29 Harapan - Pos Kupang
Pos Kupang
Harapan
Minggu, 24 Juli 2011 01:27 WITA
Share |

Puisi-puisi Mario F Lawi

Harapan

(Untuk Fr. Januarius Kalndija)

Wahai jiwa yang hendak berlayar,

Terimalah sepotong sesal dan sekerat

Doa sebagai tanda tobat dari palung

Hatiku yang paling dalam.

Lupakanlah

Sejenak tentang dendam dan kelam.

Dari negeri-negeri yang kau singgahi,

Kirimkanlah aku selembar cahaya,

Sekantong pelangi dan sebotol gerimis,

Untuk kutuliskan sebagai puisi kala

Mata belum tertutup pekat. Karena

Setelah ini, tak akan kau temukan lagi

Ceruk gelap yang menyimpan segala

Rahasia yang telah lama coba untuk

Kusembunyikan daripadamu. Segala

Daftar hitam yang ingin kukuburkan

Sebelum keberangkatanmu. Tancapkan

Juga tombak ini di ujung kapalmu agar

Di setiap pulau yang kausinggahi tak ada

Orang yang berusaha menolakmu atau

Merajammu dengan batu seperti yang

Mereka lakukan dulu terhadap para martir

Dan pahlawan imanmu. Tombak ini dulu

Pernah digunakan untuk membuka lambung

Langit ampun saat bumi haus akan rahmat.

Lalu, setelah kaulintasi negeri air, tetaplah

Sejenak di negeri pelangi, sebab, konon,

Di situlah kain perdamaian yang koyak

Dirajut dengan paku dan mahkota duri.

(Naimata, Desember 2009)

==================================================

 Nuh

Angin adalah angin itu juga

Yang membawamu menemukan

Pualam dalam kerasnya kayu

Bahtera. Sepasang hujan yang

Kautuntun ke dalam keselamatan

Kelak berkisah tentang leluhurnya.

Tentang kepak-kepak yang tiada

Kuasa melawan takdir. Tentang

Gelegar yang meneriakkan nada

Penghabisan dalam suara gemuruh

Langit dan desau angin Ararat

Yang menghembuskan desir dan

Anyir. Seperti awal mula ketika

Bumi diciptakan, engkau ingin

Membayangkan Roh Tuhan yang

Kudus melayang di permukaan

Air sambil mengawasi penuaiNya

Memisahkan ilalang dari gandum;

GembalaNya memisahkan kekambing

Dari dedomba. Dan Tuhan yang

Kaudengar namaNya dari nyanyian

 

Kehidupan dalam bahtera agungmu

Adalah jarak yang membentangkan

Kelengangan antara daratan dan

Lautan. Antara doa dan dosa purba.

(Nikiniki, Juli 2011)

==================================================

Fiat

Waktu-waktu kami yang letih telah

Kau jauhkan dari tanganmu yang putih.

Kami biarkan hablur cinta menjelajah

Mengenang saat kau biarkan kami tertatih.

Adakah yang lebih karib dari kematian

Ketika bahaya bergembira mengintai

Seperti malam yang penuh pengertian

Membiarkan sulur-sulur gelap menjuntai?

Engkau diam. Sedangkan kami terus bersandiwara

Memainkan sebuah skenario agung perjalanan tanpa

Ujung. Di lorong gelap dan buta, tangan-tangan lara

Dan sukacita bergandengan meniscayakan hampa.

Kegelapan yang terjal

Memaksa kami menanjak

Menelusuri lekuk ajal

Dalam malam yang menjejak.

Kepasrahan meminta kami mengalah

Agar dengan lapang kauselesaikan

Permainan skenario agung ziarah

Yang bagi kami telah kauciptakan.


(Naimata, Juni 2011)