97 Kupang Alami Inflasi Tertinggi di Indonesia - Pos Kupang
Pos Kupang
Kupang Alami Inflasi Tertinggi di Indonesia
Jumat, 13 Januari 2012 21:36 WITA
Share |

KUPANG, POS KUPANG.Com  -- Secara umum, Kota Kupang mengalami inflasi tertinggi di Indonesia pada Desember 2011 dengan nilai 2,19 persen, setelah sebelumnya mengalami deflasi pada tiga bulan yang lalu. Adapun komoditas yang memberikan andil terbesar ialah pengeluaran pada kelompok transportasi, yakni 4,25 persen.

Tarif angkutan udara dan harga beras pada bulan Desember memberikan andil inflasi tertinggi, yakni sebesar 0,6908 persen dan 0,2165 persen. Selanjutnya diikuti oleh sawi putih sebesar 0,1774 persen dan daging ayam ras 0,1236 persen.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik NTT, Ir. Poltak Siahaan, ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (13/1/2011). Menurutnya, inflasi tersebut dipicu dengan banyaknya permintaan dalam jasa transportasi udara pada masa liburan Natal dan Tahun Baru.

"Sebenarnya ini merupakan akumulasi karena tiga bulan sebelumnya Kota Kupang mengalami deflasi. Secara keseluruhan total inflasi NTT yang merupakan gabungan antara Kota Kupang dan Maumere ialah sebesar 4,32 persen, sementara secara nasional total inflasinya ialah 3,79 persen," ujarnya.

Dalam hukum ekonomi, lanjutnya, apabila permintaan bertambah dan penawaran tetap, maka harga akan naik. "Hal ini tampak jelas sekali pada bulan Desember lalu, semua harga tiket pesawat naik, kecuali Batavia. Batavia cukup membantu dengan memberikan extra flight sehingga harga tiketnya tetap," lanjut Poltak.

Selain harga transportasi udara, penyumbang inflasi terbesar kedua ialah beras. Hal ini dikarenakan bulan Desember ialah musim hujan yang dikhawatirkan banyak tanaman padi yang rusak . Sebelumnya juga telah beredar isu bahwa pemerintah akan menaikkan harga pokok pembelian petani.

"NTT merupakan daerah kepulauan dan pedagang biasanya mengantisipasi kekurangan suplai bahan makanan dengan menyimpannya di gudang. Selama musim hujan dan kemungkinan cuaca buruk selama masa pengangkutan, membuat stok barang menipis. Apalagi, biaya penyimpanan dan transportasi yang lebih lama akan dibebankan pada konsumen. Sehingga apabila stok disimpan tiga hari saja, harganya sudah naik," jelas Poltak.

Untuk menekan terjadinya kenaikan harga yang cukup tinggi, Poltak berharap adanya niat baik para pedagang untuk tidak terlalu banyak mengambil untung dalam situasi tersebut. Selain itu juga, peran pemerintah dalam mendukung dan memperbanyak pedagang sehingga harga bisa terkontrol.

"Tentunya sistem perdagangan jangan dimonopoli oleh satu orang saja. Jika seperti itu, sama saja artinya. Namun saya lihat di Kota Kupang ini perekonomiannya merata dan belum ada sistem monopoli oleh satu konglomerat," tandasnya.