TERPURUK. Sendiri. Aku sendiri, terpuruk di sini. Di sudut kamar yang remang ini. Akh, aku tak sendiri. Air mataku selalu bersamaku, menemaniku menghiasi wajahku yang telah lelah menyalurkannya. Wajah yang telah lelah menangis, namun air mata tak kunjung berhenti mengalir.
Wajahku, wajah yang nyaris tak kukenali lagi. Wajah yang hanya memancarkan kesedihan, penderitaan, kekecewaan, penyesalan, duka dan luka yang tak terobati. Aku terpuruk sendiri bersama duka dan lukaku.
Aku telah sendiri. Dia yang selalu menemaniku telah pergi. Di sudut kamar ini, hanya air mata yang berlinang tanpa henti. Di sudut kamar ini, kenangan-kenangan tentang dia dan aku terus berputar di kepala. Kenangan tentang masa yang indah, cinta yang manis dan kasih yang syahdu. Kenangan tentang dua insan yang selalu bersama bak sepasang merpati putih, dua insan yang berpadu dalam satu cinta, dua insan yang bahagia. Ya, bahagia karena kala itu mereka masih bersama.
Namun, kenangan-kenangan itu justru menjadi alat picu air mata agar makin deras mengalir, membanjiri wajah yang telah kusam, wajah yang asing. Aku kembali menangis dalam keterpurukanku di kamar ini sampai suara itu menarikku kembali ke alam nyata.
"Ira, Kamu masih menangis? Ra, Kakak tahu kamu sedih. Kamu masih belum bisa berpisah dengannya. Kakak tahu kamu tersiksa. Tapi dengan terus-terusan menangis seperti ini semuanya tidak akan kembali seperti sediakala. Kamu malahan akan memperburuk keadaan. Ra, kamu sudah tiga hari mengurung diri dan menangis, baahkan tanpa makan dan minum. Nanti kamu sakit, Ra. Janganlah menghukum dirimu seperti ini. Ini bukan salahmu. Ini takdir, Ra."
Suara itu terus-menerus membujukku, agar aku berhenti mengalirkan air mata ini. Namun seperti apapun kata-kata yang keluar dari mulutnyadan sekeras apapun aku berusaha, air mata ini tak kunjung berhenti berlinang. Ia mungkin sudah terbiasa mengalir belakangan ini hingga tak tahu bagaimana caranya berhenti. Akupun sudah lupa bagaimana cara menghentikannya.
Namun seperti biasa, pemilik suara itu tak bosan-bosannya membujukku dengan kata-katanya dan berusaha membantuku mencari cara untuk menghentikan derasnya aliran air asin ini.
"Ra, kalau kamu begini terus, kamu bisa sakit. Reno tentunya tak ingin melihat dirimu seperti ini. Apalagi jika ia tahu kalau kamu begini karenanya." Kak Anggi masih berusaha membujukku.
Ya. Reno pasti tak ingin melihatku seperti ini. Tapi apa yang harus kulakukan? Orang yang selalu bersamaku kini telah pergi dari sisiku. Dia yang selalu mengisi hari-hariku, memberi warna yang indah dalam hidupku dan dia yang rela berkorban untukku tanpa memikirkan keselamatannya.
Aku pun larut kembali dalam kenanganku bersamanya. Kenangan tentang kejadian yang membuatku sampai begini, kenangan yang tak ingin kukenang. Namun sekuat apa pun aku berusaha untuk melupakannya, semakin sering pula ia datang padaku dan memaksaku mengalami kembali kejadian waktu itu.
* * * *
"Ra, dengarkanlah dulu penjelasanku. Kemarin itu...."
"Apa?! Kamu mau bilang kalau kemarin kamu tidak bisa menemaniku dalam acara temannya Kak Anggi karena lupa? Kamu mau bilang kalau kamu terlalu sibuk dengan skripsimu? Iya kan? Huh, basi Reno! Kamu terlalu sering memakai alasan itu. Cari alasan lain kenapa? Kamu memang pembual! Kamu pembohong yang payah!" hardikku ketika ia berusaha menjelaskan. Aku tak memberinya kesempatan berbicara. Aku geram padanya.
"Tapi sungguh, Ra. Memang itulah yang terjadi. Aku tidak sedang berbohong, Ra. Percayalah padaku!" pintanya seraya menunjukan ekspresi yang penuh harap. Aku tak peduli.
"Percaya? Mati saja kau!"
Setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, aku segera melesat pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun membuang mata pada sosoknya. Itulah puncak kemarahanku, puncak kekecewaanku, dan pelampiasanku. Kata-kata itu tanpa sadar keluar dari mulutku. Kata-kata yang menjadi awal penderitaanku, kata-kata yang ternyata membuatku menyesal seumur hidupku, karena keesokan harinya ada berita terburuk yang kudengar.
Ditemukan mayat seorang pria tergantung di kamar kosnya. Dari hasil otopsi disimpulkan bahwa ia bunuh diri sebab tidak ditemukan bekas-bekas penganiayaan pada tubuhnya. Ditemukan pula secarik kertas di meja belajarnya yang bertuliskan "Aku melakukan ini agar kau percaya. Percayalah padaku!"demikianlah pesan yang tertera pada kertas tersebut .
Dari KTP yang ditemukan di sekitar TKP diketahui bahwa korban bernama Reno Krisanto.
"TIDAK!" pekikku yang tengah menyaksikan siaran berita pagi. Siaran yang dengan jelas menampilkan keadaan mayat yang diberitakan. Keadaan mayat seorang pemuda yang tergantung di kamar kosnya. Keadaan pemuda yang terbujur kaku. Keadaan pemuda yang kemarin masih bersamaku, berdebat denganku tentang hal sepele. Pemuda yang kukenal. Pemuda yang seminggu lagi akan hidup bersamaku selamanya. Dia adalah tunanganku sejak setahun yang lalu. Reno Krisanto.
Aku yang strok tiba-tiba ambruk dan setelah itu. Aku tak tahu. Saat tersadar aku telah berada di kamar sebuah RS. Yang kutahu dari Kak Anggi, aku pingsan setelah menyaksikan berita kematian Reno dan kepalaku membentur sudut meja. Benturan itu mengakibatkan luka di kepalaku hingga aku mengalami pendarahan yang hebat dan dilarikan ke RS. Aku tak sadarkan diri selama 3 hari lamanya. Saat kutanya tentang Reno, Kak Anggi hanya mengatakan bahwa Reno telah dimakamkan sehari sebelum aku sadar. Reno dimakamkan oleh keluarganya di tanah kelahirannya.
* * * *
"Ra, sudah. Jangan begini terus! Ini bukan salahmu. Kakak mohon, jangan siksa dirimu! Kakak akan buatkan makanan kesukaanmu dan kakak harap kamu mau memakannya walaupun hanya sesuap demi kesehatanmu, demi kakak atau setidaknya demi Reno yang pasti tak ingin melihatmu begini," pinta Kak Anggi yang lalu beranjak meninggalkanku.
Aku tidak menghiraukannya. Aku masih larut dalam kenangan hari itu dan kata-kata laknat yang kuucapkan, kata yang telah mengubah statusku menjadi seorang pembunuh.
"Seandainya aku tak mempermasalahkan acara malam itu, seandainya aku tidak berdebat dengan Reno, seandainya aku tak egois dan mau percaya padanya, seandainya kata-kata itu tidak terlontar dari bibirku, seandainya... RENO!!!" Pekikku dalam hati.
Aku masih menangis dalam keterpurukanku di sudut kamar ini. Dalam tangisanku, pandangan mata yang telah rabun ini menangkap sosok sebuah logam runcing dan berkilauan di atas meja belajarku.
"Mungkin inilah alat bagiku untuk keluar dari kepedihan ini. Alat untuk mengakhiri penyesalan dan kekecewaan ini. Alat untuk menebus semua dosaku terhadap Reno."
Aku segera bangkit dan meraihnya. Dengan penuh keyakinan, aku menyayatkan ujung runcing benda itu tepat di pergelangan depan tangan kananku...
"Reno, maafkan aku. Sekarang aku percaya padamu. Aku datang. Tunggu aku!"***
Lili, 20 Juli 2011,
* Cerpenis adalah Aspiran Suster-Suster Cinta Kasih St. Carolus Boromeus.