POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Frans Seda adalah tokoh segala zaman yang mengalami dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini. Ia mendapat kepercayaan menjabat beberapa jabatan menteri di era pemerintahan Presiden Soekarno dan Soeharto.
Frans Seda berprinsip selalu mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Ia manusia berkualitas dengan pikiran, ucapan serta karya-karya ilmiah yang cerdas. Kritik-kritiknya buat pemerintah, bahkan anekdot atau cerita humornya selalu didengar dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia seorang nasionalis dan seorang negarawan sejati.
Demikian Cosmas Batubara pada seminar usulan calon pahlawan nasional Drs. Franciscus Xaverius Seda di Aula Universitas Nusa Cendana (Undana), Senin (28/11/2011).
Cosmas Batubara memaparkan dua makalah bertajuk Frans Seda Cinta Tanah Air, Pancasila dan Bunda Gereja dan Drs. Frans Seda Diperuntukan bagi Negara dan Gereja.
Selain Cosmas Batubara, nara sumber lainnya yang tampil sebagai pembicara adalah FG Winarno (Rektor Unika Atma Jaya Jakarta), Drs. Daniel Woda Palle (wakil keluarga), Ricard Bagun (Pemred Kompas). Narasumber Prof. Dr. Emil Salim (ekonom) dan Prof. Dr. Anhar Gonggong (sejarawan) berhalangan hadir. Anhar Gonggong sudah tiba di Kupang, Minggu (27/11/2011), namun kembali lagi ke Jakarta karena istrinya meninggal dunia. Tampil sebagai pembahas adalah Prof. Dr. Fredrik L Benu, M.Si, Ph.D, Drs. M Munandjar, Dr. David Pandie, M.Si, Prof. Dr. Liliweri Aloysius, MS dan P Budi Kleden. Tim perumus hasil seminar adalah Dr. Nursalam, M.Si, Dr. John Kotan, S.H, M.Hum, Dr. Rufus Paty Wutun, Drs. William Djani, M.Si dan Drs. Benny Dasman.
Batubara mengatakan, dalam perjalanan bangsa Indonesia tidak banyak tokoh yang tampil seperti Frans Seda. Tiga hal penting yang dilakukannya yakni mempertahankan Proklamasi Negara Indonesia Merdeka, memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan ini . “Ia bisa bekerja sama dengan lima Presiden RI dan sampai akhir hayatnya masih tetap memperdengarkan suaranya yang selalu pro kepada orang kecil, kemerdekaan, hak azasi manusia. Frans Seda pantas diberikan penghargaan tertinggi menjadi pahlawan nasional,” ujar Cosmas Batubara.
Menurut Mantan Menteri Perumahan Rakyat pada era Presiden Soeharto ini, Frans Seda mempunyai wawasan karena sejak muda sudah melekat dalam dirinya wawasan kebangsaan yang luas. “Dia adalah tokoh yang sangat luas wawasannya dan Indonesia adalah wawasannya. Dia memiliki sumbangsih yang lebih banyak untuk bangsa dan negara. Sebagai orang yang mengikuti perkembangan Indonesia, saya banyak memiliki kegiatan yang bersentuhan dengan Frans Seda,” katanya.
Dilahirkan Khusus
Drs. Daniel Woda Palle yang mewakili keluarga dalam materinya menggambarkan mengenai Frans Seda, putra Lio yang dilahirkan secara khusus. “Pak Frans Seda adalah anak pertama dari tujuh bersaudara yang dilahirkan pada 4 Oktober 1926 di Mego. Sudah dari lahir, dia menjadi seorang penyemangat, dia sudah diramalkan dan dilihat bahwa anak ini berbeda dengan lainnya. Ramalan ini sudah sejak lahir, bukan ketika dia sampai di Belanda dan sekolah di sana. Pada waktu dilahirkan, kakeknya sudah meramalkan dia laksana seperti tumbuhan menjalar. Menjalar dari Mego, Lekebai ke Ndao lalu ke Jawa dan Belanda,” ungkap Daniel Woda Palle.
Pembicara lainnya, Rikard Bagun mengungkapkan berbagai alasan sebagai pertimbangan mengapa Frans Seda diusulkan menjadi pahlawan nasional
Frans Seda, katanya, meskipun sudah tidak memiliki jabatan tetapi tidak kehilangan pengaruhnya. Warisan Pak Frans antara lain terlihat dalam pendirian Universitas Atmajaya Jakarta dan ikut dalam pemerintisan pendirian Harian Kompas.
Menurutnya. ketokohan Frans Seda tidak pernah surut dan luntur. Pak Frans melakukan komunikasi dan berinteraksi sebagai tokoh dengan semua presiden, mulai dari era Orde Lama, Orde Baru sampai Orde Reformasi. Frans Seda dapat disebut sebagai man for all the seasons (manusia segala zaman).