POS-KUPANG.COM, WAIKABUBAK -- Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sumba Barat, Abdullah A Bamualim, meminta segenap pimpinan agama yang berkarya di daerah itu untuk menjadikan mimbar sebagai wadah pencerahan iman dan wahana membangun kesadaran umat akan pentingnya kerukunan umat beragama.
Bamualim menyampaikan hal itu ketika tampil sebagai pembicara dalam seminar sehari bertemakan: “Dengan Wawasan Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI) Kita Tingkatkan Kerukunan Umat Beragama Dalam Rangka Mencegah Berbagai Konflik Sosial” di Aula GKS Waikabubak, Rabu (16/11/2011).
Bamualim mengatakan, pemahaman ajaran agama yang sempit, inklusif dan fanatisme berlebihan mengakibatkan seseorang bertindak di luar kesadarannya seakan-akan ajaran agamanya yang paling benar, dan di luar agamanya tidak ada keselamatan.
“Syukurlah di Sumba Barat belum ada kejadian semacam itu. Karenanya, ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan seminar tersebut sebagai wadah berkumpulnya segenap komponen masyarakat Sumba Barat untuk duduk bersama dan berdiskusi bersama membangun komunikasi tentang pentingnya membina kerukunan hidup umat beragama di wilayah ini,” katanya.
Menurutnya, selama ini FKUB telah memainkan peran penting dalam membangun kerukunan umat beragama di Sumba Barat. Kehadiran FKUB menjadi wadah sangat penting dalam mensosialisasikan pentingnya membangun kerukunan antarumat beragama.
Bagi Bamualim, kerukunan hidup umat beragama harus dimulai dari keluarga dan selanjutnya dengan kelompok sosial. Interaksi sosial merupakan hal yang sangat penting dalam membangun kehidupan umat beragama di Sumba Barat.
Seminar yang diselenggarakan Yayasan Bahtera bekerjasama dengan media massa menampilkan tiga pembicara, yakni Abdullah A Bamualim (FKUB), Yohanis Nanggur dari Kantor Kementerian Agama Sumba Barat dan Pendeta Katarina Natara (tokoh agama).
Menurut Pendeta Natara, peran FKUB sangat sentral dalam membangun keragaman hidup umat beragama di Sumba Barat. Karena itu, FKUB perlu mensosialisasikan pentingnya kerukunan hidup umat beragama di seluruh pelosok wilayah ini agar warga memiliki pemahaman yang sama dan mengeliminir timbulnya gejolak sosial antarumat beragama. Ia juga meminta tokoh agama (kaum rohaniwan/i) mengambil peran lebih dalam mewartakan karya hidup kebersamaan ini.
Sedang Yohanis Naggur mengatakan, Kantor Kementerian Agama memiliki tugas dan tanggung jawab menjaga dan memelihara kerukunan hidup beragama di Sumba Barat. Kerja sama dengan tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan segenap elemen masyarakat daerah ini telah berlangsung dan akan terus digalakkan demi menjaga tetap terciptanya kedamaian di daerah ini.