261 Kame Ata Lebalú - Pos Kupang
Pos Kupang
Kame Ata Lebalú
Sabtu, 14 Mei 2011 23:07 WITA
Share |

WAIBALUN. Banyak orang tahu dan kenal nama kelu-rahan di Larantuka itu. Dari dulu, bahkan sebelum nege-ri ini mereguk madu kemer-dekaannya, orang-orang Waibalun telah jauh melang-lang buana. Ke Manggarai, ke Ngada, ke Ende, ke Sumba, ke Alor, ke Timor, ke Bima, ke Makassar, bahkan ke tanah Jawa.


Saat ini ada yang telah lebih dari 30 tahun menetap di Australia. Yang lain telah kembali ke Indonesia sete-lah berpuluh tahun meng-hirup udara di tanah Jer-man. Yang lain lagi seka-rang bersuamikan orang Jerman dan Inggris. Menetap di benua tua itu.


Mereka ke mana-mana menjalankan profesi seba-gai guru sekolah rakyat, guru agama, dan juga tu-kang kayu dan batu. Selain dua profesi itu, sebetulnya ada yang lebih kuat menci-rikan Waibalun, yakni roha-niwan Katolik. Sangat boleh jadi, di dunia ini jumlah rohaniwan/wati paling banyak dari Waibalun.


Dulu, hampir saban tahun pasti ada orang Waibalun yang ditahbiskan jadi imam/pastor. Yang masuk suster, jangan tanya lagi. Lebih ba-nyak jumlahnya.  Jika diga-bung dengan tiga kelurahan lain (Lewolere, Pantai Besar dan Lamawalang), rekor jumlah rohaniwan terbanyak dalam satu paroki dipecah-kan Paroki  St. Ignatius Wai-balun. Uskup  pertama putra Flores dari Waibalun. Imam kedua dari Nusa  Tenggara salah satunya dari Waibalun.


Gerangan apa yang me-nyuntik dan melecut se-hingga orang Waibalun ada di banyak tempat? Banyak suntikannya. Tetapi satu hal yang selalu disebut-sebut orang Waibalun sebagai sumber utama kekuat-annya, yakni  iké-nya.


Dalam tradisi Lamaholot, iké itu boleh dimengerti se-bagai ‘iman kedua’ setelah iman pertama kepada Yang di Atas, kepada Lera Wulan Tana Ekan. Ike itu merupa-kan kekuatan diri, potensi dalam diri (ada pada semua manusia) yang memampu-kan orang  untuk percaya di-ri, yakin akan dirinya sendiri.


Nah, orang Waibalun itu yakin dan merasakan benar kalau iké-nya sungguh kuat. Bahkan dalam aktivitas negatif pun, mereka sangat yakin akan kekuatan dirinya. Dalam urusan berkelahi, misalnya, orang Waibalun tidak kenal istilah mundur. Aparat keamanan sepertinya sungkan menertibkan anak-anak nakal dari Waibalun.  Judi kartu, tak heran, jadi pemandangan biasa di Waibalun. Tidak takut ditangkap? Polisi tak bakalan menangkap. Bukan tidak berani, tetapi sungkan.


Iké itu dijaga dan dipelihara mati punya. Bagaimana memeliharanya? Mereka yang di kampung tentu saja menimbah iké itu setiap hari, mengasahnya hari demi hari. Buat mereka yang di rantau harus pulang kampung. Sama seperti orang-orang Lamaholot lainnya, orang Waibalun juga akan pulang kampung secara periodik. Balik lewo, gute iké kewa’at. Begitu alasannya kalau ditanya untuk apa pulang kampung.
Sekarang pulang kampung sudah menyatu dengan  tradisi semana santa pada Hari Raya Paskah. 

Jangan kaget Kota Larantuka dan sekitarnya semarak pada Hari Paskah. Orang Larantuka menyebutnya hari bae. Hari berkumpul bersama keluarga besar.  Pada hari bae inilah iké diasah. Biar makin kuat, makin tajam, makin peka dan makin handal. Bahasa rohaninya minta berkat  dari orangtua, dari leluhur. Minta bensa, kata orang Larantuka. Kuburan ramai seperti pasar malam. Terang benderang oleh nyala ribuan lilin.


Di Waibalun, pada hari Minggu Putih (hari Minggu setelah Hari Raya Paskah), warga seisi kampung meng-gelar sebuah acara yang disebut tuno wata nabent (bakar jagung mudah). Jagung muda yang dibakar tidak ada istimewanya. Dia hanya wahana saja. Yang utama adalah pesan di baliknya, yakni kumpul bersama sesuku di lango bele (rumah suku).


Masing-masing suku menggelar tuno wata nabent di lango bele-nya masing-masing-masing. Terlihat di situ semua sama. Tidak ada strata sosial. Tidak ada pejabat eselon dan karena itu duduk menurut urutan eselonering. Semua sama. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Dalam even ini dibicarakan banyak hal terkait dengan suku. Apa yang bisa dilakukan untuk kepentingan bersama. Tentang hajatan, tentang tanah suku, tentang perjalanan kampung ke depan dan lain-lain.


Tetapi lebih jauh dari itu, dengan tuno wata nabent setiap orang Waibalun se-betulnya juga mau meng-asah dan mengisi kembali iké-nya. Itu sebabnya, pada Hari Raya Paskah, banyak orang di tanah rantau kem-bali ke kampung menimba kekuatan kampung sehing-ga lebih kuat lagi meniti hidup di tanah rantau. Kena-ngan akan keutamaan kam-pung saat pergi dari kam-pung sekarang dikenang kembali, dipertajam lagi, di-isi kembali, di-charge ulang.


Sama seperti orang Lamaholot umumnya, orang Waibalun juga percaya betapa penting dan kuatnya iké dari kampung ketika berada di rantau. Mereka percaya kekuatan kampung, kekuatan leluhur ada di belakang mereka. Bukan kebetulan sejarah atau karena sudah suratan nasib semata kalau orang yang jarang pulang kampung, (maaf) lebih banyak tidak sukses merenda hidup.


Iké, kekuatan kampung itu akan selalu menyertai mereka yang dengan setia kembali ke Waibalun menimbanya, mengasahnya.  Dan orang Waibalun, di mana pun berada dan menata kariernya, selalu dengan bangga mengatakan, “Kame ata Lebalú” (Kami orang Waibalun).


Tuno wata nabent tahun ini juga sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Banyak yang pulang kampung mengikutinya. Yang di rantau juga memantau dan mengikutinya dari jauh lewat facebook. Jika tahun ini tidak bisa pulang kampung, tidak bisa balik lewo, mereka berharap tahun depan bisa menunaikan ‘nasar’-nya pulang kampung.
Tahun ini mereka yang tidak bisa pulang kampung mengirim cerita lucu kepada sesamanya di kampung. Ceritanya begini:


Ada seorang pastor meninggal di dunia.


Di pintu surga, malaikat bertanya: “Apa pekerjanmu?”


Jawab pastor, “Melayani umat di Waibalun.” Dia dipersilahkan masuk.
Lalu datang lagi tiga orang.


Malaikat bertanya, “Apa kerja kalian.”


Jawab mereka, “Kami anggota koor di Gereja Waibalun.”
Lalu malaikat meminta mereka menyanyi.
Mereka pun menyanyi:


“Tite Ana-ana Waibalun,


Tite wi de’in te eret, Dore perentah bapak kepala, Jaga aturan adat Waibalun”
Saking kagumnya dengan lagu itu, malaikat berkata: “Eman tilu. Lagu pali mae jaha wali....”


Dan anggota koor itu pun masuk surga. *