TEROBOSAN dilakukan KONI Propinsi NTT dengan menetapkan sejumlah cabang olahraga (cabor) untuk mengikuti Pelatda pra PON dan PON XVIII 2012. Ada delapan cabang olahraga yang direkomendasikan mengikuti pra PON XVIII dimana lima di antaranya adalah cabang olahraga beladiri, yakni tinju, kempo, taekwondo, pencaksilat dan karate. Tiga cabang lainnya adalah atletik sepaktakraw putri dan catur.
Ada beberapa pertanyaan yang muncul melihat penetapan cabor ini. Pertama, mengapa cabang olahraga yang bersifat individu lebih mendominasi dibanding beregu? Kedua, mengapa cabang olahraga beladiri yang menjadi prioritas kekuatan olahraga di propinsi NTT dibanding olahraga permainan? Apakah karakter masyarakat NTT adalah karakter yang individu dan juga memiliki karakter yang keras (suka berkelahi?).
Mike Tyson menjadi seorang petinju yang terkenal, tidak pernah ada yang berpikir bahwa Tyson adalah seorang yang nakal, galak dan suka berkelahi sejak masa kecil sampai remaja. Hal ini menunjukan bahwa, karakter yang telah terbentuk sejak kecil memberikan dampak yang positif untuk perkembangan karakter olahraga yang akan ditekuni setelah dewasa.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa jika ingin melihat karakter masyarakat sebuah daerah maka kita melihat dari cabang olahraga yang menjadi unggulannya (individu atau beregu). Pendapat demikian menurut saya dapat diterima dan juga perlu untuk dikaji secara ilmiah melalui sebuah pendekatan psikologi latihan. Psikologi adalah gejala jiwa yang diselidiki dari segala tingkah laku dan pengalaman manusia (Kohnstam, 1951). Jika demikian maka gejala jiwa masyarakat NTT dalam berolahraga lebih berorientasi pada olahraga yang bersifat individu.
Berkaitan dengan konsep psikologi kepelatihan tersebut, saya berpendapat bahwa cabor yang dipersiapkan oleh KONI NTT adalah cabang olahraga yang bersifat individu sehingga pendekatan psikologi merupakan sebuah pendekatan yang sangat istimewa dan penting untuk dilakukan dalam Pelatda Pra PON jika prestasi merupakan tuntutan utama. Proses interaksi yang terjadi dalam konteks pelatihan adalah pelatih dan atlet. Gejala-gejala yang timbul sebagai akibat perlakuan yang diberikan oleh pelatih adalah gejala yang bersifat individu sesuai dengan perubahan dalam kapasitas kecabangan yang ditekuni.
Jika demikian maka seorang pelatih harus juga dapat bertindak sebagai seorang psikolog dalam proses pelatihan. Untuk itu saya menyarankan agar dalam proses pelatihan pendekatan yang dilakukan harus berorientasi juga pada jenis kelamin setiap atlet. Mengapa, sebab pendekatan yang dibangun dalam sebuah proses pelatihan harus memahami jiwa baik atlet tersebut sebagai wanita ataupun pria, sehingga psikologi kepelatihan mendapatkan tempat yang tepat sesuai dengan koridornya. Jika salah dalam menerapkan psikologi kepelatihan maka sebagus apapun proses pelatihan yang dilakukan, sebaik apapun program tetap menyebabkan kerugian yang berakibat kegagalan meraih prestasi.
Untuk itu saya ingin memberikan beberapa pendekatan dalam kaitannya dengan psikologi kepelatihan dalam hubungannya dengan cabang olahraga yang bersifat individu. Pertama, pendekatan individual perlu karena adanya individual differences yang menuntut pemahaman tingkahlaku tiap-tiap individu agar perlakuan-perlakuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, sifat-sifat dan kemampan atlet yang harus dikembangkan. Berarti seorang pelatih tidak semata-mata menggunakan konsepnya dalam proses pelatihan, tetapi lebih daripada itu adalah mengadakan pendekatan dengan atletnya untuk menentukkan target yang akan dicapai (keinginan atlet bukan keinginan pelatih) sehingga muncul konsep coaching is art.
Kedua, pendekatan sosiologik perlu dilakukan karena perkembangan pribadi, sikap dan aspirasi atlet tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kehidupan sosial, adat istiadat dan kebudayaan masyarakat dimana individu hidup dan berkembang. Jika demikian maka apa yang dikatakan oleh Ketua Harian KONI NTT, Ir. Esthon Foenay, M.Si, saat pembukaan Pelatda Pra PONXVIII bahwa keterlibatan orang tua dan lingkungan sekitar atlet dapat berpengaruh prositif terhadap peningkatan prestasi atlet tersebut adalah benar adanya.
Ketiga, pendekatan interaktif penting dilakukan sebab dalam proses pelatihan adanya interaksi antara anggota satu kelompok. Sifat-sifat dan motivasi, sikap dan pandangan individu yang mendominasi dalam kelompok akan berpengaruh terhadap anggota-anggota kelompok tersebut. Dalam proses pelatihan tentu atlet tersebut tidak berlatih sendiri, ada pelatih, teman latihan, teman sparing, psikolog, dokter, masseur, ahli gizi bahkan ada orang tua, pacar, teman, sahabat, suami/istri serta anak yang tentu memberikan kontribusi yang positif dalam peningkatan prestasi atlet tersebut. Untuk cabang olahraga beregu tentu hal ini membutuhkan pendekatan interaktif antara pasangan atau kelompok jika ingin meraih prestasi yang maksimal.
Keempat, pendekatan sistem. Berhasilnya pembinaan atlet dalam pelatda tidak terlepas bakat kemampuan atlet dan keahlian pelatih saja. Untuk mencapai prestasi tinggi harus ada perencanaan yang baik dan upaya pembinaan secara sistematis, berbagai faktor perlu diperhatikan. Prestasi atlet merupakan hasil sistem pembinaan yaitu keterpaduan antara komponen-komponen sebagai suatu kesatuan yang ditujukan untuk menghasilkan prestasi atlet yang setinggi-tingginya.
Kelima, pendekatan multi-dimensional. Era baru keterlibatan olahraga menuntut berbagai disiplin ilmu. Ilmu-ilmu yang langsung dapat dimanfaatkan memacu meningkatkan prestasi atlet dapat dikelompokan dalam ilmu-ilmu medik seperti fisiologi olahraga, biomekanika olahraga, antropologi dan sebagainya. Ilmu kepelatihan meliputi keterampilan teknik, taktik, strategi pertandingan, penyusunan program latihan. Dan, psikologi yaitu psikologi pendidikan, keperibadian, olahraga, kepelatihan, mental training dan lainnya.
Saya memiliki satu keyakinan yang kuat bahwa jika psikologi kepelatihan ini diterapkan dalam proses pelatihan Pelatda Pra PON, maka niscaya ada sebuah harapan besar untuk Propinsi NTT meloloskan atlet berprestasi yang berkualitas untuk berlaga di PON XVIII 2012 di Pekanbaru-Riau. Selamat berjuang! Percayalah bahwa tidak ada prestasi yang dapat diperoleh jika hanya mengandalkan pengalaman dan bakat alam, tetapi faktor psikologi kepelatihan dan pendekatan ilmiah dengan mengandalkan iptek mungkin akan lebih tepat untuk meraih prestasi maksimal. (Pemerhati Olahraga, Dosen Penjaskes-Or, Wakil Dekan I FKIP-UKAW Kupang)