KISAH seribu warga dari enam desa di Kecamatan Matawai Lapawu, Sumba Timur, mengingatkan kita pada seribu ekor kuda yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit nun jauh di Sumba. Mengingatkan betapa hebatnya kuda sandelwood asal Sumba. Mengingatkan kekuatan kuda sandelwood asal Sumba kepada dunia yang telah digunakan Billy Mamola menempuh perjalanan sejauh 500 kilometer dari Lembang, Jawa Barat, sampai ke Pangandaran, daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah tiga tahun lalu.
“Hebat juga kuda dari tanah lahirku Sumba,” kata Rara. “Hebat sekali. Sayangnya kamu sendiri sebagai orang Sumba memiliki kebanggaan kecil saja dengan apa yang kamu punya,” sambung Jaki.
“Aku bangga, bangga sekali. Kuda sandelwood yang terkenal di dunia. Tetapi,” Rara tersekat tidak dapat melanjutkan kata-katanya. “Menurutku sekarang bukan saatnya kuda tetapi saatnya emas. Biarlah ganti kuda dengan emas. Bukankah orang Sumba, khususnya Sumba Timur, lebih khusus lagi aku sebagai warga Kecamatan Matawai Lapawu, akan menjadi kaya raya karena emas? Bukankah aku bisa jadi miliarder. Bangga sekali aku.”
“Ya. Kamu bisa ganti gigimu dengan gigi emas. Biar kamu bisa tertawa meringis ke mana-mana sepanjang waktu pamer gigi emasmu,” sambung Nona Mia.
“Aku serius Nona Mia. Aku bosan miskin. Aku pingin kaya. Kalau tambang emas jadi bukankah aku akan jadi kaya raya? Kalau mau kaya dari kuda? Ooohsudah lama mati, tidak ada perencanaan, tidak ada visi untuk itu. Kuda-kudaku sudah pada kujual bahkan tewas gara-gara penyakit. Jaki aku mau kaya dari tambang!”
“Coba kamu hitung berapa sih orang Papua yang kaya raya karena tambang emas di sana? Berapa sih orang-orang asli seputar tambang terkenal di Sumbawa dan daerah lainnya yang telah menjadi kaya raya karena emas? Dapat berapa persen keuntungan? Dua, tiga, empat, atau malahan nol koma sekian persen untuk tingkatkan PAD?” Nona Mia bicara tanpa senyum dengan Rara. “Di kepalamu hanya emas dan emas, kaya dan kaya?”
“Ya, Rara! Nona Mia betul,” Jaki salah sambung. “Aku setuju. Kita pake gigi emas seluruhnya. Kita berdua bisa jadi selebritis yang dikejar paparazzi, masuk tivi terus karena gigi emas kita. Aku juga akan bersamamu selalu, Rara.”
“Oooh sekalian saja ganti segenap perangkat kepalamu dengan emas!” “Bisa ya? Rambut emas dan otak emas. Kapan lagi?” Jaki dan Rara melompat girang.
***
“Benza, kamu belum jelaskan mengapa Billy memilih kuda Sumba!” tanya Nona Mia ketika Rara dan Jaki sibuk menari-nari dengan penuh khayalan menjadi kaya raya karena tambang emas di Sumba.
“Menurut Billy ia memilih kuda Sumba karena kuda Sumba mempunyai kuku yang sangat kuat. Dia kagum dan sangat peduli dengan kuda Sumba, karena posturnya dan kejantanannya. Tentu saja kon-disi alam yang berbukit-bukit dan cara pemeliharaan yang sangat tradisional - dilepas di padang - jenis makanan dari rerumputan liar persembahan alam, membuat kuda Sumba berbeda dari kuda-kuda lainnya.
Dalam rangka HUT RI 2008 yang lalu Billy mengatakan, perjalanan dengan menunggang kuda memakan waktu dua minggu. Ia pun sangat yakin untuk mengangkat citra dan keunggulan kuda Sumba yang tegar dan memiliki daya juang luar biasa,” kata Benza.
***
Bagaimana kuda Sumba kini? Masihkah seribu ekor kuda turun menggemuruh di padang-padang terbuka luas tanpa pagar, yang bernama Sumba? Ataukah tanah tanpa pagar itu akan berubah dengan gemuruh mesin-mesin pengeruk bumi untuk mengeruk emas dari dalamnya? Wah, tidaklah mengherankan ketika seribu warga menyerbu lokasi tambang emas di Wanggameti dalam rangka demo menolak eksploitasi tambang.
“Jangan emas! Tetapi kuda.” demikian kata Benza yang sangat mendukung demo tolak tambang itu. “Kalau saja para penentu kebijakan pro rakyat, pro kearifan lokal, kearifan pasola, pro keluhuran Sumba dengan kekayaan alam yang dijadikan memang buat ternak.” Benza berpikir untuk mendu-kung dinas terkait yang telah berupaya meningkatkan popu-lasi ternak di Sumba. Mendu-kung upaya kepala dinas peternakan Sumba Timur yang telah berjuang sekuat tenaga demi menambah jumlah ternak kuda dan sapi di tanah padang terbuka itu.
Mendukung dengan berpijak pada sejarah Sumba masa lalu yang memang telah dilahirkan untuk ternak dengan para peternaknya yang tangguh. Sayang kalau orang Sumba sen-diri membiarkan tanah leluhur-nya rusak karena eksploitasi tambang yang bukan datang dari sejarah masa lalu.
***
“Bagaimana menurut kalian?” Jaki dan Rara sudah berdiri sambil meringis. “Apa? Kamu ganti gigimu dengan gigi emas?” Nona Mia terbelalak. “Ya, utang dulu. Aku borong emas di toko emas. Kini betapa tampannya aku dengan gigi baruku,” Rara tetap meringis. “Kelak kalau tambang su
dah menghasilkan aku akan bayar utang-utangku di toko emas dan dokter gigi.”
“Kapan kamu ganti kepala-mu dan isi kepalamu dengan emas?” tanya Nona Mia tanpa berkedip menatap wajah Jaki dan Rara yang tetap meringis pamer gigi emas. “Ooooh su-dah kuganti perlahan-lahan. Su-dah kumulai dari pinggir mata dan pinggir telinga, dan tengah dahi.
Sudah kudetox pake sun-tik serbuk emas. Semua akan beres segera setelah tambang menghasilkan.” terkekeh-kekehlah Rara dan Jaki.
“Biar lebih keren, aku akan keliling Sumba untuk pamer gigi dan pamer kepala,” kata Rara lagi. “Kita berboncengan ya Jaki.”
“Keliling Sumba pake apa?” Jaki terkagum-kagum. “Kita naik kuda emas,” jawab Rara. Nona Mia dan Benza terdiam seribu bahasa. *