BORONG, FloresStar –– Warga perbatasan Kabupaten Ngada dan Manggarai Timur di Wae Bakit, Desa Wae Rasan, Kecamatan Elar, hingga kini menagih janji pemerintah untuk menyelesaikan masalah tapal batas di wilayah itu. Sebab masalah itu sudah lama tapi belum juga diselesaikan.
Kemelut pagar dan gali jalan di wilayah perbatasan itu hingga kini tidak ada penyelesaian yang jelas. Padahal pemerintah dan aparat terkait sudah sering mendatangi lokasi itu dan menjanjikan upaya penyelesaian.
“Sudah sering pemerintah datang lihat lokasi perbatasan ini, namun sampai sekarang tidak ada penyelesainya. Kami mengharapkan lebih cepat lebih baik. Sebab jalur ini sangat penting bagi kami untuk distribusi komoditi ataupun kebutuhan lainnya,” ujar Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Wae Rasan, Damianus Raeng di Kampung Bakit, Kamis (5/5/2011).
Dia dikonfirmasi terkait harapan masyarakat menyusul masalah pemagaran dan gali jalan raya di wilayah itu. Dia menjelaskan, pagar berikut gali badan jalan propinsi di Wae Bakit dilakukan oleh warga Kampung Misin dan Leson, 21 April 2010. Mereka melakukan hal itu dengan tujuan memindahkan tapal batas dua kabupaten itu dari batas semula Wae Bong ke Wae Bakit.
Dia mengatakan, pagar berikut gali badan jalan mengakibatkan jalur transportasi lumpuh total. Padahal, warga Wae Rasan sangat membutuhkan jalan itu untuk distribusi komoditi dan kebutuhan sembako di Lindi atau Bajawa, Kabupaten Ngada.
“Sudah setahun lebih ini belum ada titik terang penyelesaian masalah itu. Kami mengharapkan secepatnya ada titik temu sehingga kami diperbatasan tidak dirugikan terus-menerus,” katanya.
Dia mengatakan, situasi warga anak kampung Misin, Leson dan Bakit aman dan baik-baik saja. Hanya saja butuh intervensi dari pemerintah sehingga masalah ini tidak berlarut-larut.
“Saat Musrebang beberapa waktu lalu, saya omong habis-habisan. Saya harap pemerintah bisa sikapi lebih serius. Sebab kami kuatir masalah ini bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Dia mengemukakan, tingkat kesulitan menyusul kejadian itu sangat tinggi baik dari segi pemasaran komoditi maupun akses lainnya. Masyarakat yang bepergian harus jalan kaki menuju Desa Benteng Tawa agar bisa naik kendaraan. (lyn)
Sumber : FloresStar