POS KUPANG.COM, KUPANG -- Maria Loretha, seorang ibu rumah tangga asal Kabupaten Flores Timur (Flotim) berhasil meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori I, Bidang Sains dan Inovesi keteknikan.
Selain Loritha, masih ada tiga orang lainnya yakni John Ndolu, Agus Dapaloka dan Bobby Koamesah yang juga meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori berbeda.
Loritha yang adalah seorang petani oleh tim juri dinilai berhasil di bidang sains dan inovasi keteknikan atas usahanya membudidayakan sorgum, jelai, jewawut, padi hitam dan wijen. Dia pun mengolah pangan lokal menjadi panganan ringan kering.
John Ndolu adalah fasilitator pengembangan di WVI. Dia terpilih sebagai penerima NTT Academia Award untuk kategori Inovasi Pembangunan berkas gagasan dan tindaknnya dalam hal revitalisasi budaya yakni penyederhanaan pesta pora dan membuat inovasi Tu’u pendidikan (pengumpulan dana bersama untuk biaya kuliah anak).
Agus Dapaloka adalah seorang guru bahasa dan sastra Indonesia pada SMAK Andaluri, Waingapu. Agus meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori Humaniora dan inovasi sosial budaya karena telah mengubah pola pikir terhadap wanita melalui sebuah buku novelnya yang berjudul “Perempuan itu Bermata Saga”.
Sedangkan Bobby Koamesah adalah seorang dokter dan dosen Fakultas kedokteran Undana Kupang yang punya hobi beternak babi berhasil meraih pengghargaan untuk kategori Enterpreneurship/kewirausahaan. Dokter Boby berhasil mengembangkan bibit babi unggul dan pakan ternak murah tapi berkualitas.
Penyerahan hadiah dan penghargaan kepada empat pemenang berlangsung di Aula Museum Daerah NTT di Kupang, Sabtu (14/01/2011). Turut hadir pada acara penganugerahan ini adalah salah satu anggota DPR RI, Farry Djemi Francis yang juga merupakan anggota FAN NTT.
Para pemenang NTT Academia Award 2011 mendapatkan pengghargaan berupa piagam, trofi dan uang tunai yang diserahkan Kepala Museum NTT, Leonardus Nahak, panitia dan juga anggota DPR RI, Farry Djemi Francis.
Dari FAN yang diwakili salah satu anggotanya, Fary Francis dalam sambutannya mengatakan, malam penganugerahan kali ini merupakan suatu hal yang luar biasa berbeda dengan tahun sebelumnya karena para pemenang tidak pernah diketahui oleh panitia maupun anggota FAN NTT.
Tahun ini katanya, acaranya lebih istimewa. Dia mempertanyakan mengapa tidak ada satupun perwakilan dari pemerintah baik pemerintah kota Kupang maupun propinsi NTT. “Panitia undang (pemerintah) atau tidak?” lalu dijawab oleh panitia bahwa telah mengundang pemerintah untuk hadir dalam kegiatan malam itu namun tidak ada satupun perwakilan pemerintah yang hadir sebagai bentuk dukungan terhadap karya-karya anak Floamora.
“Sangat disayangkan kalau pemerintah setempat tidak ada perhatian terhadap karya-karya anak negeri seperti ini,” katanya kepada Pos Kupang usai acara malam itu. Farry berharap agar dengan penganugerahan penghargaan ini, semakin banyak orang NTT yang berusaha berbuat demi orang banyak.
Sementara Kepala UPT Museum NTT, Leonardus Nahak mengatakan orang NTT harus bangga menjadi orang NTT, banyak hal yang bisa dilakukan atau dibuat untuk NTT asalkan bekerja dengan hati.
Ketua Panitia kegiatan, Candra K Dethan mengatakan, FAN telah selama lima tahun berturut-turut membuat kegiatan serupa dengan mememilih orang-orang yang sudah berbuat banyak bagi perubahan masyarakat tapi belum diperhatikan pemerintah. “Dan di tahun 2011, panitia melalui dewan juri independen telah menetapkan empat tokoh yang telah berbuat lebih untuk NTT dan dunia,” katanya.
Penganugerahan Academia Award 2011 ini diawali dengan diskusi publik bertema refleksi empat pilar kebangsaan yakni, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika dengan pemateri Beny Tukan. (gg)
Komentar mereka
1. MARIA LORETHA : sehari-hari bekerja sebagai petani. Petani budidaya sorgum, jelai, jewawut, padi hitam, wijen. Dan mengolah pangan lokal menjadi panganan ringan kering contoh: jagung pulut menjadi criping jagung pulut, pisang menjadi pisang sale, kue kering dari tepung sorgum, chips ikan, dan lain-lain. Semua makanan ringan kering ini hanya diproduksi saat musim panas. Karena membutuhkan tenaga surya matahari. Sementara budidaya benih lokal hanya terpusat di kebun saya sebagai pusat BANK BENIH. Penyebaran hanya pada kelompok tani-kelompok tani (poktan) yg membutuhkn, ada kesadaran diri pribadi untuk mengembangkan dan melestarikan. Saya diundang poktan dulu baru saya datang bagi benih.
Jagung solo atau watabolong atau lepang atau sorgum bukan makanan kelas dua. Dia sengaja dilupakan dan ditinggalkan padahal dari segi gizi jauh di atas beras. Sebagai orang NTT saya bangga dengan kekayaan sumber pangan NTT yang sangat beragam. Kepada pemerintah, NGO dan seluruh masyarakat NTT, mari dukung perempuan penghasil pangan.
2. JOHN NDOLU : Saya bekerja selama 24 thn tiga bulan di WVI se bagai Fasilitator Pengembangan. Dan kebetulan mendapat penghargaan dan Jaminan hidup dari Ashoka maka saya mundur dari WVI karena tidak boleh menerima Gaji dobel. Maka sekarang saya melayani MasyarakSat sambil bertani.
Saya dapat terpilih karena gagasan revitalisasi budaya yakni penyederhanaan pestapora dan membuat inovasi Tu’u pendidikan (pengumpulan dana bersama untuk biaya kuliah anak) mengapa harus tu’u pendidikan? Karena pendidikan merupakan investasi pembangunan bangsa.
3. AGUS DAPALOKA: “Perempuan itu Bermata Saga” adalah sebuah novel yang berkisah tentang cinta seorang wanita. Wanita yang selama ini dipandang sebagai lemah dan selalu kalah dari laki-laki. Pandangan itu begitu keliru sebab telah ternyata bahwa dengan cinta dan sentuhan kelembutannya, wanita menunjukkan kekuatan yang dasyat. Tidak mudah seorang wanita menerima resiko “Tetap teguh mencintai” saat sebuah perubahan pada apa yang dicintai begitu menawarkan ketakutan. Cara berpikir terhadap wanita harus diubah dan berhenti meremehkan wanita.
4. DR. BOBBY KOAMESAH : Inti bisnis peternakan babi. Produksi bibit babi unggul, produksi pakan ternak murah dengan kandungan bahan lokal 2012 mulai produksi pakan. Pengembangan peternak dengan bantuan bibit, pakan, bantuan teknis dan manajemen dengan satu keluarga lima ekor, dapat meningkatkan penghasilan Rp 1 juta perbulan untuk peternak. Saat ini produksi 1.000 sampai 2.000 ekor bibit per tahun. Sedangkan produksi pakan berkualitas dua sampai lima ton setiap hari.