39 Wartawan Bupati - Pos Kupang
Pos Kupang
Wartawan Bupati
Minggu, 5 Juni 2011 02:43 WITA
Share |

“SIAPA bilang wartawan tidak bisa jadi bupati?  Makanya kalau kamu mau jadi bupati, upayakan jadi wartawan lebih dulu. Dijamin oke. Kamu pasti menang”. Rara percaya seratus persen bahwa kata-kata Nona Mia benar. Karena itu untuk menjadi bupati dia belajar jadi wartawan dan benar-benar jadi wartawan.


“Buktinya di Flotim. Paket Sonata yang calon bupati itu, pernah jadi wartawan!”
“Ya.  Kemungkinan paket Sonata yang akan memimpin Flores Timur lima tahun ke depan, 2010 - 2015. Sonata nama paket Yoseph Lagadoni Herin-Valens Tukan berada di urutan pertama dengan mendulang sekitar 36% suara pemilih.”
“Syukurlah kemelut pilkada yang begitu runyam, alot, dan memprihatinkan akhirnya  selesai juga.

Dari waktu ke waktu berita pilkada Flotim yang kian lama kian membosankan selesai juga dengan hasil memuaskan,” Nona Mia menjelaskan panjang lebar. “Untung ada wartawan!” Maklum sebagai wartawan hidung Nona Mia kembang, sebab ikut menjadi bagian dari ziarah pilkada yang penuh gejolak itu.  


***


“Kalau begitu, aku mau jadi wartawan juga ah! Siapa tahu kelak aku jadi bupati dengan gaya wartawan.   Notes kecil, kamera kantor, bolpoin, tas punggung, jaket, motor, topi dalam helm, sepatu sandal yang tampaknya sepatu tetapi sandal. Bagaimana menurutmu?” Tanya Rara.


“Cocok!” Jawab Nona Mia.

“Apalagi kakimu itu. Koreng tidak tahu sembuh! Cocoknya pakai sandal sepatu biar kentara sandal tetapi sepatu, kentara sepatu tetapi sandal”
“Aku juga mau jadi wartawan ah,” sambung Jaki. “Penampilanku lebih oke. Notebook, kamera milik sendiri, alat rekam model terbaru, tas pinggang, tidak perlu jaket karena bebas angin, tidak butuh topi dan helm karena pakai mobil! Cocok jadi bupati bukan? Bagaimana?”


“Cocok!” Nona Mia. “Penampilanmu mirip Raulnya Krisdayanti eh maksudnya  Shahrukh Khan aktor ganteng asal India. Wah, nona-nona bisa tergila-gila lihat kamu.”


“Benar? Aku mau jadi bupati! Mau!” Jaki meloncat-loncat. “Tetapi bagaimana caranya agar bisa jadi wartawan   ya? Bagaimana caranya agar aku bisa menggunakan pengalaman, visi, etika, estetika kewartawananku waktu jadi bupati ya?” Jaki terdiam.


***


“Pertanyaan Jaki benar!” Kata Benza seperti biasanya selalu dengan tenang saat bicara. “Ada yang bisa dipelajari kembali. Aku bisa bacakan ini untukmu. Wartawan adalah seorang profesional, seperti bankir, akuntan, notaris, dokter, dokter gigi, bidan, guru, penyanyi, tukang sulap, tukang masak, tukang jahit,” kata Benza.

“Menurut buku  yang kubaca, sebuah pekerjaan bisa disebut sebagai profesi jika ada kebebasan dalam bekerja, ada panggilan dan keterikatan, ada keahlian, dan ada tanggung jawab yang terikat pada kode etik pekerjaan!”
“Aduh, berat juga ya jadi wartawan,” Rara kaget. 


“Memang kamu kira gampang jadi wartawan?” Sambung Nona Mia. 
“Kalau kamu cocok jadi bupati, Nona Mia!” Benza menyambung lagi. “Soalnya kamu wartawan. 

Sebagai bupati nanti, kamu harus gunakan benar roh kewartawananmu! Kamu pasti sanggup jadi bupati yang hebat. Bupati dua periode di kampungmu. Setelah itu kamu lanjut lagi dua periode di kabupaten pemekaran dari kampungmu. Pasti bisa kalau kamu renung dan laksanakan kewartawananmu itu dengan benar!”
“Apa saja Benza?” Jaki dan Rara berkilat dahi ingin segera tahu.


***


“Aku yang jawab,” Nona Mia yakin. “Jujur, wartawan harus jujur mencari dan mempublikasikan berita. Benar, meneliti kebenaran   berita atau keterangan sebelum menyiarkan. Istilah kerennya check and recheck.

Punya prinsip.jangan gampang percaya apalagi gampang marah akibat telinga tipis. Tahu mana fakta mana opini. Ini penting jangan campur aduk. Apalagi kalau pendapatmu sendiri kamu pastikan bahwa itu fakta. Jaga kepercayaan, jangan asal bunyi dan tahu menghargai sumber berita. Jaga rahasia, jangan publikasikan hal-hal yang sifatnya   off the record  atau for your eyes only.”


“Wah, kamu tahu semua,” Rara dan Jaki terkagum-kagum.
“Bukan hanya tahu semua, tetapi laksanakan semua.”


“Khusus untuk wartawan Indonesia, ada lagi etikanya,” kata Benza. “ Menghormati hak masyarakat untuk dapat informasi yang benar, etis dalam memperoleh dan menyiarkan informasi,  hormati asas praduga tak bersalah, tidak campurkan fakta dengan opini, berimbang, dan  meneliti kebenaran informasi, hindari   plagiat   dusta  fitnah  sadis dan sejenisnya,  tolak  suap dan tidak menyalahgunakan profesi, berani mohon maaf kalau keliru, dan melayani hak jawab.” Benza memberi penjelasan dengan yakin dan pasti. “Jadi kelak kalau engkau jadi bupati, jadilah bupati dengan berpegang teguh pada roh, visi misi, dan kode etik kewartawananmu!”


***


“Aduh! Pusing aku!” Rara dan Jaki bicara bersamaan. “Aku tidak mau jadi bupati, ah! Ternyata terlalu berat syarat-syaratnya. Aku mau jadi wartawan saja!”
“Daripada   mimpi  mau jadi bupati, lebih baik kita ke Larantuka saja! Ketemu Sonata! Ucap selamat! Mudah-mudahan jalan ke depan lempang adanya.

Mudah-mudahan cita-citanya membuat Larantuka menjadi kota ziarah rohani internasional bisa terwujud. Mudah-mudahan janji bea siswa untuk guru berbagai bidang studi tidak hanya janji. Luar biasa kalau bisa sekolahkan perawat dan bidan professional 40 orang tiap tahun,” ajak Nona Mia.

“Ayo, kita berangkat sekarang.” *