POS-KUPANG.COM, LARANTUKA -- Rencana pemugaran Benteng Lohayong-Solor oleh pemerintah Kabupaten Flores Timur (Flotim) mendapat respons dari warga di Lohayong. Mereka menolak pemugaran Benteng Lohayong peninggalan Portugis itu untuk menjadi obyek wisata.
Masyarakat takut, wilayah mereka yang nuansa etnis keagamaan dan adat yang dipelihara selama ini, tidak dihargai oleh kehadiran ribuan bahkan kemungkinan jutaan turis yang akan datang ke tempat itu.
Demikian diungkapkan anggota DPRD Flotim Dapil 4 wilayah Solor, Safrudin Abas, ditemui di kediamannya, Kamis (10/11/2011). Curahan hati masyarakat Lohayong itu, kata Safrudin, mengemuka pada pertemuan dirinya bersama dengan
tokoh masyarakat dari tujuh suku, Kamis (13/10/2011).
“Kami tidak mau melihat orang telanjang di depan masjid kami,” kata Safrudin mengulangi reaksi orangtua di Lohayong terkait rencana pemerintah Flotim memugar Benteng Portugis jadi obyek wisata.
Selain tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama, hadir juga pada kesempatan itu tokoh-tokoh pemuda. Mereka sekata menolak rencana itu, apalagi tidak ada penjelasan dari pemerintah kepada masyarakat perihal dampak dari pemugaran itu bagi kehidupan masyarakat setempat.
Safrudin menyebutkan beberapa keberatan masyarakat Lohayong, di antaranya belum siap menjadikan tempat mereka tujuan wisata. Sebab, di atas situs benteng Portugis itu juga sudah dibangun masjid besar serta rumah adat setempat.
Masyarakat yang menjunjung tinggi agama dan adat, jelas Safrudin, diharapkan menjadi pertimbangan serius pemerintah di dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
Safrudin tidak menampik jika masyarakat Lohayong terbuka untuk dialog dengan pemerintah. “Bolanya sekarang ada di pemerintah. Tinggal bagaimana pemerintah memberikan penjelasan, pengertian yang tidak menyinggung kebudayaan dan keagamaan mereka,” kata Safrudin.
Abaikan Konsep Pariwisata
Masyarakat Lohayong, tambah Safrudin, mempertanyakan tujuan pemugaran itu. Masyarakat ragu bahkan takut jika tempat itu menjadi tempat wisata, maka perilaku berpakaian ala barat akan menjadi tontonan tidak menarik di depan masjid.
“Bapak-bapak di sana itu takut. Nanti mereka (turis) datang ke sini telanjang-telanjang. Kami tidak mau,” kata Safrudin menceritakan reaksi orang-orang tua di Lohayong.
Pemerintah, harap Safrudin, perlu memikirkan baik-baik konsep pariwisata itu. “Abaikan dulu konsep pariwisata. Selama ini turis yang datang prosesi Jumat Agung di Larantuka pasti juga ke sana kok. Masyarakat aman-aman saja.
Abaikan dulu konsep pariwisata, jelaskan dulu maksud pemugaran Benteng Portugis itu kepada masyarakat setempat,” harap Safrudin untuk dinas teknis yang melakukan sosialisai terhadap rencana pemugaran Benteng Lohayong - Solor itu.