SEPANJANG tahun 2011, tim kesenian Nusa Tenggara Timur mengikuti sekitar lima kali festival seni kreasi tari dan pertunjukan di tingkat nasional. Di ajang nasional tersebut pula berbagai tarian asal NTT diperlihatkan kepada seniman-seniman tari tingkat nasional.
Namun yang lebih membanggakan adalah dari lima kali penampilan tersebut, NTT berhasil meraih prestasi sebagai tim terbaik. Bahkan dalam festival tari Nusantara tingkat nasional yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta bulan September lalu, tim NTT berhasil menyabet juara umum.
Ini merupakan prestasi dari sebuah kerja keras Dra. Yohana Lingu Lango dan para staf Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya NTT yang mulai membangun citra Taman Budaya NTT agar dikenal di Kota Kupang dan NTT dan seni budaya NTT yang dikenal di luar NTT.
Yohana yang datang ke Taman Budaya dengan tugas sebagai kepala lembaga ini pada awalnya menemui kantor ini dengan kondisi yang serba kekurangan, namun secara perlahan semua kekurangan itu ditanggulangi bahkan kini Taman Budaya NTT bisa mengharumkan nama NTT di tingkat nasional. Berikut perbincangan wartawan Pos Kupang, Alfred Dama, dengan Ibu Yohana Lingu Lango di penghujung tahun 2011.
Sejak Anda bertugas di lembaga ini, banyak perubahan yang Anda lakukan. Bisa diceritakan?
Saya bekerja di Taman Budaya sejak April 2009. Waktu itu kondisi kantor sangat memprihatinkan, tidak memiliki pagar. Sapi dan kambing diikat di sekitar kantor ini. Selain itu, ada 17 KK (kepala keluarga) pengungsi dari Timor Leste berada di Taman Budaya, mempergunakan salah satu tempat latihan anak-anak. Mereka jadikan kamp pengungsi; mereka tinggal di Taman Budaya ini sekitar 10 tahun. Lingkungan kantor cukup kotor dan tidak terawat. Sebagai seorang ibu dan seorang pegawai, saya melihat dan prihatin karena tempat ini kumuh. Ada sapi dan kambing berkeliaran di sekitar kantor. Waktu saya datang juga sarana dan prasarana di UPT Taman Budaya tidak tersedia, seperti kursi dan meja untuk pegawai hampir tidak tersedia.
Melihat kondisi itu, apa yang Anda pikirkan?
Saya cukup kecewa, cukup sakit ketika masuk di UPT Taman Budaya. Kursi tempat saya duduk saja tidak ada, jadi saya beli sendiri, saya bawa dari rumah karena memang tidak tersedia kursi yang memadai, dalam arti untuk yang sederhana saja tidak ada, apalagi yang memadai. Jadi meja-meja untuk staf bekerja hanya beberapa saja. Saya lihat banyak staf duduk di bangku. Bangku juga kondisinya sangat memprihatinkan, ada lubang sana sini, pecah dan sebagainya. Setelah saya merenung kira-kira satu bulan dan saya hanya masuk untuk menyesuaikan diri dulu karena sungguh memprihatinkan keadaan di sini. Memasuki bulan kedua, saya berpikir bahwa saya sebagai orang beriman, saya ingat Tuhan mengatakan, sekalipun di tempat kering, engkau tinggal di sana, pasti aku akan memberkati. Itu yang menjadi kekuatan saya, sehingga saya mulai mencoba merangkul pegawai-pegawai yang ada di sini dan mengajak bersama membangun tempat ini.
Bagaimana dengan kondisi pegawai di sini saat itu?
Ada kesan bahwa tempat ini merupakan tempat bagi pegawai yang tidak dibutuhkan di tempat lain. Dan, saat saya mulai menata administrasi dan kelembagaan, saya melihat pegawai-pegawai keuangan, pegawai-pegawai yang ditempatkan di sini adalah pegawai-pegawai yang kurang memiliki kompetensi, kecuali Kasi TU-nya sarjana tari, kepala seksi pertunjukan sarjana pendidikan, kepala seksi seni rupanya sarjana etnologi. Yang lain, golongan III, II dan I itu pegawai-pegawai yang hanya mengurus administrasi. Tetapi administrasinya masih amburadul juga. Jadi, pelan-pelan saya mulai membimbing mereka untuk bagaimana bekerja dalam organisasi seperti pada sebuah kantor.
Saat Anda datang kan ada pengungsi, bagaimana Anda memindahkan mereka?
Saya mengawali dengan bersurat kepada Gubernur NTT supaya pengungsi bisa keluar dari sini. Saya juga melakukan pendekatan terus-menerus dengan pengungsi secara kekeluargaan. Akhirnya pada tanggal 4 September 2009, pengungsi mulai keluar dari UPT Taman Budaya. Setelah pengungsi keluar, kami mulai membersihkan lingkungan kantor. Jadi selama seminggu kami mencuci tempat ini. Anda bisa bayangkan bagaimana tempat bekas kamp pengungsi sangat kotor karena mereka juga membuat WC darurat di sekitar tempat yang dijadikan kamp pengungsi. Waktu itu pengawai ada 15 orang dan semuanya saya ajak untuk membersihkan tempat itu.
Ada juga kelompok Pendidikan Anak Usia Dini?
Ya, saya juga yang membentuk itu. Jadi pada bulan Juli 2009, saya mencoba untuk kelompok Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Yang pertama saya membentuk satu kelompok. Sementara berjalan saya membentuk lagi satu kelompok. Tahun 2010 saya membetuk lagi satu kelompok tempat penitipan anak (TPA). Jadi ada tiga bentuk kelompok yang ada di sini. Saya manfaatkan satu gedung yang ada di belakang. Maksudnya untuk membuat keramaian di UPT Taman Budaya. Supaya orang mengenal tempat ini. Dan, bagi masyarakat yang ingin menyekolahkan anak-anaknya bisa bersekolah di Taman Budaya, sehingga dengan sendirinya masyarakat bisa mengetahui Taman Budaya.
Bagaimana Anda merekrut anak-anak untuk PAUD? Bagaimana dengan dukungan sarana-prasarananya?
Awalnya saya membuat format dan meminta pegawai saya untuk merekrut anak-anak usia dini dari rumah ke rumah. Setelah berjalan, di awal pembentukan kelompok, saya mendapat bantuan dana dari Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah anak yang bersekolah di UPT Taman Budaya mulai meningkat, dari 30 anak menjadi 50 anak. Sampai saat ini sudah banyak orang tua yang mengenal Taman Budaya. Awalnya juga saya berusaha untuk membina guru-gurunya, karena guru-guru yang ada waktu itu belum memahami pendidikan usia dini. Apalagi dua staf yang saya tunjuk sebagai kepala sekolah/pengelola hanya bisa mengurus tari-tarian saja. Ketika saya menunjuk mereka untuk mengelola pendidikan anak usia dini, tentunya ini merupakan hal baru. Sampai pada tahun ini, jumlah anak sudah mencapai 80 orang.
Jadi sekarang siswa PAUD di sini tidak perlu dicari lagi?
Ya, sekarang orang tua anak usia dini sudah datang sendiri dan tidak dicari lagi. Sekarang banyak anak yang berasal dari daerah yang cukup jauh seperti Oesapa. Anak yang bersekolah di sini berasal dari kalangan menengah ke atas. Karena alat permainan di dalam atau indoor-nya lengkap. Walaupun tidak seperti kelompok-kelompok yang sudah lama, tetapi in door yang tersedia cukup memadai dan outdoor juga tidak kalah dengan kelompok-kelompok lain yang sudah berjalan 6-7 tahun. Dan, perlu diketahui juga bahwa UPT Taman Budaya NTT merupakan satu-satunya UPT Taman Budaya di seluruh Indonesia yang memiliki Kelompok Pendidikan Anak Usia Dini yang cukup baik. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sudah beberapa kali datang mengunjungi kelompok Pendidikan Anak Usia Dini di sini. Dan saya berencana, tahun depan (2012) saya akan membentuk kelompok Taman Kanak-Kanak, jadi TK Satu Atap.
Jadi sekarang orang sudah tahu lokasi Taman Budaya ya?
Dari Pendidikan Anak Usia Dini ini, orang sudah mengenal UPT Taman Budaya. Saya juga menyediakan profil-profil yang berkaitan dengan kegiatan Taman Budaya dan saya sebarluaskan. Saya juga kadang-kadang dalam rapat-rapat dinas agak emosi, karena orang tidak tahu Taman Budaya. Pada saat rapat orang selalu bertanya kepada saya, ibu di mana? Saya bilang di Taman Budaya. Mereka bertanya lagi, di mana itu? Wah... Saya juga melakukan pengumuman melalui media lokal di Kupang seperti Pos Kupang tentang penerimaan penari-penari untuk mengikuti latihan di sini. Dalam pengumuman tersebut disampaikan jadwal latihan. Di UPT Taman Budaya juga dibuka kursus sasando dan kursus organ. Kami sengaja mengumumkan lewat media agar masyarakat yang berminat bisa mencari kantor UPT Taman Budaya dan mendaftar. Selain itu. sebagai salah satu bentuk promosi agar masyarakat tahu bahwa sebetulnya UPT Taman Budaya merupakan tempat bagi anak-anak kita yang ingin mengasah kemampuan mereka dalam berkesenian dan bermusik.
Selain menata kembali kantor ini dan berbagai fasilitasnya, bagaimana dengan pengembangan seni tradisi hingga prestasi di tingkat nasional?
Saya tidak mempunyai basic seni dan budaya. Saya punya pengalaman ketika di dunia pendidikan, kalau kerja dengan tim akademisi, banyak hal yang kita peroleh. Maksudnya kita dikritisi, juga diberi masukan, diberi saran untuk kita bisa melakukan sesuatu. Mulai tahun 2009, saya mencoba bekerja sama dengan Institut Kesenian Indonesia (ISI) Yogyakarta, baik dari segi tarinya, musiknya, maupun dari segi seni rupanya. Jadi tiga aspek ini yang saya coba bangun komunikasi, bekerja sama dengan ISI Yogyakarta untuk menggali potensi seni kita.
Bagaimana dengan penampilan tim kesenian kita di tingkat nasional?
Ya... jadi mulai 2009 juga, kita mencoba untuk megikuti kegiatan-kegiatan di tingkat nasional dan tentu ke tingkat nasional itu, kita tidak sekadar berpartisipasi. Kita ikut beberapa kriteria yang diberikan oleh panitia pusat, agar kita bisa mengikuti kompetisi. Berkat kerja sama yang dibangun dengan ISI Yogyakarta, maka mulai 2009 itu kita mendapatkan apresiasi dan terus juara dan mendapatkan penghargaan dari pusat. Jadi setiap event yang kita ikuti mulai tahun 2009, 2010 dan 2011 ini kita selalu mendapatkan apresiasi. Terakhir kita mendapatkan juara umum, menyingkirkan 32 propinsi.
Sejak Anda di sini, sering bawa rombongan keluar daerah. Apakah staf ibu juga dibawa untuk mendampingi rombongan?
Hampir semua staf saya secara bergiliran ikut bila ada pementasan di luar darah. Jadi caranya begini, kalau 20 orang yang masuk di DPA, dan tiketnya agak murah, saya bisa masukkan staf saya untuk terlibat. Saya juga memberikan mereka uang saku yang sama dengan rombongan penari dan pemain musik. Tidak ada kesejahteraan lain yang bisa diberikan kepada staf saya. Mereka sudah cukup membantu saya, cukup melakukan perubahan-perubahan bersama-sama dengan saya.
Selama di sini, Anda bersama tim Anda juga menggali budaya daerah?
Ya, karena NTT ini beragam, kita punya budaya yang beragam. Tidak seperti di Jawa dan Bali, kita di NTT agak unik karena kita memiliki beragam budaya dan sangat unik. Jadi secara bergiliran, misalnya tahun ini etnis Sikka, nanti etnis Timor (tetapi etnis Timor ini dibagi-bagi lagi), nanti Flores Timur, Manggarai, Sumba, dan lain-lain. Jadi secara bergiliran kita mengatur supaya semua kabupaten bisa kita promosikan ke tingkat nasional.
Tapi seni yang ditampilkan dalam berbagai festival sudah sedikit dimodifikasi?
Agak berbeda kami lakukan di sini, karena kami mengacu pada tradisi dan tentu ada gerakan dan kontemporernya. Karena kita mengikuti kriteria yang ditetapkan dari pusat dan semua daerah mengikuti itu. Pedomannya kita mengacu pada tradisi, tradisi itu otomatis 60 persen, terus 40 persennya itu gerakan sama musiknya. Karena kalau monoton, orang zaman sekarang tidak mau lagi yang seperti itu. Kalau monoton, mungkin lebih tepat kalau kita lakukan pada saat-saat ritual adat.
Kalau pertunjukan harus mengikuti kriteria tingkat nasional. Kalau pertunjukan hanya tradisi, untuk kalangan kita saja itu bisa dipertunjukan dalam festival.
Apakah itu bagian dari tugas Taman Budaya?
Bagian dari tugas dan fungsi UPT Taman Budaya adalah menggali, mengembangkan, membina dan melestarikan. Selain menggali, membina dan melestarikan, UPT Taman Budaya juga dituntut untuk mempromosikan, mengembangkan. Jadi seni budaya ini tidak statis, tetapi dinamis dan mengikuti perkembangan dan perubahan yang terjadi. Ini hal penting yang perlu kita sikapi. Walaupun di akhir tahun 2011, saya mendapatkan banyak kritikan terhadap tarian-tarian garapan ini, tetapi saya percaya betul apa yang saya lakukan ini tidak keluar dari kriteria yang diberikan. Saya tidak keluar dari tradisi dan kriteria festival yang diberikan oleh panitia kepada tiap-tiap propinsi. Itu yang menjadi kekuatan saya.
Untuk festival tentu diperlukan banyak penari. Apakah ada kesulitan mencari penari untuk dibawa ke tempat festival?
Tidak ada kesulitan karena banyak yang mendaftar. Minat masyarakat untuk menari cukup tinggi. Ada sekolah-sekolah, guru-guru dan mahasiswa datang mendaftar. Kita kewalahan juga karena kita punya tenaga yang tersedia sangat terbatas.
Tahun 2011 lalu, Taman Nasional Komodo masuk New7 Wonders, tentu ini diperlukan pengembangan seni dan tarian tradisional untuk mendukung pariwisata?
Saya pikir, kita harus mempertunjukkan keunikan budaya kita yang begitu beragam di NTT. Kita perlu kembangkan, kita perlu promosikan, kita perlu lestarikan karena NTT berbeda dengan propinsi lain. Tiap-tiap kabupaten memiliki tarian dan kita punya corak tenunan. Ini kesempatan kita untuk menunjukkan kekayaan kita. Momentum ini harus dimanfaatkan sehingga wisatawan datang tidak hanya mengagumi komodo dan keindahan Taman Nasional Komodo, tetapi juga kesenian, budaya dan tradisi kita.
Tahun 2013 NTT akan menjadi tuan rumah dengan Sail Komodo. Apa yang harus kita lakukan?
Saya pikir Sail Komodo 2013, tanpa kita melakukan persiapan dari sekarang ini dengan berbagai sektor terkait dan masyarakat tidak siap, maka tidak mungkin kita sukses. Dari sekarang kita harus mensosialisasikan Sail Komodo 2013 dengan cara kita masing-masing, sesuai dengan tugas, fungsi kita masing-masing.
Berkaitan dengan kepariwisataan, ada banyak destinasi unggulan kita yang ada di kabupaten dan perlu dibenahi, dalam arti bahwa kita siapkan sarana prasarana yang bisa dijangkau untuk orang melihat di sana. Jangan sampai toilet saja tidak ada. Padahal di tempat itu, ada keunikan yang perlu dipromosikan.
Apakah UPT Taman Budaya dengan pemda-pemda yang ada di NTT untuk pengembangan kesenian tradisi di daerah-daerah?
Memang kami punya kerja sama. Setiap tahun kita menganggarkan untuk membina tiga orang dari tiap-tiap kabupaten. Karena kami tidak punya dana untuk turun ke kabupaten. Kami hanya punya sedikit dana untuk memanggil tiga orang yang berkaitan dengan musik, berkaitan dengan tarian dan berkaitan dengan lukis. Untuk sementara itu yang kami panggil. Tetapi yang benar-benar melakukan, bukan sekedar orang administrasi, pegawai di kantor disuruh datang. Orang yang dipanggil adalah orang-orang yang memahami betul tari, musik dan seni rupa. Kita bina dan setelah kembali, mereka akan menjadi pembina di daerah mereka masing-masing.
Jadi ada suka dukanya juga ya di sini?
Ia banyak suka dukanya. Sukanya kita bangga kalau hasil kerja dan karya kita bisa diapresiasi di tingkat nasional. Ada juga dukanya ya, karena masih ada kekurangan sana sini, mungkin anggaran yang terbatas. Tapi kita di UPT Taman Budaya ini bekerja dengan hati saja, jadi bisa melakukan sesuatu. Untuk kasih latihan anak-anak saja kita tidak memiliki anggaran untuk membeli minuman dan snack. Apalagi persiapan ke tingkat nasional, selalu dengan dana yang minim. Walaupun dana terbatas, kami di UPT Taman Budaya bisa bekerja dengan baik.
Anda bersusah payah juga membangun lembaga dan citra lembaga ini?
Begini, saya mendapat tunjangan dan gaji. Kalau saya tidak bekerja, saya merasa malu dengan orang lain yang bekerja. Tetapi saya memang dasarnya orang yang memiliki jiwa kerja, sehingga kalau hanya datang untuk duduk-duduk saja, saya tidak mau. Puji Tuhan, dengan kerja keras, di akhir tahun 2011 ini, UPT Taman Budaya mengharumkan nama NTT di tingkat nasional, menyingkirkan 32 propinsi lain. (alfred dama)
Data Diri:
Nama : Dra.Yohana Lingu Lango, M.Si
Tempat, Tanggal Lahir : Sumba Barat Daya, 19 Juli 1960
Pendidikan : Sekolah Dasar Masehi (SDM) Lombu SBD 1973 (tamat)
SMP Kristen Waikabubak 1976
SPG Kristen Laikaruda-Anakalang 1979
S1 FKIP Undana jurusan Administrasi Pendidikan tahun 1984
S2 Administrasi Publik-Undana 2011
Keluarga:
Suami : Alex M. Dunga
Anak-anak : Yustinus M.Ng Dunga
Marsel H. D. Loma Dunga
Angelina K.W Dunga
O. Imanuel Dunga
Natalia Putri Dunga