103 200 Ha Lahan Untuk Padi Organik - Pos Kupang
Pos Kupang
200 Ha Lahan Untuk Padi Organik
Minggu, 23 Oktober 2011 00:32 WITA
Share |

POS-KUPANG.COM, WAIBAKUL -- Warga Kampung Kameti, Desa Waimanu, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, yang tergabung dalam wadah kelompok Ana Lalu, Senin (17/10/2011), menanam perdana padi organik jenis ciherang di atas lahan seluas 2 ha sebagai lahan percontohan dari total 200 ha lahan pengembangan padi organik oleh 18 kelompok tani yang tersebar di Desa Waimanu dan Desa Manurara.


Penanaman perdana padi organik ini secara resmi dilakukan Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk, didampingi Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Sumba Tengah, Ir. Marthinus nJurumana, M.Si dan beberapa pimpinan SKPD lainnya.


Bupati Pateduk pada kesempatan itu meminta kepada kelompok tani untuk memanfaatkan lahan yang tersedia dengan menanam padi sesuai arahan dan dampingan tim teknis Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Sumba Tengah.
Bupati Pateduk mengimbau petugas PPL agar setia mendampingi kelompok tani karena tidak semua petani dengan mudah memahami arahan PPL. Karena itu, intensitas dampingan menjadi kunci sukses mengembangkan padi organik itu.


Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Sumba Tengah, Frederikus M Nanga, SP, didampingi tim teknis, Dan Daniel, yang ditemui Pos Kupang di tengah kesibukannya mendampingi warga menanam padi di Kameti, Senin (17/10/2011), mengatakan, penanaman padi organik tanpa menggunakan zat kimia seperti pupuk merupakan upaya Pemkab Sumba Tengah untuk mendapatkan labelisasi atau sertifikasi sehingga ke depan tak perlu lagi mendatangkan benih padi dari luar tetapi mengembangkan benih padi sendiri. Hal itu tentu lebih menguntungkan petani Sumba Tengah karena sudah cocok dengan kondisi tanah dan iklim Sumba Tengah.


Untuk mewujudkan rencana itu, pihaknya bekerjasama dengan lembaga sertifikasi organik Seloliman (Lesos). Disamping itu melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal Bahtera sebagai pendamping pemberdayaan kelompok tani.    
Meski demikian, upaya itu harus melewati uji laboratorium, baik tanah maupun benih padi yang digunakan untuk memastikan apakah benar-benar steril dari zat kimia.


Karena itu, ia meminta dukungan penuh para petani Sumba Tengah untuk meraih mimpi suatu waktu Sumba Tengah memiliki padi dan beras organik. Kelebihan menanam padi organik adalah usia masih mudah 7-12 hari dimana daun baru dua helai, menggunakan pupuk bokasi, bio organik, menggunakan ramuan pestisida lokal seperti lengkuas, gamal, nimba dan lain-lain sehingga terbebas dari zat-zat kimia.

Masa panen 115-120 hari dengan target produksi minimal 2,5 ton/ha. 
Kegiatan menanam padi ini menggunakan system of rice intencification (SRI), yakni menanam anakan padi umur muda yakni 11-12 hari dan teknis organik lainnya.