Langkah Strategis Menuju Prestasi Puncak
Rabu, 4 Januari 2012 09:44 WITA
Berita Terkait
"Tes parameter adalah menjadikan data atau referensi acuan penyusunan program latihan dan penilaian kinerja (performa) atlet selama periode berlangsung."
KONI NTT sudah mencanangkan untuk meraih prestasi yang tinggi di PON XVIII 2012 yang akan digelar di Pekanbaru, Riau, September 2012 nanti. Berbagai cara dan program telah disiapkan untuk menuju prestasi itu.
Untuk mendapatkan hasil maksimal dalam meraih prestasi maka dibutuhkan upaya strategis yang komprehensif terhadap cabang olahraga. Pertama, identifikasi potensi cabor (nomor) dan atlet yang telah lolos kualifikasi. Kedua, pemetaan prestasi cabor (nomor) yang akan diikuti oleh atlet kita dan peluang untuk mendapatkan hasil maksimal (goal setting) dengan melihat kemampuan pesaing melalui analisa SWOTs (Strengthening/Kekuatan, Weakness/Kelemahan, Opportunite/Peluang, Threats/Kendala/Hambatan, solution/solusi). Ketiga, identifikasi dukungan teknis dan non teknis untuk mendapatkan hasil maksimal sesuai karaketeristik cabor.
Keempat, implementasi maksimal dari pelatih dalam menentukan target melalui Planning, Organizing, Actuating, Controlling, Evaluating (POACE) ke dalam proses latihan yang adekuat (efesien-efektif). Merencanakan latihan dengan valid dan baik, mengorganisir latihan dengan kondusif, mengaktualisasikan latihan sesuai dengan yang direncakan secara komprehensif, mengawasi dan mengendalikan secara cermat dan tepat, serta mengevaluasi secara konsisten dan periodik. Kelima, berjuang maksimal dalam medan kompetisi.
Dalam berlatih menuju sebuah event, sering banyak strategi dan teknik yang digunakan seorang pelatih atau pengurus untuk mencapai prestasi yang sudah dicanangkan. Untuk melaksanakan latihan yang baik, cara pertama yang harus dilakukan adalah tes parameter fisik.
Suatu prestasi olahraga tidaklah mudah untuk dicapai jika tidak melalui proses yang disebut dengan perencanaan program (planning program). Perencanaan program meliputi isi latihan dan kompetisi, sehingga dikenal dengan istilah yang dinamakan Periodisasi Latihan dan Kompetisi (Perencanaan Tahapan Program Latihan dan Kompetisi).
Periodisasi terdiri fase persiapan (persiapan umum dan khusus), fase kompetisi (Pra Kompetisi dan Kompetisi Utama) dan fase transisi (Pasca Kompetisi). Masing-masing tahapan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga isi yang terkandung di dalamnya pun berbeda terkait cabang olahraga (sports) dan nomornya (events/class).
Karakteristik yang terkandung dalam periodisasi tersebut di antaranya: aspek latihan fisik, latihan teknik/skill, aspek latihan taktik, dan aspek latihan psikologis/mental, serta simulasi kompetisi/uji coba. Dan, yang mengatur kandungan tersebut adalah garis volume dan intensitas sehingga dapat mencapai puncak prestasi yang diharapkan sesuai dengan waktu (tanggal) dan target yang ditetapkan.
Akan tetapi, suatu perencanaan program tidaklah sesuai jika tanpa melalui sebuah pengetesan dan pengukuran yang menggambarkan kondisi atlet yang sebenarnya saat itu. Hal ini tentunya sesuai dengan prinsip bahwa perencanaan program latihan harus bersifat individual meskipun nomor pada cabang olahraga sekalipun sama karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda. Karena itu, tes parameter menjadi modal yang sangat bermakna dan bermanfaat dalam meraih prestasi puncak (peak performance) yang harus disiapkan dengan baik oleh setiap pelatih sebagai bagian dari kompetensinya.
Jadi, manfaat yang sangat penting dari hasil tes parameter adalah menjadikan data atau referensi acuan penyusunan program latihan dan penilaian kinerja (performa) atlet selama periode berlangsung. Hal ini secara langsung akan berindikasi pada ciri dari seorang pelatih yang berkompeten. Karena kemahiran pelatih dalam meracang dan melaksanakan tes parameter adalah bagian dari peran dan tugas seorang pelatih yang potensial untuk dapat menjadikan atlet yang handal dan dibanggakan.
Upaya untuk mengetahui kemampuan atlet kita adalah dengan melaksanakan pengetesan dan pengukuran kemampuan. Kemampuan atlet dapat diklasifikasikan ke dalam kemampuan teknik/keterampilan, kemampuan fisik, kemampuan taktik dan kemampuan psikologis/mental.
Ketika berbicara pada tingkatan atlet yang disebut elit (dilatih dan berpengalaman) maka parameter (sesuatu yang harus ada/dimiliki) atlet yang paling penting dari yang terpenting adalah kemampuan fisik. Alasannya adalah : (1) Dengan kemampuan fisik yang prima maka kemampuan teknik akan tetap eksis secara konsisten. (2) Dengan kemampuan fisik yang prima maka kemampuan taktik yang sudah distrategiskan akan dengan efesien dan efektif dilaksanakan. (3) Dengan kemampuan fisik yang prima maka secara psikologis atlet akan merasa lebih percaya diri dan konsentrasi secara stabil.
Pada tingkatan elit, pelatih sudah tidak (boleh) memikirkan lagi bagaimana memperbaiki teknik yang "salah", maka pelatihan yang muncul haruslah berupa pelatihan penerapan teknik ke dalam taktik (individu maupun tim). Oleh karena itu pelatihan pada tingkatan ini dominasinya adalah pelatihan fisik dan taktik serta memperkuat kemampuan psikologis. Inilah karakteristik training to win.
Tes parameter fisik setiap cabang olahraga sangat bervariatif/berbeda, tergantung pada nomor (event) dan periodisasi-nya. Contohkan saja cabang atletik di nomor 400 meter pada periode persiapan umum. 1. Kemampuan Kecepatan Dasar (Basic Speed): Tes 100 m standing. Manfaat dari diketahuinya BS ini adalah dapat menentukan kemampuan 400 meternya sebagai pace speed. 2. Kemampuan Daya Tahan Kecepatan (Speed Endurance/LSE): tes sprint 300 meter standing. Manfaatnya adalah untuk mengetahui kemampuan teloransi laktasidnya dan akan mudah memprediksi pace 400 meter untuk setiap intensitas latihannya dengan membuat formulasi satuan m/detik.
Seperti contoh : 300 m sprint = 34 detik (8,82 m/dtk), sehingga untuk latihan 300 meter dengan intensitas mis. 70% - 60% maka ia harus lari dengan kecepatan antara 48,57 dtk - 56,67 dtk. Artinya ia lari dengan kecepatan 60-70 % waktu terbaik 300 meternya. 3. Kemampuan Daya tahan Aerob (VO2max) dengan test balke 15 menit lari. Yang harus diperhatikan dan dicatat adalah waktu setiap kelilingnya. Manfaatnya adalah untuk mengetahui secara psikologis ketika atlet berjuang menyelesaikan tugasnya.
Untuk tes parameter fisik cabor beladiri di periode persiapan umum adalah tes kecepatan (akselerasi: dash sprint 20 meter standing start), tes daya tahan kekuatan yang cepat (lengan: push up 1 menit/catat setiap 30 detiknya dan tungkai: lompat gawang (gawang rendah ± 30 cm) 1 menit (catat setiap 30 detik-nya) serta tes daya tahan aerob (VO2max) : 15 menit balke run.Tes parameter fisik cabor permainan di periode persiapan umum, yang dilakukan adalah tes kecepatan atau akselerasi (dash sprint 20 meter standing start), tes daya tahan kekuatan yang cepat (tungkai: lompat gawang (gawang rendah ± 30 cm) 1 menit (catat setiap 30 detik-nya)dan tes daya rahan aerob (VO2max).
Untuk selanjutnya tes parameter fisik akan dilanjutkan pada periode berikutnya (periode persiapan khusus) sesuai dengan karektiristik, kebutuhan dan tuntutannya. Semoga tulisan singkat ini menjadi pedoman bagi kita dalam meraih prestasi puncak di PON XVIII 2012 mendatang. (Ketiga penulis ini adalah master olahraga dan saat ini menjadi konsultan KONI NTT untuk persiapan ke PON XVIII 2012).
Catatan-ringan Populer