari kemampuan kelenturan statis (static flexibility) dan kemampuan kelenturan dinamis (dynamic flexibility). (2) kemampuan kecepatan gerak maksimal yang terdiri dari kemampuan kecepatan gerak maksimal speed, kemampuan kecepatan gerak maksimal agility dan kemampuan kecepatan gerak maksimal quickness.

(3) Kemampuan kekuatan yang terdiri dari kemampuan kekuatan maksimal (maximum strength), kemampuan kekuatan yang cepat (speed strength/power) dan kemampuan daya tahan kekuatan (strength eEndurance). (4) kemampuan daya tahan yang terdiri dari kemampuan daya tahan an- aerobik (an-aerobic endurance) dan kemampuan daya tahan aerobik (aerobik endurance).

Dalam kajian fisiologik, kemampuan fisik ini disebut kemampuan an-aerobik (anaerobic capacity) dan kemampuan aerobik (aerobic capacity). Pengelompok kemampuan ini berdasarkan pada sumber energi yang digunakan atau yang berperan ketika melakukan aktivitas dan lamanya berlangsung aktivitas tersebut. Dalam penerapannya hal ini terkait dengan volume latihan dan intensitas latihan. Karena itu, pelatih harus secara cermat mempertimbangkan banyak hal yang semuanya berdasar pada pemahaman prinsip-prinsip latihan (berdasarkan kajian fisiologik, psikologik dan pedagogik) dan norma-norma beban latihan (volume, untensitas, interval dan densitas). Dengan demikian, pelatih dapat memilih dan menentukan metode dan bentuk latihan apa yang adekuat/tepat untuk melatih dan meningkatkan kemampuan fisik tersebut.

Banyak sekali metode dan bentuk latihan yang dapat digunakan untuk melatih kondisi fisik sehingga dapat meningkatkan kemampuan fisik atlet.  Setiap pelatih harus dapat memahami makna dari metode-metode latihan dan makna dari bentuk-bentuk latihan, serta mampu menafsirkan apa yang dimaksud dengan metode latihan dan apa yang dimaksud dengan bentuk latihan.

Ketika akan melatih, tugas pertama seorang pelatih adalah memahami dengan baik karakter setiap atlet dan karakter cabang olahraganya. Hal ini penting agar setiap latihan yang dilakukan senantiasa sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan prestasi bagi atlet dan cabang olahraganya.  Karena itu, sekali lagi bahwa setiap pelatih harus cermat dalam memilih metode dan bentuk latihan yang tepat guna dan tepat sasaran.

Setiap komponen fisik memiliki kekhasan dalam penerapan metode dan bentuk latihan.  Bagaimana metode dan bentuk latihan ketika melatih kemampuan kelenturan, kemampuan dan kecepatan gerak (SAQ),  kekuatan, daya tahan, kondisi fisik di periode persiapan umum, persiapan khusus, pra kompetisi dan kompetisi utama? Banyak sekali metode dan bentuk latihan untuk meningkatkan kondisi fisik atlet pada setiap komponennya tentunya mempertimbangkan banyak hal ketika akan menerapkannya. 

Norma aturan latihan yang harus dipegang adalah jumlah volume latihan, besarnya intensitas latihan, lamanya istirahat latihan dan banyaknya jumlah densitas latihan harus sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan atlet dan cabang olahraga. Dalam periodisasi, intensitas harus disesuaikan dengan kemampuan atlet dan komponen latihan fisiknya serta manipulasi (pengaturan) volume dan intensitas tergantung pada periodisasi (tahapan) yang sedang berlangsung. Pada awal periode maka volume besar/tinggi berlangsung dan intensitas rendah.  Pada medio (pertengahan) periode volume mulai menurun dan intensitas mulai meningkat, sedangkan pada akhir periode (menjelang kompetisi/perlombaan) maka intensitas tinggi dan volume berada pada titik rendah (< 50 %). (bersambung)