LARANTUKA, pos-kupang.com–– Gagal panen jagung di beberapa wilayah di Kabupaten Flores Timur (Flotim) memicu kenaikan harga jagung pipilan dan jagung titi. Jagung pipilan yang biasa dijual Rp 500/bulir kini naik menjadi Rp 1.000/bulir. Jagung titi naik menjadi Rp 15 ribu per mok bekas kaleng mentega ukuran 1 kg. Biasanya, jagung titi seharga Rp 10 ribu/mok.
Ina Tuto, penjual jagung titi asal Adonara Barat , di Pasar Inpres Larantuka, Senin (23/5/2011), mengatakan, tahun ini banyak petani gagal panen jagung. Stok jagung pipilan menipis sehingga harga naik.
“Jagung titi memang tambah mahal. Selain karena harga jagung naik, juga karena tukang titi jagung sudah mulai berkurang,” katanya.
Tuto mengatakan, kalau hasil panen jagung baik, jagung dijual Rp 5 ribu/20 bulir. Namun tahun ini panen jagung menurun jauh sehingga jagung menjadi mahal, 10 bulir dijual Rp 10 ribu.
Anggota DPRD Flores Timur (Flotim), Frans Krowe meminta pemerintah untuk meningkatkan kinerjanya di bidang pertanian dan perkebunan. Sebab saat ini, petani mengeluh gagal tanam dan gagal panen.
“Semestinya pemerintah bisa memberikan alternatif kepada masyarakat menyikapi kondisi iklim yang ekstrim tahun ini. Kalau hujan terus, petani harus buat apa, kalau hujan kurang harus bagaimana, itu yang dibutuhkan petani dari pemerintah. Nyatanya pemerintah tidak ada sikap, tidak buat apa-apa. Masyarakat petani dibiarkan bingung sendiri,” kritiknya.
Anggota dewan lainnya, Yohanes Ola Tobi mengatakan, mesin pembuat emping jagung titi yang dikelola di Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, ternyata tidak produktif. “Ini karena lemahnya tenaga pendamping di masyarakat,” katanya.
Menurut dia, DPRD Flotim sudah mengingatkan pemerintah agar meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Dia menilai sejumlah program pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian tidak jalan seperti paronisasi, pengadaan ternak dan pembentukan kelompok yang bersifat dadakan dan hanya karena kedekatan.