69 Hutan untuk Kehidupan Konbaki - Pos Kupang
Pos Kupang
Hutan untuk Kehidupan Konbaki
Senin, 5 Desember 2011 09:36 WITA
Share |

KABUT tipis mulai beranjak saat mentari mulai menunjukKan sinarnya saat pagi di Desa Konbaki, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) beberapa waktu lalu. Sementara dedaunan tanaman warga masih basah terkena embun yang ditinggalkan sang malam.

Suara kicauan burung ikut membErikan nuansa pedesaan yang berada persis di pinggir hutan ini. Sementara suara-suara ayam dan ternak juga memberi warna khas desa. Sementara seiring makin tingginya matahari, masyarakat pun mulai beranjak ke ladang mereka masing-masing.

Pemandangan Desa Konbaki yang berjarak sekitar 35 kilometer arah Timur Kota SoE ini selalu hijau hampir setiap tahun. Warga desa yang berjumlah sekitar 547 kepala keluarga ini hampir tidak pernah kesulitan air. Semua ini karena kesadaran warga untuk menjaga lingkungan hutan agar tetap lestari.

Hampir di sekeliling desa ini merupakan kawasan hutan. Hutan inipun selalu dijaga oleh warga, bahkan masyarakat desa ini memiliki pantangan-pantangan tersendiri agar tidak sembarang orang bisa masuk dan mengambil hasil hutan. Jangan warga setempat mengambil kayu, masuk dalam kawasan hutan pun tidak bisa dilakukan sembarangan.
Yakobus Manu, Mantan Kepala Desa Konbaki, yang ditemui di Kantor Desa Konbaki belum lama ini menjelaskan, hutan bagi masyarakat desa tersebut merupakan bagian dari kehidupan. Meskipun hampir semua warga desa hidup dengan bertani dan bertenak, namun hutan tetap mendapat tempat untuk tetap dijaga agar tetap lestari.

Ia menjelaskan, luas hutan desa ini sekitar 4 hektar. Dalam hutan ini tumbuh berbagai tumbuhan antara lain pohon mahoni, jati dan aneka hayati lainnya. Selain tumbuhan, dalam hutan ini juga hidup berbagai satwa seperti babi hutan, rusa, monyet dan sapi liar.

Tidak sembarang orang atau sembarang waktu orang bisa masuk dalam hutan ini, apalagi mengambil hasil hutan tersebut. Jika  ada warga yang melanggar larangan pada hutan yang dikenal dengan hutan adat tersebut, maka akan dikenakan sanksi adat. "Kalau ketahuan masuk hutan dan tebang pohon atau ambil hewan, maka akan kita kenakan denda adat," jelasnya.

Denda yang diharuskan oleh masyarakat setempat berupa babi atau barang lainnya. Dan, biasanya babi tersebut untuk makan bersama dalam acara adat tersebut.
Meski denda tersebut bukan hal yang sulit bagi warga, namun setiap warga biasanya selalu menghindar dari ancaman denda tersebut. Masyarakat desa Konbaki akan merasa sangat malu apabila ketahuan mengambil kayu dari hutan desa, namun yang menjadi masalah adalah biasanya warga dari tempat lain yang masuk dan mengambil hutan.

Meski demikian, masyarakat juga meyakini bahwa dalam hutan tersebut juga ada penjaganya. Penjaga dimaksud adalah alam hutan itu sendiri dan siapa yang mengambil tanpa izin akan terkena bala di kemudian hari.

Edy Fina, anggota BPD Konbaki, menjelaskan, hutan bagi masyarakat di desa itu merupakan bagian dari kehidupan mereka. Pada umumnya warga memiliki kesadaran bahwa hutan yang ada tersebut merupakan warisan nenek moyang dan warisan tersebut akan diteruskan ke anak cucu mereka.

Warga cuma meyakini bahwa hutan telah memberikan mereka kehidupan seperti air dan tanah yang subur. Mereka tahu bahwa membabat hutan sama dengan menghancurkan kehidupan mereka. "Sebagian besar masyarakat sini tahun manfaat hutan, sehingga mereka saling mengingatkan untuk bersama menjaga hutan," jelasnya. Manfaat hutan sudah dirasakan sejak dulu dimana warga di desa ini selalu kecukupan air.


Pantauan Pos Kupang, wilayah Desa Konbaki juga terbilang hijau. Hampir di setiap halaman rumah tidak ada tanah yang kosong, sebab warga memanfaatkan setiap jengkal lahan untuk menanam.

Kelestarian alam di desa ini juga membuat warga di desa ini nyaris jauh dari isu kelaparan. Sebab, masyarakat selalu memiliki stok pangan apalagi warga juga beternak sapi, babi dan ayam sehingga hasil ternak tersebut juga bisa dijual untuk kebutuhan lainnya.

Hutan Desa Konbaki meski tidak luas namun tetap terjaga dan dari hutan ini kearifan masyarakat setempat bukan saja memberi kehidupan bagi warga desa itu tetapi bagi warga desa sekitarnya. Masyarakat yang setia menjaga hutan, juga secara tidak langsung telah ikut mengurangi peningkatan pemanasan global. Tidak semua masyarakat Konbaki mengetahui itu, namun mereka telah berbuat untuk dunia. (alf_dama@yahoo.com)