Puisi-puisi Mario F Lawi
Harapan
(Untuk Fr. Januarius Kalndija)
Wahai jiwa yang hendak berlayar,
Terimalah sepotong sesal dan sekerat
Doa sebagai tanda tobat dari palung
Hatiku yang paling dalam.
Lupakanlah
Sejenak tentang dendam dan kelam.
Dari negeri-negeri yang kau singgahi,
Kirimkanlah aku selembar cahaya,
Sekantong pelangi dan sebotol gerimis,
Untuk kutuliskan sebagai puisi kala
Mata belum tertutup pekat. Karena
Setelah ini, tak akan kau temukan lagi
Ceruk gelap yang menyimpan segala
Rahasia yang telah lama coba untuk
Kusembunyikan daripadamu. Segala
Daftar hitam yang ingin kukuburkan
Sebelum keberangkatanmu. Tancapkan
Juga tombak ini di ujung kapalmu agar
Di setiap pulau yang kausinggahi tak ada
Orang yang berusaha menolakmu atau
Merajammu dengan batu seperti yang
Mereka lakukan dulu terhadap para martir
Dan pahlawan imanmu. Tombak ini dulu
Pernah digunakan untuk membuka lambung
Langit ampun saat bumi haus akan rahmat.
Lalu, setelah kaulintasi negeri air, tetaplah
Sejenak di negeri pelangi, sebab, konon,
Di situlah kain perdamaian yang koyak
Dirajut dengan paku dan mahkota duri.
(Naimata, Desember 2009)
==================================================
Nuh
Angin adalah angin itu juga
Yang membawamu menemukan
Pualam dalam kerasnya kayu
Bahtera. Sepasang hujan yang
Kautuntun ke dalam keselamatan
Kelak berkisah tentang leluhurnya.
Tentang kepak-kepak yang tiada
Kuasa melawan takdir. Tentang
Gelegar yang meneriakkan nada
Penghabisan dalam suara gemuruh
Langit dan desau angin Ararat
Yang menghembuskan desir dan
Anyir. Seperti awal mula ketika
Bumi diciptakan, engkau ingin
Membayangkan Roh Tuhan yang
Kudus melayang di permukaan
Air sambil mengawasi penuaiNya
Memisahkan ilalang dari gandum;
GembalaNya memisahkan kekambing
Dari dedomba. Dan Tuhan yang
Kaudengar namaNya dari nyanyian
Kehidupan dalam bahtera agungmu
Adalah jarak yang membentangkan
Kelengangan antara daratan dan
Lautan. Antara doa dan dosa purba.
(Nikiniki, Juli 2011)
==================================================
Fiat
Waktu-waktu kami yang letih telah
Kau jauhkan dari tanganmu yang putih.
Kami biarkan hablur cinta menjelajah
Mengenang saat kau biarkan kami tertatih.
Adakah yang lebih karib dari kematian
Ketika bahaya bergembira mengintai
Seperti malam yang penuh pengertian
Membiarkan sulur-sulur gelap menjuntai?
Engkau diam. Sedangkan kami terus bersandiwara
Memainkan sebuah skenario agung perjalanan tanpa
Ujung. Di lorong gelap dan buta, tangan-tangan lara
Dan sukacita bergandengan meniscayakan hampa.
Kegelapan yang terjal
Memaksa kami menanjak
Menelusuri lekuk ajal
Dalam malam yang menjejak.
Kepasrahan meminta kami mengalah
Agar dengan lapang kauselesaikan
Permainan skenario agung ziarah
Yang bagi kami telah kauciptakan.
(Naimata, Juni 2011)