POS-KUPANG.COM --- Pelaku bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton Surakarta, diduga merupakan jaringan dari faksi-faksi yang terlibat dalam konflik Ambon dan anak-anak SMK di Boyolali yang belajar membuat bom melalui Facebook dan baru saja tertangkap oleh pihak kepolisian.
Demikian new analisis Noor Huda Ismail, mantan santri Ngruki (penulis buku Temanku Teroris).
Menurutnya, aksi ini untuk menunjukkan tiga hal, yaitu pertama, proses transfer knowledge untuk membuat bom sampai saat ini terus berjalan secara bertahap dan tersembunyi, meskipun aparat kepolisian telah melakukan penangkapan-penangkapan terhadap gembong teroris.
Kedua, orang-orang yang telah mendapatkan transfer ilmu bagaimana cara membuat bom dari gembong-gembong besar, telah terpecah-pecah ke faksi-faksi kecil di mana masing-masing berdiri sendiri tidak berhubungan dan tergantung dengan yang lain.
Ketiga, menyampaikan pesan kepada pelaku-pelaku kombatan di Surakarta untuk bergerak menyikapi keadaan di Ambon.
Pesan tersebut, berupa ajakan untuk kembali berjuang di Ambon yang sampai saat ini masih dianggap mereka belum ada penyelesaian yang adil.
Kota Surakarta dipilih, karena banyak selama ini di sana dikenal sebagai kota yang menyuplai mujahid perang, seperti Ambon, Poso, Afganistan, Mindanao dan lain-lain.
Pola pengeboman di Gereja, sama dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada 2000, di mana banyak gereja-gereja yang diserang dan diledakkan dengan menggunakan bom untuk menarik konflik Ambon menjadi skala nasional.
Hal yang membedakan, antara aksi bom tadi dengan tahun 2000 lalu, adalah pada masa lalu pelaku tidak melakukan bom bunuh diri.
Tidak terdeteksinya kelompok-kelompok kecil yang ingin eksis di kalangan pemain-pemain di Ambon, membuktikan intelejen belum mampu masuk sampai ke kelompok-kelompok kecil ini. Penetrasi intelejen masih kurang, terbukti masih kebobolan dengan aksi-aksi seperti ini.
Negara harus merubah pola-pola yang dilakukan untuk mereduksi aksi-aksi terorisme, yang selama ini hanya melakukan penangkapan saja. Orang-orang yang mampu membuat bom tersebut, harus diberdayakan dengan kegiatan yang berarti agar tidak 'nglangut' (melamun) dan kemudian mau membuat bom akibat terprovokasi secara ideologi.
Pemerintah juga harus bisa menyelesaikan pekerjaan rumah, mengenai masalah Ambon, dengan menyelesaikan konflik dengan transparan dan dapat diterima oleh semua pihak.
Agar para mujahid-mujahid dan kelompok yang berada di seberangnya, tidak merasa lagi terpanggil menghadapi permasalahan di sana karena telah diselesaikan dengan adil oleh pemerintah.
Adanya peristiwa ini, berharap semua pihak menahan diri dan tidak menyudutkan kelompok-kelompok tertentu, seperti Ngruki karena belum tentu juga mereka terlibat. Para komentator, juga jangan memperkeruh suasana.