81 Antara Fitri dan Iwi - Pos Kupang
Pos Kupang
Antara Fitri dan Iwi
Minggu, 28 Agustus 2011 23:32 WITA
Share |

Parodi Situasi Maria Mathildis Banda

SYUKURLAH, puasa tinggal sehari lagi. Menurut Prof. Masykuri Abdillah, puasa adalah sarana latihan yang efektif untuk penguatan akhlak dan karakter, terutama untuk mewujudkan manusia yang bebas dari dosa dan perbuatan tercela, manusia yang dapat mengendalikan diri dan jujur, dan sekaligus manusia yang memiliki solidaritas sosial yang tinggi.

Makna mendalam puasa dilakukan melalui pengendalian diri (imsak) -pada siang hari dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari- dari aktivitas makan, minum, dan hubungan seksual.

"Puasamu lancar ya?" tanya Rara kepada Mahmud teman sekolahnya dulu. Sebagai sahabat akrab dia selalu berusaha mendukung Mahmud dalam menjalani ibadah puasa. Kutipan  tulisan tentang puasa, idul fitri selalu dibawanya sebagai oleh-oleh harian untuk Mahmud.

                          ***
"Alhamdullilah, lancar. Kamu juga lancar puasamu?" "Ya, seperti biasanya, aku juga puasa selama sebulan penuh," jawab Rara dengan bangganya. "Lebih pada upaya pengendalian diri dari makan-minum. Biar tubuhku yang tambun ini bisa sedikit mengecil. Lumayanlah, turun sampai tiga kilogram."

"Bagus juga, teman!" sambung Nona Mia. Dia tahu setiap tahun Rara memang rajin puasa. Pada waktu masa prapaskah maupun pada bulan ramadhan.

"Kamu lihat sendiri bukan? Aku sekarang sudah kurusan," Rara memamerkan lingkar pinggangnya yang memang mengecil. "Kamu dengar ini, aku baca. Kesempurnaan puasa   meliputi juga pengekangan ego dari semua keinginan, sikap dan tindakan tercela.   Dalam pelaksanaan puasa ini terkandung pula nilai kejujuran yang tinggi, karena bisa saja seseorang berpura-pura puasa di hadapan umum tetapi sebenarnya ia tidak berpuasa. Ini menurut tulisannya Profesor Abdillah.  Aku hanya melanjutkan saja apa yang ditulisanya."

"Kamu sindir aku ya?" Jaki yang juga ikut-ikutan puasa untuk mengecilkan pinggang merasa tersinggung. Maklumlah, si Jaki memang terkenal sebagai raja tersinggung. 
"Ooh, jadi kamu luma alias malu ya? Ha ha memang kamu puasa senin kamis bukan? Ngaku sajalah. Kenapa sih! Tidak perlu malu," sambung Nona Mia. "Aku lihat perutmu bertambah besar seperti labu. Wah, cowok ganteng kok labu ya? Gantengmu dibawa ke mana?"

                                     ***
Rupanya, Jaki benar-benar tersinggung, dicap pura-pura puasa, apalagi dicap perut sebesar labu, ditambah gantengnya hilang. Aduh, keterlaluan amat itu Nona Mia. Demikianlah, Jaki mengadu nasibnya pada sahabatnya Benza.
"Jadi kamu tersinggung?" tanya Benza. "Sebenarnya, kamu puasa atau pura-pura puasa?

Menurut Prof. Abdillah dalam puasa juga terkandung nilai tolong-menolong atau  solidaritas sosial. Selama Ramadan seseorang dianjurkan untuk banyak bersedekah, dan diwajibkan membayar zakat fitrah yang terutama diberikan kepada fakir miskin. Kamu juga menjalaninya?"

"Tidak ada fakir miskin kok, selama ini aku tahu semuanya bagus-baguas saja. Tidak eh belum ada yang miskin belum ada yang perlu dibantu. Jadi untuk apa aku bersedekah dan kepada siapa? Semua sama saudara baik-baik saja bukan?" jawab Jaki tanpa pikir.

"Kamu tidak puasa bukan?"

"Aku sudah berusaha kok," Jaki menjawab cepat.

                                      ***
"Bahkan, kata Prof. Abdillah juga, puasa   memunculkan empati seseorang dengan membayangkan perasaan fakir miskin yang kelaparan atau kekurangan makanan sebagaimana dirinya mengalami kelaparan saat berpuasa. Apakah kamu juga menjalani itu semua?" tanya Benza lagi.

"Aku memang tidak puasa," jawab Jaki akhirnya. "Tetapi sesekali aku juga puasa merasakan bagaimana lapar dan kekurangan makanan. Aku coba solider dengan sesama saudara yang mulai lapar dan makan iwi."

"Jadi kamu juga pernah makan iwi si ubi hutan dari Sumba Timur?" tanya Nona Mia.

"Oooh iwi? Maaf saja ya aku tidak pernah makan iwi! Aku hanya  berusaha solider,"
Jaki gelagapan saat bicara. "Aku malu sekali dibilang makan iwi," merah padam wajah si Jaki.

"Kalau pernah, memangnya kenapa?" Rara yang menjawab.
"Kenapa mesti malu Jaki?" sambung Benza.

"Aku juga pernah makan iwi kok!" sambung Nona Mia. "Santai saja lagi. Bukankah iwi juga jenis makanan yang disediakan alam untuk kita? Asal dikelola dengan baik, iwi bisa dimakan. Aku baru saja baca koran tentang ibu-ibu yang iris iwi, jemur, dan siap dimakan."

"Tetapi aku malu, malu sekali," Jaki menutup wajahnya. "Tidak ada kelaparan, tidak ada iwi," tegas Jaki sambil tertunduk. "Yang ada hanya gagal panen dan musim yang kering dan hujan tidak menentu. Aku malu sekali."

"Ha ha malu apa malu, Jaki? Memangnya kamu superman yang bisa atur musim atur hujan, atur panen, dan atur iwi? Kita semua hanya manusia biasa yang tahu persis situasi musim tanah leluhur kita. Kalau lapar bilang lapar, kalau kenyang bilang kenyang, kalau iwi bilang iwi, kalau raskin bilang raskin. Tidak apa-apa. Mari kita bahu membahu dan hadapi bersama-sama," kata Nona Mia yang diamini teman-temannya.
                                       ***
"Aku juga pernah makan iwi," kata Mahmud dengan santai. "Besok aku akan berangkat ke Sumba Timur khususnya ke Desa Kambota Njara. Mau rayakan idul fitri di sana."

"Mau ikutan makan iwi?" tanya Jaki, Rara, Benza, dan Nona Mia hampir bersamaan.  "Antara Fitri dan iwi apa salahnya?" tanya Mahmud. *