123 Kami Tanam dan Rawat Hingga Besar - Pos Kupang
Pos Kupang
Kami Tanam dan Rawat Hingga Besar
Senin, 12 Desember 2011 10:55 WITA
Share |

SUHU sangat panas. Mentari yang menyengat tidak menyurutkan semangat sekitar 50 warga saat melakukan aksi menanam pohon di sekitar pelataran Terminal Bus Antar Kota-Oebobo, Kupang, Sabtu (3/12/2011) lalu. Mereka terus menggali lubang, menanam dan mencabut tanaman yang gagal tumbuh.

Yang menarik dari aksi ini adalah mereka melakukannya dengan senang hati, sambil canda dan bertukar informasi tentang jenis tanaman. Sesekali mereka yang terdiri dari pria dan wanita, tua dan muda ini juga menuturkan harapan, obsesi  mereka bila tanaman ini sudah besar nanti.

Aksi menanam yang dilakukan para penggemar radio Tirilolok ini merupakan bagian kecil dengan aksi menanam yang dilakukan secara serempak di berbagai daerah di Indonesia untuk mendukung program satu miliar pohon yang sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat.

Beberapa peserta dalam aksi menanam itu mengatakan sangat senang bisa ikut mengambil bagian dalam upaya melestarikan lingkungan, khususnya di Kota Kupang. Bagi mereka mengambil bagian dalam pencanangan satu miliar pohon merupakan kesempatan, apalagi hal tersebut untuk menghijaukan lingkungan. Bukti bahwa mereka melakukan ini dengan kesadaran untuk lingkungan adalah aksi menanam tanpa paksaan. Setiap anggota komunitas secara bergotong royong dan bergantian untuk menggali dan menanam.

"Kalau kita senang bisa tanam. Apalagi nanti melihat pohon ini tumbuh besar," jelas Kepala Stasiun Radio Tirilolok, Pater Baltazar Manehat, SVD, di sela-sela aktivitas menanam.

Kali ini, kata Baltazar, pihaknya menanam 150 anakan yang terdiri dari cendana, mahoni dan gamalia. Banyak atau sedikitnya jumlah anakan yang ditanam bukan masalah tetapi niat dan semangat para warga inilah yang menggambarkan bahwa mereka peduli terhadap ancaman pemanasan global. Isu tentang pemanasan global terasa sangat jauh dari aktivitas para peserta, namun apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari upaya menurunkan atau mengurangi pemanasan global.

"Mereka juga tahu tentang isu pemansan global tetapi tidak banyak, tetapi mereka punya kesadaran bahwa tanah yang kosong ini sebaiknya ditanam. Dan, mereka akan menjaga tanaman ini sampai besar nanti. Dan, mereka punya tanggung jawab terhadap setiap tanaman yang ditanam ini," jelas Pater Baltazar.

Bila dibandingkan satu miliar pohon dengan 150 pohon yang ditanam komunitas ini, maka jumlah tersebut sangat sedikit. Namun, dalam satu miliar pohon di Indonesia terdapat 150 anakan pohon yang sudah ditanam dan sedang diupayakan agar tumbuh menjadi besar dan rindang.

Kepala Dinas Kehutanan Propinsi NTT, Ir. Benediktus Polo Maing, menjelaskan, gerakan menanam satu miliar pohon merupakan program nasional berangkat dari komitmen Pemerintah RI di tingkat internasional  untuk menurunkan gas emisi rumah kaca sebesar 26 persen hingga 41 persen pada tahun 2020. Dan, berbagai cara perlu dilakukan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, salah satunya dengan menanam pohon.

Pemerintah mencanangkan satu miliar pohon tahun 2010 dan tahun 2011 untuk mengatasi masalah tersebut. Dan, jumlah tersebut merupakan akumulasi dari semua pihak, bukan hanya Kementerian Kehutanan tetapi termasuk LSM, masyarakat, lembaga keagamaan, dan sebagainya.

Tahun 2010, jelasnya, NTT mendapatkan 500 unit atau 50.000 pohon. Konsepnya, setelah dievaluasi, setiap pohon yang tumbuh ada insentifnya. Tahun ini, lanjutnya,  NTT mendapat 580 unit dikali dengan 50 ribu pohon atau sekitar 29 juta bibit yang disiapkan masyarakat melalui KBR.

"Rencananya bukan di sini (Oebobo) saja tetapi beberapa tempat juga kami tanam. Sedangkan bibitnya dari Dinas Kehutanan. Ada juga bibit yang kami bawa sendiri," jelas Pater Baltazar. (alf)