165 Rumah Saya Seperti Kandang Kambing - Pos Kupang
Pos Kupang
Rumah Saya Seperti Kandang Kambing
Minggu, 15 Januari 2012 21:47 WITA
Share |

POS KUPANG.COM --- MENDUNG menggantung di atas langit Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, saat keluarga Dominggus da Costa bercanda dengan anaknya di kediaman mereka di lokasi resetlement Manusak, Selasa (6/12/2011) lalu.

Rumah berdinding bebak dengan luas 6 x 6 meter persegi itu, ditempati Dominggus bersama tujuh anak bersama seorang istri sejak enam tahun lalu.

Dalam rumah yang mulai reot ini hampir tak terlihat perabotan rumah seperti meja dan kursi, kecuali tempat doa dan gambar- gambar kudus yang menggambarkan keyakinan Dominggus sebagai seorang Katolik.

Rumah dengan dua kamar ini hanya terdapat dua tempat tidur sederhana berkelambu kusam. Tak ada lemari menyimpan pakaian, sehingga pakaian keluarga ini berserakan di atas tempat tidur dan meja dengan bentuknya seadanya dalam kamar. Lantai rumah bertanah, juga tidak rata.

"Rumah saya ini seperti kandang kambing, tidak ada apa-apa di dalamnya. Kami tidak punya uang untuk membeli lemari dan kursi, makan saja kami susah," kata Dominggus kepada Pos Kupang saat mengunjungi lokasi resetlement Manusak bersama delegasi Uni Eropa, Moamar Vebry dan beberapa aktivis LSM lainnya.

Rumah Dominggus ini merupakan salah satu dari puluhan bahkan ratusan rumah resetlement di Desa Manusak. Letaknya tidak jauh sekitar 2 km dari kantor Desa Manusak. Desa Manusak sendiri terletak paling Timur dari wilayah Kecamatan Kupang Timur.

Pada umumnya penghuni lokasi resetlement ini merupakan warga eks pengungsi Timur Timur yang meninggalkan kampung halaman mereka September 1999, pasca jajak di Timor Timur.
Pada umumnya mereka hidup dalam keprihatinan.

Dominggus mengisahkan, sebelumnya ia bersama keluarga menempati kamp pengungsi sebelum direlokasi ke lokasi resetlement. Keinginannya untuk menjadi warga negara Indonesia membuatnya tetap ingin tinggal di Timor Barat, meski dalam suasana keprihatinan.

Sekitar enam tahun lalu, ia bersama ratusan KK mulai menempati lokasi resetlement ini. Di lokasi ini, mereka mendapat lahan secukupnya untuk bertani dan rumah seluas 6 x 6 meter persegi untuk ditempati. Namun rumah yang disediakan pemerintah itu tanpa dilengkapi fasilitas penerangan listrik dan air. "Jadi, untuk penerangan pakai lampu biasa, sekarang baru ada rencana pasang listrik tapi belum. Kalau air, timba di sebelah sana," katanya sambil menunjuk sumber air yang agak jauh dari rumahnya.

Untuk makan sehari-hari, Dominggus hanya berharap pada kebun jagung miliknya yang hanya bisa ditanam pada musim hujan. Sementara pada musim panas, ia bersama keluarga lainnya terpaksa makan apa saja yang dihasilkan dari kebun mereka. "Ya, kami hidup begini sudah, makan jagung, ubi atau apa saja dari kebun," jelasnya.

Bantuan pernah didapatinya belum lama ini yaitu 25 ton beras untuk 115 KK. Namun, jumlah itu terasa sangat sedikit.
Hal yang sama juga diakui oleh Agusti da Santo. Sambil menggendong anaknya yang sedang sakit, Agusto mengatakan untuk hidupnya bersama anaknya, ia harus bekerja keras menggarap lahan di pekarangan rumah. "Untuk makan ini, kita makan apa saja. Ada ubi, jagung atau apa saja di kebun," jelasnya.

Dominggus dan Agusto merupakan gambaran kehidupan warga eks pengungsi Timor Timur yang menempati lokasi resetlement. Nasib mereka pada umumnya sama, terpaksa menempati perumahan yang disiapkan pemerintah di lokasi-lokasi resetlement. Namun mereka lebih beruntung karena tanah lahan mereka masih bisa ditanami. Namun, hingga kapan kehidupan mereka seperti ini.

Uni Eropa sudah sejak tahun 1999 membantu para pengungsi korban politik ini. Periode bantuan tersebut terus berlanjut hingga 2010 lalu.

Delegasi Uni Eropa, Mumar Vebry, menjelaskan, komitmen bantuan tersebut  terus dilanjutkan lagi hingga tahun 2013.
Uni Eropa akan memberikan bantuan untuk Program Sesama bagi warga lokal dan warga eks pengungsi Timor Timur.

Bantuan sebesar 1.080.000 euro tersebut akan difasilitasi oleh Care Internasional di 15 desa di Kabupaten Kupang. Bantuan tersebut dilaksanakan selama 36 bulan hingga akhir 2013 nanti.
Selain itu, Uni Eropa juga akan menyalurkan bantuan sebesar 945.000 Euro difasilitasi oleh UN Habitat untuk program penguatan kapasitas masyarakat tersebut.

Vebry dari Uni Eropa menjelaskan bantuan dalam program Aid to Uprooted (AUP) tersebut merupakan proyek yang didanai Uni Eropa untuk daerah-daerah yang terkena imbas konflik. "Ini untuk membantu mereka yang tercerabut dari daerahnya karena konflik," jelasnya.

Sampai Kapan Disebut Pengungsi
Menyandang status sebagai pengungsi eks Timor Timur tentu saja tidak menyenangkan bagi warga Timor Timur yang kini memilih menjadi warga Indonesia. Namun, anggapan sebagai warga pengungsi terus saja melekat pada diri setiap orang kelahiran Timor Leste tersebut.

Kini mereka menyandang status sebagai warga baru. Pemberian nama ini karena mereka kini sebagai warga yang baru mendiami tempat-tempat baru di sekitar warga Nusa Tenggara Timur.
Mereka disebut sebagai eks pengungsi karena mendiami barak- barak pengungsian dan lokasi-lokasi resetlement.

Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, yang ditemui belum lama ini mengatakan, warga baru atau eks pengungsi di Kabupaten Kupang atau wilayah lainnya di NTT apabila kondisi hidup mereka belum berubah. Mereka akan disebut warga biasa bila kehidupan mereka sudah layak, sudah memiliki rumah yang dididamkan dan menjalani kehidupan seperti warga biasa lainnya.

Dan, untuk mencapai itu diperlukan kerja keras semua pihak, termasuk para eks pengungsi tersebut.