217 Jadikan Tambolaka Bandara Kelas II - Pos Kupang
Pos Kupang
Jadikan Tambolaka Bandara Kelas II
Selasa, 15 November 2011 00:26 WITA
Share |

TIGA atau empat tahun lalu, Bandar Udara (Bandara) Tambolaka di Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD), belum ‘apa-apa’-nya. Kondisinya tidak lebih baik dari bandara-bandara lain di NTT. Bandara Frans Seda di Maumere masih lebih baik sarana dan fasilitasnya.


Tetapi sekarang, seiring berdirinya Kabupaten Sumba Barat Daya menjadi daerah otonom, Bandara Tambolaka pelan-pelan meninggalkan bandara-bandara lain, kecuali Bandara El Tari Kupang yang dikelola PT Angkasa Pura. Sebagai bandara yang dikelola dan berada di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI, Bandara Tambolaka jauh lebih pesat dan cepat laju perkembangan dan kemajuannya.


Harus diakui, tokoh di balik pesatnya perkembangan dan pembangunan bandara ini tak lain adalah Yohanes R Keraf, Kepala Bandara Tambolaka. Ditemui di ruang kerjanya, Selasa (8/11/2011), Keraf mengaku dia total bekerja di mana saja ditempatkan. Sekali dipercayakan mengemban suatu tugas dan tanggung jawab, dia akan menjalankan tugas dan tanggung jawab itu dengan penuh tanggung jawab dan total.


Pria kelahiran Waiwejak, Kecamatan Atadei, Lembata, 13 Oktober 1960 ini, bukan tipe orang yang suka memamerkan prestasinya. Pembawaannya sangat tenang dan rendah hati.


Data-data kemajuan Bandara Tambolaka membuktikan ketekunan, kepedulian, kerja keras dan totalitasnya mengemban tugas. Saat ini landasan pacu Bandara Tambolaka 2.010 meter. Panjang ini belum termasuk 290 meter untuk over run di timur dan barat landasan pacu. Artinya, total panjang landasannya telah mencapai 2.300 meter, cuma kalah 200 meter dari Bandara El Tari Kupang. Bandara dengan panjang seperti ini berarti bisa didarati pesawat berbadan lebar seperti boeing 737 seri 200 dan seri 300.


Lampu landasan juga sudah dipasang. Hanya karena daya listrik belum cukup, maka pesawat belum diizinkan mendarat pada malam hari. Tetapi kalau kondisi darurat, Bandara Tambolaka siap didarati malam hari.


Di terminalnya, bangunan demi bangunan terus dikerjakan. Terminal kedatangan dan keberangkatan dalam proses pengerjaan. “Terminalnya dipilih menjadi contoh untuk terminal bandara di Indonesia karena menampilkan nilai-nilai lokal,” kata Keraf.
Jejak Keraf menjadi kepala bandara di NTT bisa ditelusuri dari Lembata, Ngada, Ende hingga Tambolaka.

Meski cuma jebolan SMA PGRI Lembata tahun 1980, kapasitas Keraf memerankan tugas dan perannya sebagai kepala tidak diragukan.
Setamat SMA di Lewoleba, Keraf menjejak Sumba Barat (sebelum mekar menjadi tiga kabupaten) mengikuti kakak kandungnya seorang polisi. Nganggur setahun, dia mengadu nasib dengan mengikuti seleksi di bank dan Pensip (Penerbangan Sipil, nama yang digunakan para pegawai di lapangan terbang) tahun 1981.

Saya lulus di BRI dan Pensip, tetapi saya pilih Pensip, katanya. Sejak itulah, Keraf menjadi pegawai Pensip dan ditempatkan di Lapangan Terbang Tambolaka.



Waitabula Populer