277 Surat untuk Presiden - Pos Kupang
Pos Kupang
Surat untuk Presiden
Senin, 22 Agustus 2011 09:01 WITA
Share |

"RUPANYA sahabatku yang satu ini mau ikut-ikutan mantan bendahara Partai Demokrat, M Nazaruddin untuk  mengirim surat kepada Presiden. Bukan SBY tetapi Presiden Jaki. Apalagi kalau suratnya dipublikasikan oleh gadis secantik   Dhea, asisten pengacaranya OC Kaligis. Mimpi apa semalam ya? Padahal dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan korup. Padahal kepalanya lagi pusing dengan musim lapar di hadapan hidung dan gelisah hatinya memikirkan umat yang sudah mulai lapar dan  cari ubi hutan untuk dimakan."

"Menulis surat buat Presiden? Memangnya presiden mau baca suratmu? Tentang rawan pangan dan makan ubi hutan ya?"
"Ya!"
                                  ***
Dia terinspirasi surat Nazaruddin, terutama pada bagian, "Saya rela dihukum penjara bertahun-tahun asalkan bapak dapat berjanji bapak akan memberikan ketenangan lahir dan batin bagi keluarga saya, khususnya bagi istri dan anak-anak saya. Perlu saya jelaskan bahwa istri saya adalah benar-benar seorang ibu rumah tangga yang sama sekali tidak mengetahui apapun yang berhubungan dengan kepartaian. Saya juga berjanji saya tidak akan menceritakan apapun yang dapat merusak citra Partai Demokrat serta KPK, demi kelangsungan bangsa ini."

"Kenapa begitu pilu isi suratnya ya? Apa yang ditakutkan? Ada apa ya? Bukankah secara tegas sudah dikatakan SBY agar   proses sidik, lidik harus transparan, akuntabel dan obyektif. Nazaruddin bisa membuka sejelas-jelasnya demi kebenaran!  Mengapa Nazaruddin jadi kemayu mendayu-dayu ya mohon perlindungan?"
"Sudahlah, tidak usah urusin mantan bendahara yang kaya raya itu. Lebih baik kita urus Rara si mantan bendaharanya proyek rawan pangan," kata Nona Mia lagi.
                                         ***
"Bagian surat Nazaruddin diubah begitu saja. Begini isinya, "Gara-gara rawan pangan yang hebat ini, saya rela dihukum penjara bertahun-tahun asalkan Bapak Presiden Jaki dapat berjanji bapak akan memberikan makanan empat sehat lima sempurna kepada keluarga saya, khususnya bagi istri dan anak-anak saya," itulah paragraf pertama surat Rara.

"Apa yang tersirat dari surat Rara ya?" tanya Nona Mia. "Memangnya si bapak tahu soal rawan pangan? Memangnya ada kaitan antara rawan pangan dengan si bapak? Memangnya ada apa antara si Rara dengan si Bapak sampai berani-beraninya si Rara mohon agar si Bapak berjanji. Berjanji lho, bukan main-main." komentar Nona Mia.
"Enak saja minta Presiden berjanji memberi jaminan," sambung Benza.
"Itulah soalnya. Sepertinya ada hubungan erat antara si Rara dengan si Bapak Jaki sehingga enak-enak saja minta jaminan empat sehat lima sempurna pada masa ancaman rawan pangan ini. Bagaimana menurutmu?" tanya Nona Mia kepada Benza.

                                          ***
"Paragraf kedua lebih seru lagi nih isinya," Benza masih mau membaca paragraf berikut dari surat sahabatnya untuk presiden Jaki.  "Saya juga berjanji tidak akan menceritakan apapun yang dapat merusak citra partai demi kelangsungan  ketahanan pangan! Apa hubungannya ya?  Oh lanjut lagi surat si Rara.Istri saya orang baik-baik Pak. Dia hanya ibu rumah tangga biasa yang tidak mengetahui apapun selain mengikuti aku kemana pun aku pergi. Jadi jika aku lapar istriku ikut lapar bahkan lebih lapar daripadaku. Jika aku kenyang mereka pun ikut kenyang bersamaku.

Kekenyangan dan kelaparan kami berjamaah, Pak! Karena itulah aku mohon perlindungan bagi istri dan anak-anakku. Jangan sampai mereka menderita. Aku rela cari ubi hutan untuk makananku tetapi tolong ya Bapak, jangan biarkan istri dan anak-anakku menderita," Benza membaca dengan tenang.
"Pada hal sebagai mantan bendahara umum, konon kabar si pemberi khabar, Rara tidak ada kaitannya sama sekali dengan Bapak Presiden Jaki. Apalagi hanya bendahara umum rawan pangan!" komentar Nona Mia
                                           ***
"Ya tentu saja!" sambung Rara sambil pukul dada. "Aku ini bendahara umum yang hebat. Tidak ada kaitan apapun dengan penasehat, pimpinan, pengurus, instansi, dan tetek-bengek lainnya. Apalagi dengan Presiden Jaki. Semuanya aku urus sendiri alias sendiri. Sumber dana darimana saja, penggunaan untuk apa saja, dapat beras ketahanan pangan dari mana saja, semuanya hanya aku sendiri yang tahu. Kalau sekarang aku jatuh bangun gara-gara rawan pangan, tentu saja hanya aku yang tahu. Yang lainnya bersih bin bersih. Sungguh aku bersumpah, yang penting istriku aman dilindungi."

"Jadi kamu rela gali ubi hutan untuk makananmu seorang diri?" tanya Benza.
"Ya, yang penting istriku dapat empat sehat lima sempurna," jawab Rara.
"Kamu rela semua atasan, bawahan, kolega, dan sahabat kenalanmu makan hamburger, piza, hotdog dan sejenisnya, dan kamu makan ubi hutan bersama 22.745 KK yang terancam rawan pangan di Desa Panjomba Njara, Sumba Timur?"
"Ya, asal bapak berjanji!"

                                       ***

"Nah, itu bapak Presiden Jaki datang," Benza, Rara, dan Nona Mia siap ditempat memberi hormat kepada Presiden Jaki.  "Bapak Presiden, berjanjilah demi istri dan anak-anak saya." Rara memohon "Saya rela makan ubi hutan Pak, saya rela tutup mulut Pak. Kasihan saya Pak," Rara tertunduk dalam-dalam.


"Ooooh pasti, pasti!" Presiden Jaki angkat wajah dan tersenyum manis. "Asal kamu juga berjanji bahwa tidak ada ubi hutan. Yang ada adalah hamburger!"
"Baik, Pak! Baik, baik." Rara dan Presiden melangkah cepat. Saking cepatnya, sampai tersungkur jatuh tepat di atas panggangan hamburger. Nona Mia dan Benza tidak berhasil menolong. *