Oleh Maria Matildis Banda
TAUFIK Ismail seorang penyair kenamaan Tanah Air menulis puisi yang sangat indah tentang Sumba. Sebuah kalimat mengesankan ditulisnya untuk Umbu di bawah judul Beri Daku Sumba.
“Di Uzbezkistan ada padang-padang terbuka. Aneh aku jadi teringat pada Umbu”. Mungkin, yang dimaksudkan Taufik adalah Umbu Landu Paranggi penyair kenamaan asal Sumba, sahabat karibnya dalam bersyair. Yang pasti, Beri Daku Sumba ditujukan buat Umbu di Sumba. Semua Umbu serta sanak saudaranya jauh maupun dekat dalam satu Sumba, pulau dengan seribu ekor kuda.
***“
Jadi ini puisi yang mau kamu kirimkan ke Sumba?” “Ya. Beri Daku Sumba ... Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka. Dimana matahari membusur api di atas sana. Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka. Dimana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga... Indah sekali bukan? Kalau saja orang-orang Sumba dapat memetik makna puisi ini...” Nona Mia menjelaskan dengan sangat serius.
“Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh... Sungguh luar biasa pilihan kata ini. Kalau saja orang Sumba mengerti betapa indah dan penuh berkatnya tanah leluhurnya. Kalau saja para peserta perang tanding bisa mengerti makna...”
“Memetik makna apa memetik parang?” Sambung Rara dengan enteng sambil tertawa terbahak-bahak.
“Aku serius!”
“Serius dengan dendam, perebutan tanah, angkat parang, dan bakar. Mana ada waktu buat memetik makna puisi? Susah amat mengerti apa yang kamu pikirkan, Nona Mia. Jaman sekarang ini jamannya hajar turut emosi berkedok apa saja!”
“Apa maksudmu!”
“Dimana-mana, tidak hanya Sumba! Pokoknya apa-apa marah. Dari yang dasi melintang sampai yang tidak pernah pakai dasi sama saja. Marah balas marah, dendam balas dendam. Dari pejabat yang paling besar sampai dengan pejabat yang paling keciiiil, semuanya baku ambil,” Rara menjentikkan ujung jempol dan telunjuknya. “Parang balas parang, caci maki balas caci maki, musuh balas musuh, curiga balas curiga, benar-benar menakutkan! Jadi, lebih baik kamu diam-diam saja. Tidak perlu repot kirim puisi. Tidak bakal mempan...”
“Betul Nona Mia, lupakan saja rencanamu,”sambung Jaki. “Sumba itu berdarah darah dan air mata. Puisi tidak dapat menyembuhkan mereka.”
“Tetapi pilihan kata ini bukankah bisa menyentuh jiwa...”
“Aduh! Sayangku Nona Mia...jangan ngelindur, jangan mimpi.”Rara memperkuat pen-dapat Jaki. “Biar saja perang tanding terus. Biar terkenal itu Sumba ke seantero jagat menjadi raja perang tanding. Perang tanding terus dari waktu ke waktu tidak mampu disetop bukan? Perang lagi, perang lagi. Bukan kuda Sumba dan pasola yang perlu dikenang tentang Sumba tetapi perang tanding, darah, dan air mata balas dendam. Hebat bukan?”
***
Ya. Ini perang tanding bukan apresiasi puisi. Dalam dua tahun terakhir perang tanding antarkeluarga merebak. Dalam dua tahun terakhir empat perang tanding terjadi. Dalam bulan Juni saja dua bencana perang tanding terjadi. Main tebas itu soal biasa dalam perang tanding. Apalagi disertai dengan bakar rumah.
Seakan-akan nyala api itu obat mujarab untuk membangkitkan semangat. Kata-kata damai jauh menggantung di langit. Tidak ada penyelesaian tuntas dari kasus ke kasus.
Sumba Barat sudah mekar menjadi tiga kabupaten, mestinya pelayanan kepada masyarakat kian meningkat, termasuk pembinaan mental spiritual bagi wilayah dan anggota masyarakat yang potensial untuk baku perang. Bagaimana musyawarah dan local genius yang sebaiknya dijadikan salah satu kunci perdamaian pulau savana itu. Apa yang terjadi sehingga pembunuhan demi pembunuhan mesti terjadi lagi?
“Aneh, seperti jaman barbar saja,” kata Benza. “Siapa yang salah?
“Aneh, aku jadi teringat pada Umbu,” Nona Mia membaca lagi kata-kata awal Beri Daku Sumba.
“Betapa luas ruang metaforis yang sanggup meneduhkan hati dan mendamaikan dunia Sumba yang terlalu berarti untuk dikenang. Bukan karena darah yang mengalir di bumi tetapi karena tanah tanpa pagar luas tak terbatas namanya Sumba... Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh...”
“Aduh! Nona Mia, lagi-lagi puisi. Susah amat sih kamu! Orang Sumba sudah biasa perang tanding! Puisi tidak berguna,” Rara sungguh bosan dengan kata-kata Nona Mia yang menurutnya tidak membumi, tidak bicara tentang Sumba yang sebenarnya.
***
“Orang Sumba yang mana? Jangan pukul rata...” Benza menengahi. “Lihat apa pemicu kasus ini. Tanaman coklat, perebutan tanah, utang piutang, rumah, kebun, perkawinan, belis, atau apa masalahnya?”
“Yang jelas bukan puisi solusinya, sungguh tidak relevan,” sambung Rara.
“Sangat relevan.
Masih terdengarkah gemuruh ribuan ekor kuda yang turun menggemuruh di kaki-kaki bukit dan ringkikannya saat merumput di padang terbuka? Kearifan ini berangsur-angsur punah akibat jual beli, pemborosan tak terkendali, penyakit yang tak tertangani, dan pembangunan ekonomi yang belum cukup jauh menyentuh kearifan gemuruh kaki kuda dan pasola yang menggetarkan!” Kata Benza sambil mengkerutkan kening.
“Wah, puisi lagi deh! Pusing!” Rara dan Jaki pasang muka empat lima.
“Percaya padaku!” Potong Benza dengan tegas. “Kembalikan Sumba pada kearifan kudanya! Bangkitkan kembali peternakan Sumba - yang kini hidup segan mati tak mau - kepada kejayaan masa lampau. Sumba akan menggemuruh dengan derap ribuan kaki kuda, pasola, dan keunggulan. Perang tanding tidak akan terjadi... sebab rinduku pada Sumba...”
“Ah, puisi lagi!”
“Beri aku sepotong daging bakar, bosanova, dan tiga ekor kuda! Beri aku tanah tanpa pagar luas tak terbatas namanya Sumba...Rinduku pada Sumba...” Nona Mia berpuisi lagi.
“...Adalah rindu seribu ekor kuda,” keempat sekawan akhirnya kompak untuk rindu Sumba dengan kuda-kudanya. *