241 Walikota Bodoh - Pos Kupang
Pos Kupang
Walikota Bodoh
Minggu, 31 Juli 2011 02:19 WITA
Share |

WALIKOTA bodoh? Aduh! Aneh bin ajaib ya, Walikota Solo ini. Dibilang bodoh oleh Gubernur Jateng, Bibit Waluyo, Walikota Solo yang bernama lengkap Joko Widodo santai saja, kalem.

“Iya saya memang masih bodoh. Masih harus banyak belajar ke banyak orang. Di bilang begitu ya nggak apa-apa,” kata Walikota yang beken dengan nama Jokowi itu. Pak Jokowi juga bilang, tidak akan memberi reaksi berlebihan atas penilaian Pak Gubernur.

***

“Apa? Walikota bodoh? Aku tidak  terima! Kalau aku jadi walikota  atau pejabat penting lainnya dibilang bodoh, aku langsung  menerjang! Luka dan bisa kubawa berlari, berlari!” 


“Kamu mau baca puisi Aku-nya Chairil Anwar ya? Tidak nyambung, tahu! Yang dibilang bodoh Pak Walikota, yang bilang bodoh Pak Gubernur, kok kamu yang sewot!” 


“Ini pencemaran nama baik, pembunuhan karakter!” Jaki membela Rara. “Memangnya, apa masalahnya, sampai Bibit Waluyo tega-teganya bilang begitu?”
“Gara-gara sikap Pemkot Solo menolak pemba-ngunan mall di lokasi bekas pabrik es Saripetojo Solo. Menurut Muchus Budi R Detik Com, 27 Juni 2011, inti penolakan adalah membatasi maraknya pasar modern,” Benza menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.

“Pak Jokowi itu hebat. Selama ini sudah 12 kali pengajuan pendirian mal  tidak disetujui karena Pemkot  berkomitmen membatasi keberadaan mal di Solo  demi keberadaan pasar tradisional. Apalagi yang namanya mini market dengan berbagai jenis nama, sangat selektif perizinannya.

Solo memang terkenal dengan ABBD berasal dari usaha kecil  masyarakat Solo sendiri. Kalau peluang ekonomi diberikan pada penguasa dan penguasa, mau dibawa kemana masyarakat Solo?”
“Tapi aku tetap tidak terima dikata-kata bodoh!”
“Apa kamu mau dengar yang lebih aneh lagi dari Pak Walikota Solo?” tanya Nona Mia.

***

Aneh bin ajaib ya, Pak Jokowi ini. Sebagaimana ditulis Maria Natalia Ingrid, 26 Mei 2011 Kompas.Com.   Pak Wali   tidak pernah sekali pun mengambil gaji yang menjadi haknya. 

“Gaji wali kota Rp 6,5 juta.   Saya tidak pernah nanya. Saya merasa, memang saya sebenarnya butuh uang, tapi ada orang lain yang lebih membutuhkan uang ini dari kita,” tutur Joko.   Joko mengaku, ia dan istrinya memiliki pendapatan lain. Sebelum menjadi walikota, ia punya usaha mebel rumah dan taman, bahkan telah eksis di beberapa negara. 

Jadi sudah cukup hidup layak sebelum jadi walikota.  “Hari gini ada pejabat yang memberikan gajinya untuk orang lain?”
“Terbuat dari apa ya pikiran dan hati Pak Wali  manusia langkah!” “Mau yang lebih aneh lagi?” tanya Nona Mia dan Benza bergantian.

***

Aneh bin ajaib, Pak Walikota Solo yang dicap bodoh oleh gubernur Jateng ini.  Selama menja-bat,   ia tak pernah sekali pun melakukan lobi ter-kait  program-program kegiatannya dengan anggo-ta Dewan.

“Saya enggak suka melobi ke Dewan. Takutnya malah jadi ada deal-deal yang enggak je-las. Selama hampir lima tahun menjabat walikota, kalau saya punya program, saya berikan pada koran minta dipublikasikan. Setelah itu, akan ketahuan dan terkumpul pendapat masyarakat. Nah, kalau setuju, baru saya jalankan program itu. Kalau tidak setuju, ya dikaji lagi,” katanya. Soal prosedur dan tata krama legislatif eksekutif DPR dan pemerintah jalan sesuai regulasi.


“Haaaa?” Mulut Rara dan Jaki menganga. “Apa aku tidak salah dengar? Yang namanya lobi dengan DPR itu sudah rahasia umum, tahu! Kok bisa-bisanya Pak Walikota bersikap   sedemikian rupa? Apa ini sungguh-sungguh terjadi di jaman konspirasi politik, ekonomi, hukum, bahkan korupsi pemerintah dan lembaga terhormat itu lagi marak di tivi?

Apa sungguh terjadi pada jaman orang-orang terhormat itu baku tuduh dan saling ancam mengancam?”
“Mau dengar yang lebih aneh lagi tentang walikota yang terpilih dengan dukungan 90.9% suara ini?” tanya Nona Mia lagi.

***

Walikota yang kena cap bodoh oleh Gubernur itu, pernah makan siang sebanyak 46 kali dengan pedagang kaki lima alias PKL. Pendekatan sosial  budayanya luar biasa hebat. PKL pindah lokasi dengan bahagia bahkan dengan kirab budaya. Jokowi pernah pecat kepala dinas, camat, dan lurah yang tidak mau berubah. Punya mobil dinas warisan walikota lama yang masih layak pakai. Suka pakai kaus, sandal jepit, dan jajanan soto Solo di pinggir jalan.

Tidak suka dikawal apalagi dengan bunyi sirene meraung-raung. Forum Komunitas Masyarakat Solo yang disingkat FKMS mengecam keras Pak Gubernur yang dianggap telah melecehkan Pak Walikota. FKMS pun berjanji menolak Gubernur masuk kota Solo. Satu lagi, kelak, jika usai jabatan keduanya, pingin kembali menjadi tukang kayu saja.


“Tukang kayu? He he he pada hal aku kalau sudah jadi mantan   pinginnya jadi anggota DPR atau DPD. Soalnya aku yakin kecerdasanku masih dibutuhkan rakyat.” Jaki geleng-geleng tidak percaya cerita Benza dan Nona Mia tentang Pak Joko Widodo, Walikota Solo.


“Kalau kamu jadi walikota bagaimana?” tanya Nona Mia kepada Jaki, Rara, dan Benza yang nekat mencalonkan diri jadi walikota. “Apa mau tiru Walikota Solo?”
“Kami tanya partai pendukung,” jawab Jaki. “Aku paling pintar, lho! Kalau sampai aku dicap bodoh, wah perang dimulai. Partai pendukungku dan orang-orangku akan demo besar-besaran  Soal jadi tukang kayu setelah masa jabatan berakhir, maaf saja ya! Itu bukan sifatku.”


“Aku malu baca berita tentang Walikota Solo,” kata Benza sebelum ditanya. “Aku undur diri dari pencalonan. Kamu bagaimana Nona Mia?”
“Aku mau jadi Walikota. Mas Joko Widodo adalah idolaku!” Kata Nona Mia.  “Kalau kamu dicap walikota bodoh?”


“Santai saja lagi.” *