87 Natal untuk Memen Tuto - Pos Kupang
Pos Kupang
Natal untuk Memen Tuto
Minggu, 18 Desember 2011 21:23 WITA
Share |

HUJAN turun lagi. Pekarangan yang tadi kering dan berdebu kini perlahan telah berubah menjadi taman hijau dengan beraneka rumput. Orang-orang sudah mulai menanam di ladang dan pekarangan mereka masing-masing. Maklum musim hujan sangat singkat jadi harus bergegas jika tidak ingin hasil tanahnya mubazir. Pertengahan Desember adalah saat yang terindah dalam benak setiap orang di kampung itu.

Selain lingkungan hijau dan dingin, yang menjadi alasan utama adalah berkumpulnya semua anggota keluarga untuk merayakan perayaan Natal. Sudah menjadi tradisi bahwa semua anggota keluarga dimana pun berada harus kembali ke kampung tersebut.

Namun benarkah semua keluarga melakukan hal tersebut?
Perawakannya tidak terurus, lusuh dan kusam. Pada musim hujan, ketika fajar baru menyingsing ia telah berada di kebun, dan ketika senja hari ia baru kembali dari laut.

Ia seorang petani dan sekaligus nelayan. Ia tidak peduli apa yang menimpa dirinya, tak peduli penyakit yang siap menyergapnya di kala usianya telah uzur. Intinya ia ingin melihatku tumbuh dalam kebahagiaan. Tuntutan hidup di desaku dengan aturan adat yang mengekang dan menguras harta benda membuat ia harus bekerja lebih. Ini adalah sebuah realita yang tengah terjadi. Sebuah kisah yang tengah hidup dalam masyarakat.

Aku pingin meringankan beban yang dipikulnya saat itu. Ingin aku menopang tubuhnya yang mulai bongkok, tetapi apa daya saat itu Aku masih seorang anak kecil.

Hari masih gelap, dan ayam kampung balum terjaga. Tak ada suara. Ia telah terjaga dan telah bergegas menuju ke tungku. Dengan tangan rentanya ia mencabik sabut kelapa dan meletakannya di antara tiga batu tungku. Ia menuangkan minyak dari pelita dan membakarnya. Lantas dengan cekatan ia mengambil  kayu bakar dan meletakannya di atas sabut yang mulai terbakar. Tetapi perlahan api mulai redup dan padam.

Kini tak ada nyala api. Yang ada hanya percikan bunga api dari sabut kelapa. Ia sedikit membunkuk lantas dengan napas yang mulai lemah ia meniup bara-bara kecil tersebut agar dapat menjadi nyala api. Setelah menyala ia mulai memanaskan tembikar dari tanah liat dan mulailah ia membuat jagung titi.

Benturan dua batu, membuat biji jagung yang baru di angkat dari tembikar itu berubah bentuk menjadi ceper. Jagung titi. Inilah sarapan favoritku sebelum berangkat ke sekolah.

Setelah selesai meniti jagung, ia beranjak ke sisi lain dari dapur yang berdinding daun lontar itu. Ia meraih sesuatu di atas sana. Seikat siput kering. Ia membakarnya di atas bara api. Aromanya ternayata lebih kuat dari suara benturan batu ketika ia meniti jagung tadi. Buktinya aku dapat terjaga hanya karena aroma siput kering tersebut. Inilah lauk sarapan pagiku. Ia menyiapkan semuanya untukku tanpa mengeluh sedikitpun.

Sepulang sekolah, kadang aku tak melihatnya di rumah. Tetapi tetap saja makanan telah tersedia. Nasi kuning khas yaitu nasi jagung dan ikan kering telah tersedia di atas Wojong  aku tinggal meraih dan menikmatinya saja.

Memen Tuto, demikian sapaan akrabnya. Ia adalah salah seorang penghuni lereng Gunung berapi Ile Ape yang terletak di utara pulau Lembata. Ketika laut surut ia telah berada di pantai untuk berkarang. Kadang ia berjalan kaki menyisir pantai hingga puluhan kilo. Ia adalah pencari siput yang handal. Untunglah pantai di teluk Lewoleba kaya akan berbagai hasil laut.

Ketika pulang ia dapat menjunjung sebakul penuh siput. Tidak hanya siput, tetapi juga belut, ikan, landak laut, teripang dan berbagai hasil laut dapat ia bawa dalam bakul tersebut.

Sesampainya di rumah ia mulai membuka cangkang siput, menusuknya dengan daun lontar yang sudah di raut dan menjemurnya. Inilah yang menjadi bahan untuk di barter dengan ubi kayu, pisang, jagung dan bahan makanan lainnya di pasar.
Dari sinilah kami hidup. Sebab kami tidak dapat hidup hanya dengan mengandalkan sebidang tanah di samping rumah.

Selain musim kemarau yang terlalu lama, luas kebun tersebut tidak seberapa sehingga tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, apa saja Ia lakukan demi kelangsungan hidup kami. Namun sekali lagi Ia tidak pernah mengeluh.

Ia adalah Ibu dari Ibuku. Dialah yang merawatku sejak masih bayi ketika ibu dan ayahku merantau ke Negeri orang. Seorang Nenek yang tangguh yang memberikan segalanya untukku. Ia adalah ibuku, ayahku sekaligus nenek yang sangat luar biasa bagiku. "Memen, Natal Tinggal satu minggu lagi. Kapan mama dan bapa pulang dan kumpul dengan kita?" tanyaku dengan nada berbisik ke telinga nenekku. Ia membelaiku dan dengan nada pelan ia berucap "Ina, bapa dan mama sedang cari uang untuk Ina punya masa depan.

Jadi biar kita natal sendiri dulu. Ina percaya saja, satu saat nanti kita pasti ikut malam natal bersama dengan mereka." inilah kalimat penguatan yang tetap kupegang sejak usiaku masih  tujuh tahun. Aku percaya hal ini sebab natal itu pernah ada dan natal itu sendiri adalah bukti bahwa keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan anak itu memang benar-benar ada.

Waktu cepat berlalu. Entah sudah berapa kali natal yang sudah berlalu. Aku baru saja kembali dari sebuah kota di Luar Negeri. Sebuah kota yang sunyi, dingin dan gulita. Jelas tidak ada aroma natal disana. Sebenarnya ketika tamat SMP, nenek tidak mampu lagi membiayai sekolahku.

Aku terpaksa pergi mencari ayah dan ibu di tanah rantau. Tapi malang bagiku, ayah dan ibuku ternyata telah bercerai dan tak ada orang yang tahu dimana keberadaan mereka. Aku terpaksa bekerja di sana, mengumpulkan modal untuk melanjutkan sekolah. Namun apa daya sebagai perempuan yang berbekal pendidikan SMP aku tertipu oleh majikanku. Sebagai pembantu rumah tangga aku di tuduh mencuri harta milik majikanku.

Akibatnya aku mendapat hukuman penjara 10 Tahun. Selama dalam penjara hanya satu saja keinginanku yaitu kembali dalam pelukan Nenek. Kembali merayakan natal bersama satu-satunya keluargaku di dunia ini. Memen Tuto.

Kini, di sini di samping bale-bale beralaskan tikar kusam Aku tertegun, menatap wajah nenekku yang sudah sangat keriput. Tubuhnya yang telah rentah tergolek lemas termakan usia. Namun senyum khasnya masih menyiratkan ketegaran dalam menapaki jalan hidup ini. Aku meremas jari tangannya, mendekatkan kepalaku pada wajahnya dan dengan lembut ku kecup keningnya sambil berucap, "Memen, sebenarnya inilah arti Natal itu. Bahwa kita berdua adalah keluarga sejati di dunia ini. Selamat Natal Memen Tutoku tersayang."

Aroma Natal kembali terasa. Aku seperti kembali pada masa kanak-kanakku dulu. Alunan syahdu lagu malam natal seolah menerobos paksa lewat cela-cela lubang dinding di gubuk tua ini. Ketika ku angkat kepalaku ke atas, bintang-bintang bertaburan di sana. Syukurlah Tuhan, karena ini pertanda bahwa tak ada Hujan di malam Natal ini.  Selamat Natal untukmu Semua. *

* Memen : Panggilan untuk nenek
* Ina : Panggilan untuk Ibu
* Wojong: Tempat menggantung makanan
* Berkarang: Mencari ikan, kerang, dll di laut



Cerpen Populer